Sin 09 : Inside The Mirror

10.2K 1.3K 202
                                        

[ G i l b e r t ]

.

.

Saat aku kembali ke rumah, aku mendapati An-Hee telah menunggu di ruang kerjaku. Ia berdiri di depan jendela ruanganku, menatap ke luar jendela. Namun saat aku masuk ke dalam ruangan, An-Hee menoleh ke belakang, menatapku sesaat sebelum ia membalikkan tubuhnya.

"Apa kau sudah memberi tahu Riley?" tanyaku seraya melepaskan mantelku. Seorang anak buahku bergegas mengambil mantelku dan menggantungnya, sementara aku menghampiri An-Hee.

"Riley telah melacak dari mana pesan itu dikirim," jawab An-Hee seraya menatapku gelisah. "Dan dari mana pesan itu dikirimkan?" tanyaku lagi. "Amerika..." Aku mengernyitkan alisku ketika aku mendengar jawaban An-Hee. Melihatku tampak heran, An-Hee menganggukkan kepalanya. "Kau bisa bertanya pada Riley untuk lebih jelasnya."

"Bagaimana bisa..."

"Entahlah," balas An-Hee lemah. "Gil... aku sungguh tak mengenalnya."

Aku mengamati sorot matanya dan tak menemukan adanya kebohongan dari sorot matanya. An-Hee membuka langkahnya-satu langkah lagi dan ia menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya meski kain dari kemeja putihnya menghalangi.

An-Hee mengistirahatkan kepalanya di dadaku, perlahan-lahan melingkarkan lengannya di pinggangku, memelukku.

"Aku tak membutuhkan yang lainnya... hanya dirimu yang aku inginkan..." ujar An-Hee. Aku tak sanggup menahan diriku untuk tidak memeluk balik tubuh rapuh cintaku. Aku memeluk An-Hee kemudian membawa wajahku mendekat ke wajahnya dan melumat bibirnya. An-Hee memejamkan matanya, menikmati ciuman kami.

Tok tok tok!

Bunyi ketukan pintu menyudahi ciuman kami. Aku melepaskan An-Hee dan berbalik ke arah pintu.

"Masuklah."

Pintu pun terbuka, Riley dan Ian muncul. Riley berjalan menghampiriku dengan membawa laptopnya, sementara Ian berhenti untuk menutup pintu lebih dahulu sebelum menyusul Riley. "Boss, coba lihatlah." Riley menyodorkan laptopnya ke arahku. "Apa ini tentang si pengirim pesan?" tanyaku menatap Riley, sebelum aku mengalihkan tatapanku ke layar laptop. "Ya, Boss," jawab Riley.

Riley menjelaskan tentang informasi yang ia terima mengenai si pengirim. Seperti yang An-Hee katakan, pesan itu dikirim dari Amerika dan tinggal di New York. Semakin jauh Riley menyelidiki tentangnya, Riley mendapatkan informasi lewat data base perusahaan seluler yang digunakan si pengirim bahwa pengirim ini seorang pria bernama Christopher King, berusia 41 tahun dan seorang taksidermi.

Aku melirik ke arah An-Hee sekilas untuk melihat ekspresi macam apa yang ia buat setelah mengetahui informasi seperti ini. Menyadari tatapanku, An-Hee menatapku balik bingung.

"Apa kau pernah berkenalan dengan seseorang sesuai data ini?" tanya Ian, An-Hee mengernyitkan alisnya dan menatap Ian tajam. "Harus berapa kali aku bilang? Aku tak mengenalnya! Kenapa kalian terus saja menanyaiku seolah aku menyembunyikan kebenarannya dari kalian?!" jawab An-Hee marah.

Ian pun menggaruk-garuk belakang kepalanya dan bergumam pelan, "kau tahu, asap takkan muncul jika tak ada yang menyulut api."

"Lalu dengan cara apa aku harus meyakinkan kalian?" An-Hee bertanya dengan wajah kesal sembari melipat tangannya ke depan dada. "Apapun yang akan kau lakukan tak akan menjamin kepercayaanku," jawabku seraya berjalan menghampiri kursi kerjaku dan duduk.

"Jangan menyalahkan orang lain bila mereka tak dapat mempercayaimu. Kau yang membuat mereka kehilangan rasa percaya mereka untukmu, bocah." An-Hee perlahan mengurai tangannya dan membuang mukanya dariku. "Aku tak mengijinkanmu mengundang orang asing namun kau mengundangnya, aku dan sifatmu yang selalu ingin tahu membuatku muak mendengar jawaban aku tak mengerti darimu, An-Hee." Dengan kesal aku menggebrak meja dan membuat An-Hee dan Riley terperanjat kaget.

SINFUL -The Hereafter- [ 3 ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang