Sin 19 : Last Predicament

9.8K 1.3K 320
                                        

[ A u t h o r ]

.

.

Gilbert menatap layar ponselnya yang menampilkan sinyal dari alat pelacak An-Hee. Sinyal itu diam di suatu tempat sudah cukup lama.

"Boss?"

"Ada apa?"

"Sejak kita ke New York sampai dengan hari ini, kau belum benar-benar mengambil istirahat. Apa kau baik-baik saja?" tanya Riley seraya memandang ke arah Gilbert dari kaca spion dalam mobil. Gilbert hanya menghela napas lalu mengambill rokok dan menyulutnya.

"Apa yang sebenarnya ia inginkan..."

"Siapa?"

"An-Hee."

"Apa ada yang mengganggumu, Boss?"

Gilbert menurunkan kaca jendela mobil dan menghembuskan sisa asap rokok itu keluar jendela. Ia tak memberi Riley jawaban dan hanya memandang keluar jendela. Ia mulai menyadari tak seharus ia terlibat lebih dalam dengan yang namanya cinta. Namun bertemu dengan pemuda yang memikat hatinya, tak mudah untuk tak jatuh hati. Setelah sekian tahun lamanya, ia baru menyadari ini tak semudah yang ia pikirkan.

"Boss, kelihatannya An-Hee tidak lagi berpindah tempat," Riley memberi tahu. "Xing dan yang lain akan segera kuberi tahu bila Boss yakin untuk menjemput An-Hee."

Gilbert menatap kembali layar ponselnya sessat, kemudian ia menatap Riley dengan pasti.

"Kita jemput An-Hee pulang."

"Roger, Boss!" Riley pun mengetik pesan kepada Ashton sebagai pemberitahuan mereka akan siap berperang serta menjemput An-Hee. Usai mengirimkan pesan, mobil pun meninggalkan tempatnya, melaju pergi ke tempat dimana An-Hee berada.

Sementara yang lain sedang dalam perjalanan, Ian yang lebih dulu mengikuti An-Hee telah memantau gedung tua dimana An-Hee dibawa. Ia bersembunyi di atap apartemen lain yang dekat dengan gedung itu. Menggunakan teropong untuk melihat situasi gedung dari luar.

"Hanya tiga orang penjaga...? Apa ia meremehkan kami? Atau ini jebakan?" gumam Ian. Sesekali ia menatap ponselnya dan memastikan An-Hee masih tetap di dalam gedung-Ya, Jeremy membopong An-Hee bersamanya naik sampai ke atap gedung tua itu. Begitu ia tiba di atap, ia mengikat tangan dan kaki An-Hee lalu mendudukannya di kursi yang telah ia persiapkan-kursi yang ia letakkan di pinggir atap-satu dorong, An-Hee akan jatuh dari atap gedung tua itu dan mati.

Jeremy meluputkan tembakannya ke bagian yang tidak vital, hingga tak sampai membahayakan nyawa An-Hee. Namun tidak hanya menembak An-Hee, Jeremy menyuntikkan obat ke dalam tubuh An-Hee membuatnya tak sadarkan diri.

Jeremy berlutut di depan An-Hee dan membelai pipi An-Hee dengan lembut. "Malangnya dirimu... tapi sebentar lagi aku akan mengakhiri semuanya dan membebaskanmu dari tangan pria keji itu. Tapi sebelum itu, aku harus membunuh akar dari kekejian yang menghasutmu." Jeremy kemudian mengambil tangan An-Hee dan mengecup punggung tangan An-Hee.

Pada sisi lain gedung, Viktor sedang bersembunyi, mengintai. Ia tak benar-benar kembali ke Moskow meski ia mendengar Gilbert memerintahkannya untuk kembali. Namun sekarang ini hatinya telah dikuasai hasrat yang lebih besar. Ia menginginkan buah yang lebih manis daripada apa yang telah ia miliki.

Dalam kesabaran Viktor menunggu di persembunyiannya, ia tak memiliki persenjataan, tak juga ia punya perlindungan. Meski begitu ia yakin bahwwa ia akan mendapatkan kesempatan, seperti seekor anjing hutan yang mencuri daging buruan sang raja hutan.

・・・・・

Mobil Gilbert berhenti di depan gedung tua itu. Ia mengarahkan pandangannya ke gedung dan melihat tiga orang pria bertampang garang dengan senjata api berjaga di depan pintu.

SINFUL -The Hereafter- [ 3 ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang