Kami bertiga berhenti di bawah pohon beringin besar yang menandai pintu masuk desa. Kemudian Natsu menggigit sedikit ujung ibu jarinya hingga berdarah dan mengoleskan darahnya diantara mataku.
"Ini untuk melindungimu," gumamnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk.
"Nah, selanjutnya Hana. Kemarilah!" ujar Natsu sambil melambaikan tangannya ke arah Hana yang sedari tadi hanya memperhatikan.
Hana mengangguk namun pikirannya masih tidak dapat memahami apa yang dilakukan oleh Natsu. Ia berjalan dengan tergesa menghampiri Natsu dan karena sikapnya yang ceroboh itulah, ujung kakinya pun tersandung akar pohon. Lalu...
BRUK!
A--aku tidak dapat mempercayai ini. Kini Hana sukses mendarat di atas badan Natsu yang terlentang. Wajah mereka sangat dekat. Kurasa hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Dan entah kenapa untuk beberapa saat mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Bukannya malah langsung bangkit berdiri dan saling meminta maaf.
Bersamaan dengan terjadinya pemandangan itu, perasaan sakit yang aneh mulai menjalar di dalam diriku. Dan rasa sakit itu semakin terasa begitu aku menyadari bahwa wajah mereka berdua sama-sama merona.
"Ekhem!" Aku berdehem pelan. Berusaha menyadarkan mereka berdua.
"Ah! Maafkan aku Natsu," ucap Hana tersentak kaget. Kemudian ia langsung bangkit dari atas badan Natsu.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak keberatan kalau seorang gadis cantik jatuh di atas badanku," balas Natsu sambil menggaruk kepalanya yang kutahu tidak gatal.
Wajah Hana langsung merona merah kembali begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Natsu.
Uh, apa-apaan dengan suasana ini?
"Jangan terlalu dengarkan dia, Hana. Dia itu tukang gombal," ucapku spontan.
Are? Kenapa aku mengatakannya?
"Hee? Kau jahat sekali mengataiku begitu," cibir Natsu sambil pura-pura menangis.
❄
Setelah selesai dengan segala urusan tentang menyamarkan bau darah kami, maka kami pun langsung memasuki kawasan desa.
"Portal yang dibicarakan Varghna kemarin...," Aku menjeda kalimatku, membuat Hana dan Natsu menoleh. "Kenapa tidak berpengaruh padaku dan Hana? Bukankah kami penyusup?"
"Itu karena kalian masuk bersamaku. Sederhana, kan?" balas Natsu.
"Wah, Natsu! Kau penyelamat kami!" seru Hana girang. Dan tanpa bisa kucegah, tiba-tiba ia memeluk lengan Natsu.
DEG DEG. Uhh, rasa sakit aneh itu muncul lagi. Dan disetiap kemunculannya kenapa aku selalu mengingat ucapan Hana tentang perasaannya terhadap Natsu?
Padahal, kan.., bukan urusanku.
Aku menoleh ke arah mereka. Diperlakukan seperti itu oleh Hana, kulihat Natsu malah santai-santai saja. Dia tidak terlihat marah ataupun merasa risih. Ia membiarkan Hana memeluk lengannya sesuka hati.
"Yuki?" tanya Natsu. Sepertinya ia sadar bahwa sedari tadi aku memperhatikannya. Gawat.
"A--ada apa?" balasku sembari mengalihkan wajahku darinya. Kenapa aku merasa kesal, ya?
"Mungkin belum terlambat mengatakan ini..," Natsu menjeda kalimatnya. "Tapi entah kenapa aku bisa mendengar isi kepalamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mirror
Fantasy[ Fantasy, Adventure, Magic & Minor Romance ] Mirror S1 + S2 Tadinya aku berpikir, negeriku begitu membosankan. Tadinya..., kupikir kedamaian di negeriku begitu memuakkan. Aku berharap terjadi kejahatan agar aku bisa menjadi seorang pahlawan seperti...
