Aku ditarik paksa oleh pelayan pribadiku--Noel ke arah ruang bawah tanah istana. Dia bilang sudah berjam-jam yang lalu semua orang diungsikan kesana dan hanya aku yang bersikeras untuk tidak diungsikan.
Berkali-kali aku membentak Noel. Menolak untuk diungsikan dengan alasan aku harus ikut berperang. Namun Noel sama sekali tidak menggubris bentakanku.
"Keselamatanmu adalah yang terpenting. Kita semua tahu, kerajaan kita terhitung masih baru berdiri dan karena itulah, kekuatan persenjataan kita masih kalah dari Kerajaan Troxe," ujarnya diiringi oleh hembusan nafas kasar.
"Ayolah, Noel! Izinkan aku ikut!" paksaku.
"Tidak, Tuan Putri!" Untuk pertama kalinya Noel berani melemparkan bentakannya kepadaku.
Mataku terbelalak lebar. Aku sangat terkejut dengan sisi tersembunyi yang baru saja Noel tunjukkan kepadaku. Tapi kenapa? Kenapa dia begitu bersikeras?
"Dasar bodoh! Aku akan melindungi kerajaan ini! Kau harus percaya!" balasku nanar.
"Maaf. Aku tidak percaya kepadamu," balasnya dingin. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti.
"A--apa? Kumohon, kau harus percaya," ujarku memelas.
Noel terdiam. Surai coklatya yang agak bergelombang itu melambai-lambai ditiup angin dari luar jendela. Sedari tadi ia tidak berani berbalik ke arahku. Sekarang yang bisa kutatap darinya hanyalah punggungnya yang tegap.
"Maafkan aku. Tapi aku tidak sanggup jika harus melihatmu mati," ujarnya dingin.
DEG.
"Kau tidak mengakui kekuatan sihirku, Noel?" tanyaku penuh penekanan. Ayolah, setelah beratus-ratus keonaran yang telah kulakukan kenapa dia masih tidak mengakuiku?
Tidak. Kenapa dunia tidak mengakuiku?
"Tidak! Bukan seperti itu!" bantahnya tegas. Dengan gerakan cepat ia berbalik menghadap kearahku.
Kulihat bola matanya berkaca-kaca. Bersiap untuk menjatuhkan semua muatannya dari sana. Namun sebagai seorang laki-laki, tentu saja ia harus menahan air matanya itu untuk terjun bebas keluar.
"Aku tahu ini bodoh dan aku hanyalah seorang pelayan yang rendahan. Tapi perasaanku..," ujar Noel. Tangannya yang tidak memegangi tanganku ia kepalkan di depan dada bidangnya.
"Noel? Kau tahu, kau tidak seperti Noel yang biasanya," ujarku memastikan kelakuan anehnya.
"Yuki Hime-sama, suki da." Noel berucap pada akhirnya. Bibirnya tersenyum dan kurasakan perasaan tulus memancar darisana. Sekuat apapun ia menahan air matanya untuk tidak terjatuh, pada akhirnya setetes bulir bening meluncur jatuh ke pipinya. Laki-laki yang selama ini kuanggap kuat, kini menjatuhkan air matanya di depanku.
Aku tertegun menatapnya. Bingung harus menanggapi pernyataannya tersebut dengan sikap apa. Dadaku berdegup kencang. Membuatku tidak bisa berpikir jernih.
Noel, usianya sudah duapuluh dua tahun. Dan selama itu, dia lah sosok yang sudah mengurusku sejak kecil. Tapi tidak kusangka, bahwa laki-laki sedewasa Noel bisa jatuh cinta dengan bocah ingusan seperti aku.
Kenapa aku tidak memperhatikannya? Bahkan, aku menganggapnya tidak ada.
DUARR!
Tiba-tiba saja aliran waktu terasa melambat ketika seekor naga putih menabrak tembok koridor istana hingga hancur. Kulihat kalung dengan lambang lavender menggantung manis di lehernya. Dan saat itu kutahu naga itu bukanlah kawan kami.
Naga itu terbang dengan cepat ke arahku. Namun Noel dengan segera mendorong badanku ke belakang. Membuat posisi kami tertukar. Dan yang selanjutnya terjadi adalah, tubuh Noel tersambar oleh cakar-cakar tajam milik si naga putih.
Aku tercekat. Naga putih itu membawa Noel terbang tinggi entah kemana. Meninggalkanku berdiri mematung sendirian di koridor istana.
Aku sungguh minta maaf, Noel.
❄
Pasukan Kerajaan Troxe yang dipimpin langsung oleh Pangeran Ferdinand menyerang secara brutal. Mereka membakar rumah-rumah penduduk dengan liarnya. Membuat seluruh wilayah Kerajaan Delirium dipenuhi dengan awan abu.
Pasukan Kerajaan Delirium balas menyerang dibawah pimpinan raja mereka. Dengan terpaksa mereka menghabisi nyawa musuh mereka. Membuat aliran darah tercipta di jalan-jalan distrik kerajaan yang terbuat dari batu alam.
Raja Iru menghunuskan pedangnya ke dada salah satu prajurit kerajaan musuh. Membuat jantung dari lawannya berhenti mengalirkan kehidupan. Jauh di dalam hati, Raja Iru sangat terpukul. Ia benar-benar membenci dirinya sendiri yang kala itu dapat menghilangkan nyawa orang lain dengan dinginnya.
Tak lama kemudian, seorang ksatria menghampiri Raja Iru. Baju zirahnya dipenuhi dengan darah yang bercipratan. Samar-samar dapat tercium bau anyir dari dirinya.
"Yang Mulia, pasukan kita kalah jumlah. Pasukan kerajaan lawan berjumlah lebih banyak dari pasukan kita. Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanyanya gusar.
"Aku tidak peduli. Meskipun kita kalah jumlah, akan tetapi kita tidak boleh sampai mundur tanpa perlawanan!" jawab Raja Iru tegas.
"Para ksatria di Distrik Yumenos juga Distrik Futago dikabarkan berhasil dipukul mundur oleh pasukan lawan, Yang Mulia," ungkap si ksatria.
Mata sang raja seketika terbelalak lebar. Peluh membasahi keningnya. Ia benar-benar sangat kebingungan. Saat ini ia sedang mempertanyakan statusnya sebagai Raja di dalam hati. Apakah ia ini pantas?
DUAR!! DUARR!!
Tiba-tiba terdengar suara ledakan besar dari kejauhan. Menciptakan asap tebal yang membungbung ke langit disertai dengan percikan-percikan kecil berwarna ungu. Memberitahukan sang raja bahwa ledakan sihir tersebut bukan berasal dari ulah pasukannya yang menghabisi musuh. Melainkan sebaliknya.
"Yang Mulia--" Si ksatria tercekat. Tidak tahu harus mengatakan apa di situasi seperti saat ini.
"Panggil putriku," gumam Raja Iru dengan suara yang sangat pelan.
"Apa?" tanya si ksatria bingung. Rupanya ia tidak mendengar apa yang barusan dikatakan oleh rajanya.
"Panggilkan putriku, cepat!!" seru Raja Iru. Ia telah kehabisan akal.
"B--baik, Yang Mulia!" balas si ksatria kemudian segera melesat pergi dengan kudanya.
Sang raja tahu betul apa yang selama ini dilakukan putrinya. Penyihir Agung Paulina selalu melaporkan kegiatan-kegiatan sang putri secara mendetail. Ia juga tahu bahwa sang putri telah meminta bantuan kepada orang asing untuk memenangkan perang ini.
Sebagai seorang ayah, tentunya Raja Iru tidak ingin putrinya terlibat. Tak peduli seberapa hebat apa putrinya tersebut. Namun kini keadaan memaksanya melakukan ini. Ia pun sukses membenci dirinya sendiri.
"Hei! Yang Mulia!" Tiba-tiba terdengar suara asing memanggil.
Mata Raja Iru terbelalak kaget. Dilihatnya tiga orang ksatria musuh di belakangnya tengah menyeringai lebar. Lalu tanpa basa-basi, tiga orang ksatria itu langsung melesat ke arah Raja Iru. Bersiap menebaskan pedang sihir mereka.
SET!
Hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, ketiga ksatria tersebut tumbang ke tanah. Darah mengalir deras dari leher mereka yang hampir terputus. Namun itu semua bukanlah perbuatan sang raja.
"Ka--kamu?" gumam Raja Iru terkejut.
"Yang Mulia, izinkanlah aku memperkenalkan diriku." Seorang laki-laki berucap dengan sopan.
"Namaku Natsu Rhitmero," lanjutnya sambil memberi penghormatan kepada sang raja.
"Rasku telah datang untuk membantu Anda, Yang Mulia."
❄
KAMU SEDANG MEMBACA
Mirror
Fantasía[ Fantasy, Adventure, Magic & Minor Romance ] Mirror S1 + S2 Tadinya aku berpikir, negeriku begitu membosankan. Tadinya..., kupikir kedamaian di negeriku begitu memuakkan. Aku berharap terjadi kejahatan agar aku bisa menjadi seorang pahlawan seperti...
