Kulihat Mama sedang menggengam tangan Papa yang masih terbaring di atas kasur. Perban menyelimuti seluruh lingkar bahu kirinya. Samar, kulihat noda berwarna merah muda yang merembes keluar darisana. Huft, sudah seminggu sejak perang melawan Kerajaan Troxe berlangsung. Tapi Papa belum bisa menggerakkan bahu kirinya dengan benar.
"Aku minta maaf," ujarku menyesal.
"Semua ini bukan salahmu, Yuki," balas Papa. Ia tersenyum hangat ke arahku.
"Sudahlah, Papamu ini tidak apa-apa. Bukankah biasanya kau keluyuran tidak jelas?" ujar Mama sambil terkikik pelan. Mungkin sangat aneh baginya, melihat diriku yang sekarang. Umh, banyak orang yang mengatakan, semenjak perang berakhir, sikap sangarku menghilang.
Uh! Memangnya sebelum-sebelumnya aku ini pribadi yang sangar, ya?
"Tuan Putri." Panggil Paulina-sensei. Ia berdiri di ambang pintu kamar Papa. Mimik wajahnya serius.
"Eh? Ada apa?" tanyaku sembari berjalan menghampirinya.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan," jawabnya. Entah kenapa suaranya terdengar agak gemetar.
"Ck! Hai, kalian yang disana!" Tiba-tiba terdengar sebuah suara berat yang menggema di lorong. Aku yakin, sepertinya aku sudah sangat hafal dengan suara ini.
Aku pun menoleh ke sumber suara dan mendapati sebuah portal berwarna abu-abu disana. Aku mengekerutkan keningku. Sudah pasti itu bukanlah mantra teleportasi seperti yang biasa para penggguna sihir gunakan. Jadi sihir macam apa itu?
Tak lama kemudian, dari portal tersebut, aku melihat sosok Varghna. Ia berjalan santai ke arah kamar Papa. Tapi sebelum benar-benar memasukinya, tentu saja ia harus berpapasan denganku dan juga Paulina-sensei.
"Um, sudah lama, ya!" sapaku.
"Ya, aku cukup merindukanmu, Tuan Putri," balas Varghna sembari tersenyum.
"Ada kabar apa sehingga kau datang kesini?" tanyaku, berusaha ramah.
Varghna tertunduk dalam diam. Membuatku kebingungan di tempat. Aku mencoba mengamati wajahnya dari posisiku. Kuharap aku bisa menebak perasaannya dari raut wajah yang ia tampilkan sekarang. Tapi sebelum aku benar-benar berhasil melakukannya, Varghna tiba-tiba mendelik ke arahku dengan sorot mata tajam.
"Eh?" gumamku. Rasanya seketika aku pun membeku di tempat. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sekarang aku benar-benar yakin.
Aura-aura hitam nampak saling keluar dari bawah telapak kaki Varghna. Mereka keluar dalam jumlah yang sangat banyak. Melihat hal tersebut, aku pun benar-benar merasa takut. Refleks, aku pun langsung mundur beberapa senti darinya.
BUK! Tanpa sadar aku terus mundur hingga menabrak Paulina-sensei. Perlahan, aku pun berbalik ke arahnya. Saat ini kuyakin wajahku tengah menyiratkan ekspresi ketakutan. Mungkin hanya aku yang dapat melihat aura-aura itu tapi setidaknya aku ingin orang lain tahu bahwa aku sekarang sedang ketakutan.
"Ada apa?" tanya Varghna.
Aku langsung berbalik kembali ke arahnya dan menggeleng pelan. Kuharap ia sama sekali tidak menyadari akan ketakutanku.
Sekilas, Varghna nampak menyeringai. Membuat bulu kudukku terasa meremang. Oh, kuharap bukan aku saja yang menyadarinya.
Lalu tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam berbentuk tangan melesat menuju ke leherku. Dengan gerakan secepat itu, tentu saja aku tidak sempat menghindar. Aku memejamkan mataku. Tidak tahu harus berbuat apa setelah ini.
Maafkan aku.
❄
"Natsu, cepatlah sedikit! Aku takut kita terlambat!" Matthew--seorang vampir muda nampak berlari kencang di sebelah Natsu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mirror
Fantasy[ Fantasy, Adventure, Magic & Minor Romance ] Mirror S1 + S2 Tadinya aku berpikir, negeriku begitu membosankan. Tadinya..., kupikir kedamaian di negeriku begitu memuakkan. Aku berharap terjadi kejahatan agar aku bisa menjadi seorang pahlawan seperti...
