Ellen POV
Aku telah mendengar semua penjelasan dokter mengenai keadaan araya sekarang. Sebenarnya ini tidak terlalu buruk jika dibandingkan aku harus kehilangan dia untuk selamanya. Tapi, aku sadar betul bahwa hidupku terasa berbeda dari sebelumnya. Araya mengetahui siapa aku dihidupnya. Tapi sikapnya lebih seperti tidak mengenalku. Lebih tepatnya aku sudah seperti orang asing baginya.
Seperti biasa. Tiga hari ini aku rutin mengunjungi araya setelah sepulang sekolah. Jika boleh kukatakan. Aku memang lelah. Akhir akhir ini aku sibuk dengan sekolah ku yang mulai melaksanakan ujian ini itu. Mungkin itu semua akan berjalan ringan jika ada araya disampingku. Pikiranku terus terpacu pada araya. Tapi keadaan membaik setelah awal awal kejadian kecelakaan itu. Pihak sekolah serta para murid telah mengetahui berita ini. Tapi aku bersyukur mereka bersikap prihatin padaku dan araya. Mereka menyuruhku untuk bersabar. Dan sangat menyayangkan kejadian ini.
Sesampainya aku di kamar inap araya. Aku melihat araya sedang tidur dengan nyenyak. Disana ada kak Beam. Bicara soal kak beam dan kak forth. Kami berempat menjadi dekat setelah semua kejadian berlalu. Kak beam kembali ke Thailand saat pertengahan bulan. Lalu kembali lagi karna masih ingin menemani kak Forth mengurus perusahaannya di Indonesia. Ia berkata, tidak masalah meninggalkan pekerjaannya. Bagaimana tidak, rumah sakit tempat ia bekerja adalah milik keluarganya. Sebab itu dia bisa kembali lagi setelah menerima dokter yang menggantikannya.
Kak Beam terlelap dengan buku novel yang terbuka didadanya. Nampaknya ia kelelahan. Aku berjalan menghampiri araya. Menatapnya dan membelai setiap inci wajahnya. Terbesit pilu dihatiku saat melihatnya dengan keadaan yang demikian. Meski dokter sudah memutuskan bahwa araya bisa pulang dua hari lagi.
"Ellen?" Aku menoleh kesumber suara. Aku melihat kak beam sudah terbangun dan duduk manis disofa tempat ia tertidur. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya.
"Kak beam? Pulanglah. Pasti kakak lelah" usul ku. Ia selalu berusaha memiliki waktu untuk menjaga araya saat aku sekolah. Disamping itu, aku tau dia harus mengurus kak forth sebelum berangkat ke kantor. Kuakui sifatnya sangat keibuan sekali.
"Sebenarnya aku baru saja sampai dua jam lalu. Aku membaca novel dan tertidur. Tidak masalah. Apa kamu sudah makan?" Kak beam berkata.
"udah" jawabku. Aku berkata jujur. Aku makan sebelum pulang sekolah.
"Makan apa?"
"Mi ayam disekolah. Kak beam lapar?" Tanya ku. Dia menggeleng.
"Aku sudah makan tadi." Ucapnya. Aku hanya mengangguk.
"Aku bersyukur araya telah pulih. Meskipun dia harus mengalami amnesia. Ini wajar dialami setiap orang yang sadar dari koma. Kau tak perlu khawatir. Bahkan saat dia sadar dia telah mengenalmu sebagai calon istrinya bukan?" Turur kak beam.
"Ya. Tapi sejujurnya aku sedih liat araya begini. Semua seperti mimpi. Ngga ada lagi semangat yang biasa aku rasain disekolah." Ucap ku.
"Jadi. Kamu sudah memaafkannya?" Tanya kak beam.
"Aku harus alasan apa untuk tidak menerimanya lagi? Sedangkan aku sangat amat mencintai dia. Aku memafkan semuanya. Meskipun kadang masih sakit kalau ingat kejadian itu." Jawabku. Dia mengangguk paham.
"Semua ada prosesnya. Nikmatilah" ucapnya tersenyum.
***
Author POV
Hari ini araya pulang dari rumah sakit. Ia di jemput oleh maminya dan ellen. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, araya hanya bungkam. Jikalau ada pertanyaan yang harus dia jawab. Ia hanya akan mengangguk dan menggeleng sambil menatap si lawan bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Araya 1 [END]
FanficAraya Pachthiraphan. Gadis tampan asal Thailand ini masih keturunan Indonesia. Sejak sepeninggal ayahnya, ia bersama Som, mommynya memutuskan untuk hijrah ke Indonesia. Memulai hidup baru adalah tujuan utama Mommynya bersama Araya. Ketampanan serta...
![Araya 1 [END]](https://img.wattpad.com/cover/125778802-64-k377087.jpg)