Jimin mengeratkan pelukan pada lututnya, pemuda mungil itu sedang duduk di teras belakang kediaman Kim dengan kepala menengadah memandang langit penuh bintang yang bersinar, ia kembali mensyukuri seluruh keajaiban yang ia dapatkan setelah 17 tahun lamanya.
Masih segar dalam ingatan, pertama kali melihat sosok pemuda bersenyum kotak yang dengan begitu semangat berusaha mendekati, gigih mencoba untuk mengeluarkannya dari lubang hitam bernama kesepian.
Mengingat parasnya, senyumnya, suaranya, elusan lembutnya, bisikan-bisikan cinta yang selalu diberikannya, membuat pipi Jimin bersemu. Sekarang sudah menyadari jika ia telak jatuh cinta pada Taehyung.
Lagi, Jimin memperhatikan langit dan mencari bintang yang paling bersinar. Saat menemukannya, ia menganggap itu adalah cahaya sang eomma.
"Eomma. Jimin sekarang sudah bahagia, apa Eomma juga bahagia di surga sana?" Dengan lirih ia bergumam dengan pandangan fokus sepenuhnya pada bintang tersebut.
"Appa bilang, jika beliau sangat mencintai Eomma, dan meminta maaf atas apa semua perilakunya padaku. Baekhyun-eomma, Jihoonie, Bogum-hyung, Seojoon-hyung, Jungsoo-hyung. Semua kini menyayangi Jimin, dan rasanya bahagia sekali." Jimin mengusap air mata yang tak terasa sudah mendarat di pipi.
"Tapi Eomma. Jimin tetap rindu Eomma. Mengapa sulit sekali untuk bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi seperti dulu? Apa ini karena Jimin sudah bahagia?" Isakan lolos dari bibir yang bergetar tersebut, Jimin benar-benar merindukan sosok eomma kandungnya, sejak kecil ia selalu mendapatkan mimpi bertemu dengan sosok cantik tersebut. Namun kini, setelah kembali bersama dengan keluarganya, ia tidak pernah memimpikan sang ibu.
"Eomma. Jimin masih takut, semua akan baik-baik saja bukan? Rasa bahagia ini tidak akan hilang lagi, 'kan?" Jimin tersentak kaget saat sebuah lengan melingkari pundaknya, kemudian suara berat menyapa gendang telinga.
"Kau akan baik-baik saja, Sayang." Taehyung mencium pipi Jimin yang sudah basah terkena air mata.
"Tae, kaget!" Jimin memprotes dengan lemah. Ia menghapus air mata yang sudah berhenti mengalir, kemudian membalik tubuh dan balas memeluk sosok yang lebih tinggi tersebut.
"Semua akan baik-baik saja. Mau tahu sebuah rahasia tidak, Jim?" Taehyung mengelus rambut Jimin dengan sayang.
"Rahasia apa?" Jimin melonggarkan pelukan mereka dan mendongak agar bisa menatap mata sang terkasih, Taehyung terkekeh gemas melihat raut wajah Jimin dengan mata yang masih sedikit memerah akibat menangis.
"Saat koma dulu, aku merasa tidur. Lama sekali, namun ada kalanya aku bisa mendengar sebuah bisikan. Awalnya aku tidak dapat menangkap apa yang terucap dalam bisikan tersebut. Namun hari di mana aku 'kembali' bisikan itu terdengar jelas." Taehyung mengecup pipi Jimin kemudian mengelusnya dengan sayang.
"Suara itu jelas wanita. Sangat lembut, hanya dari suaranya saja aku sudah mengira ia adalah sosok yang cantik dan juga baik hati." Jimin mengangguk-ngangguk tanda memahami.
"Tolong, jaga Jiminie. Begitu katanya." Taehyung kembali membawa Jimin ke dalam pelukan hangat.
"Aku tidak mengingat hal itu, sampai ayahmu pun melakukan hal yang sama. Mendatangiku dan meminta agar aku menjagamu." Taehyung merasakan tubuh Jimin bergetar dalam pelukan.
"Apa mungkin wanita itu adalah ibu kandungmu, ya? Jadi aku mendapat restu, 'kan?" Taehyung mengeratkan pelukannya kala isakan Jimin mulai terdengar.
Setelah melewati banyak momen kebersamaan, tanpa terasa Taehyung sudah memasuki semester terakhirnya, dan selama itu pun Jimin sudah banyak berubah, menjadi lebih dewasa, terbuka pada seluruh keluarga, tidak sulit berkomunikasi dengan orang lain, bahkan mempunyai beberapa teman baru, sudah tidak ada lagi yang memandangnya sebagai pembawa kesialan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate [VMin]√
Fanfiction[Completed] Thank you for the beautiful cover♡ @Choonhee13 VMin Kim Taehyung x Park Jimin ⚠BxB, Mpreg⚠ Romance, Hurt/comfort, AU, Family, Angst Taehyung tak sengaja menemukan Jimin di sebuah hutan tempat penelitiannya, ia tertarik padanya hanya da...
![Fate [VMin]√](https://img.wattpad.com/cover/129869233-64-k704739.jpg)