Jimin tidak hentinya merasa bersalah pada keluarga Taehyung, terutama terhadap sang suami.
Sudah lima bulan menikah, ia tidak kunjung mendapatkan tanda-tanda adanya momongan. Tidak seperti Seokjin yang dua bulan menikah sudah berhasil mengandung. Saat diperiksa oleh dokter, beliau bilang jika untuk Jimin kemungkinannya memang kecil. Taehyung sama sekali tidak mempermasalahkan perihal tersebut, mungkin memang belum saatnya.
"Jimin?" Suara serak terdengar saat Jimin sedang melamun sambil bersandar pada ranjang mereka.
"Eoh, Tae terbangun?" Jimin segera mendekat pada suaminya yang sedang berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Kenapa tidak tidur? Kau pasti lelah, 'kan?" Taehyung mendudukkan dirinya guna menyamai posisi sang istri.
"Aku tidak bisa tidur." Jimin memeluk Taehyung dan menempelkan kepalanya di dada bidang sang terkasih, beberapa kali menggeliat mencari posisi ternyaman.
"Sedang memikirkan apa, hm?" Taehyung mengelus rambut Jimin setelah balas memeluk sosok tersebut, kemudian mengecupi puncak kepalanya berkali-kali, mencoba memberi ketenangan.
"Em... apa Tae tidak ingin punya, baby?" Jimin bertanya ragu.
"Tentu saja ingin, Jim. Kau pasti memikirkan perkataan dokter itu lagi, ya?" Taehyung sedikit melonggarkan pelukan agar bisa memandangi wajah Jimin, namun sudah beberapa saat menunggu, ia tak kunjung mendengar jawaban.
"Jimin-ah. Seingin-inginnya aku memiliki seorang anak, perasaan itu kalah dengan keinginanku untuk selalu bersama denganmu. Kan sudah kubilang, aku tidak masalah jika kita hanya berdua hingga mati pun. Asal kau terus berada di sisiku."
"Tapi, aku tetap kepikiran. Tae kan suka sekali dengan anak kecil, belum lagi eomma Sohee dan eommaku berkali-kali menanyai aku sudah isi belum." Jimin mengeratkan pelukannya untuk mencari ketenangan, karena lagi-lagi kecemasan menguasai seluruh sudut hatinya.
Taehyung menghela napas, kemudian terdiam beberapa saat untuk menepuk-nepuk punggung sang istri, berusaha memberi ketenangan.
"Tae?" Jimin mendongak untuk melihat Taehyung yang ternyata sedang memandanginya dengan tatapan teduh. Tatapan yang selalu berhasil membuat Jimin jatuh cinta lagi dan lagi, tatapan yang selalu berhasil membuat hatinya kembali tenang.
"Mau berusaha lagi?" Tatapan itu berubah menjadi kerlingan nakal dengan seringai menyebalkan ala Kim Taehyung, membuat Jimin memukul dadanya pelan.
"Ih mesum! Aku sudah lelah dengan yang tadi, Tae." Jimin mengerucutkan bibir.
"Ya sudah kalau begitu tidur, ya? Sini aku peluk sampai pagi." Taehyung memposisikan tubuh keduanya untuk berbaring, kemudian memeluk tubuh Jimin setelah menemukan posisi yang nyaman.
"Kita baru menikah selama lima bulan, Jim. Masih banyak sekali waktu untuk berusaha, jangan dipikirkan lagi, eoh? Aku tidak tahan melihatmu murung terus menerus," bisik Taehyung, yang hanya dibalas gumaman karena Jimin mendadak mendapatkan kembali rasa kantuknya.
Taehyung terkekeh sekaligus lega karena akhirnya Jimin tertidur juga, "Night, Sayang."
-----
Sebulan sebelum perayaan satu tahun pernikahan Taehyung dan Jimin, orang tua mereka sudah mengingatkan agar keduanya mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari spesial tersebut. Padahal saat itu Taehyung tengah sibuk-sibuknya di kantor, namun tetap saja ia tidak bisa menolak.
Jimin sebenarnya tidak mempermasalahkan perihal perayaan, apalagi melihat Taehyung kewalahan mengurus pekerjaan dan persiapan pesta, ia benar-benar tidak tega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate [VMin]√
Fanfiction[Completed] Thank you for the beautiful cover♡ @Choonhee13 VMin Kim Taehyung x Park Jimin ⚠BxB, Mpreg⚠ Romance, Hurt/comfort, AU, Family, Angst Taehyung tak sengaja menemukan Jimin di sebuah hutan tempat penelitiannya, ia tertarik padanya hanya da...
![Fate [VMin]√](https://img.wattpad.com/cover/129869233-64-k704739.jpg)