Arvan Pov
Akhirnya aku bisa pulang, harus bisa memilih dengan bijak antara pekerjaan dan masalah pribadi. Sebenarnya aku hanya ingin menemui Rein, karena dia tidak boleh sampai terus merasa bersalah.
Ketika aku mendapat pesan dari Fero, kalau Fiona sedang berada di penginapan dan sedang berbicara dengan Rein. Fiona memang selalu ingin menyelesaikan masalah sendiri.
Jika begini bagaimana aku akan mengajaknya berumah tangga, karena dia selalu tidak mau menyelesaikan masalah bersama.
Setelah aku sampai di penginapan, aku langsung menuju kamar yang telah diberitahu oleh Fero.
"Mas Arvan?" aku langsung menoleh dan terlihat Fero berjalan kearahku.
"Baru sampai?" tanya nya ketika sudah berada dekat.
"Iya, aku baru saja mau ke tempat Rein." jawabku.
"Biarkan mereka mengobrol Mas, beri mereka privasi." ucapnya
"Aku tau, tapi aku harus membawa Rein pulang karena Aunty Dea sangat tertekan.
" aku tidak yakin dia akan pulang."
Aku langsung menatap Fero dan dian hanya berjalan meninggalkanku
"Apa maksudmu?"
"Entahlah."
"Fero, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Rein?" Tanyaku dan dia langsung berhenti berjalan. Aku berjalan dan menyusulnya.
"Kenapa mas tanya itu padaku?" dia langsung menoleh kearahku.
"Aku hanya ingin tau, Fer. Kamu bekerja sejak masih sekolah, bahkan ketika kuliah pun kamu bekerja. Kamu terlalu setia pada keluargaku Fer. Bukannya tidak mau, hanya aku ingin tau terlebih bagaimana bisa kamu dengan mudahnya menemukan Rein." sepekian detik Fero seperti sedang berfikir, lalu dia menjawab.
"Karena hanya aku yang tau Rein melebihi siapapun." lalu dia berjalan meninggalkan ku.
Apa pikiranku tidak salah?
-------------------------------------------------------
Author Pov
Arvan sudah sampai dia langsung masuk dan melihat Fiona dan Rein berpelukan.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" ucap Arvan. Rein melepaskan pelukannya dan Fiona menoleh kebelakang.
"Rein, kamu baik-baik saja?" pertanyaan itu yang Arvan ajukan ketika bertemu Rein.
"Begitulah." Rein hanya menjawab dengan makna ambigu.
"Bisakah kita pulang? Mamahmu sangat sedih Rein. Aunty sangat merasa bersalah." ucap Arvan.
Seketika darah Rein berdesir panas dia masih marah pada mamahnya karena menamparnya, tapi dia juga tidak bisa menyangkal karena mamahnya begitu karena gara-gara dia.
"Aku tidak ingin pulang kak, sudahlah aku sudah sadar dan mulai mengikhlaskan. Mungkin tuhan tidak menjodohkan kita." Rein berbicara tanpa menatap wajah Arvan.
Fiona paham kalau sekarang waktunya Arvan yang berbicara dengan Rein secara pribadi.
"Aku akan keluar, bicaralah Ar." Fiona berjalan keluar kamar tentunya di ikuti Fero.
Setelah berada di luar Fiona langsung menyandarkan punggungnya di tembok. Dia masih merasa tidak enak pada Rein.
"Tidak usah merasa tidak enak, karena Rein bukan jodoh mas Arvan." celetuk Fero. Fiona menoleh karena sekarang Fero sedikit bawel.
"Terus, Rein itu jodoh nya siapa?" tanya Fiona. Lalu Fero mengangkat kedua pundaknya.
"Ck, naif kamu Fero." Fiona tersenyum lalu dia kembali berfikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Love {Arvan's Story}
Разное[Life story from Arvan, New Generation] Arvandy Putra Syazwan, anak tiri dari Gibran Al-Malik Syazwan. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia memilih tinggal bersama nenek dari ayah kandungnya. Fiona Navarin, dokter cantik adik dari Efelyn yang...
