Author Pov
Arvan menunggu Fiona didepan rumah. Dia meluangkan waktu untuk mengantar Fiona ke tempat kerjanya.
"Arvan, maaf lama." Fiona datang dengan sedikit tergesa-gesa.
"Tidak apa-apa, lagipula mungkin aku yang datang terlalu awal. Ayo masuk, nanti keburu telat." Arvan membukakan pintu mobil dan Fiona langsung masuk.
"Makasih."
"Iya sama-sama." Arvan menutup pintu mobil dan dia juga masuk kedalam mobil.
"Kamu engga apa-apa keluar kerja??"
"Engga apa-apa, lagipula aku belum resmi kerja disana."
"Kenapa?" tanya Fiona.
"Mereka tidak respect sama aku. Hanya karena aku bukan asli keturunan keluarga syazwan." jawab Arvan. Fiona menatap Arvan yang sedang fokus menyetir.
"Buktikan kalau kamu itu pantas, Arvan aku tau semua yang kamu lakukan bukan hal yang mudah."
"Terima kasih Fio, aku juga berfikir sama. Saham yang aku miliki tidak aku dapatkan secara cuma-cuma. Meski ayah memberikannya padaku tapi, aku membeli saham bukan meminta." Fiona tersenyum, dia sangat bangga pada Arvan.
"Sudah sampai, makasih ya Van."
"Iya sama-sama, apa nanti kita bisa makan malam???"
"Entahlah, aku juga pulang malam sekali. Mungkin juga aku tidak akan pulang."
"Apa pekerjaanmu berat Fio??"
"Bukan pekerjaan kalau tidak berat."
"Jaga kesehatanmu Fio, jangan sampai seorang dokter yang memperhatikan kesehatan pasien justru mengabaikan kesehatannya sendiri."
"Aku tau Arvan, sekali lagi makasih."
"Oke, ngomong-ngomong kamu kenapa engga balas chat ku?"
"Hmm, aku menelponmu tapi ketika di telpon sedang sibuk."
"Ooh, mungkin berbarengan ketika Rein menelpon."
"Rein???"
"Iya, tapi kenapa kamu menelpon? Kamu kangen suara aku?"
"Ikh kepedaan."
++++
Rein berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." ucap Rama yang duduk tampan di depan laptop miliknya.
"Paaaaaah." Rein masuk sambil membawa map.
"Apa itu Rein??" tanya Rama pada putrinya.
"Ini persyaratan buat ikut SMPTN pah." jawab Rein. Rama hanya tersenyum lalu menyuruh Rein untuk menscan semuanya.
"Ya sudah kamu scan dulu semua nya, nanti biar papah yang daftarin kamu."
"Oke pah." lalu Rein berjalan menuju tempat scan. Sedangkan Rama masih berfikir.
"Apa yang harus aku katakan pada Dea, kalau Rein mau kuliah di luar kota? Jangankan diluar kota, nginep dirumah temannya saja Dea perlu berfikir ratusan kali untuk mengizinkan." ucap Rama dengan pelan.
"Pah udah."
"Udah ya??? Nanti papah daftarin, sekarang lagi penuh harus edisi ngalong." ucap Rama sedikit bercanda.
"Makasih papah, Rein sayang papah." Rein memeluk ayahnya dengan sayang.
"Sama-sama, papah dukung putri papah yang mau belajar mandiri dan meraih cita-cita. Tapi Rein, serius mau daftar di fakultas non pendidikan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Love {Arvan's Story}
Losowe[Life story from Arvan, New Generation] Arvandy Putra Syazwan, anak tiri dari Gibran Al-Malik Syazwan. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia memilih tinggal bersama nenek dari ayah kandungnya. Fiona Navarin, dokter cantik adik dari Efelyn yang...
