Aku menatap seorang yang ada disampingku. Pria yang paling aku cintai, dia terlelap setelah perjalanan jauh menuju Tokyo.
Aku mendapat pesan dari Fero kalau dia pergi bersama Rein dan memintaku jangan bertanya apapun dan aku menurut tanpa membalasnya.
"Heeeeeeeem." Arvan menggeliat lalu memelukku tiba-tiba.
"Ar, kamu bikin aku kaget."
"Aku masih pengen peluk kamu." ucap Arvan sambil terlelap.
"Kita harus jalan-jalan, aku engga mau gara-gara kamu malas-malasan rencanaku gagal."
"Tidak akan pernah sayangku. Kita disini seminggu, aku mohon sehari ini kita isi dengan ber malas-malasan."
Aku hanya mendengus kesal, lalu mencoba melepaskan pelukan tapi hasilnya nihil.
Aku melihat wajah dari pria yang mampu memberi ku kesabaran karena mencintainya bertahun-tahun.
"Aku memang ganteng Fio, tidak perlu kamu menatapku seperti itu." ucapnya dengan percaya diri. Aku hanya cemberut karena merasa kesal dengan tingkah percaya dirinya itu. Lalu dia membuka matanya dan langsung.
Cup
Dia mengecup bibirku sekilas.
"Aku mencintaimu Fiona sungguh." lagi-lagi ucapannya membuat aku malu dan oh aku tau pipiku ini pasti seperti kepiting rebus.
"Jadi sekarang kita tidur saja, mulai besok kamu bebas pergi kemanapun kamu mau Fio." dia kembali memelukku.
+++++++++++++++++++
"Aaaaaar bukan kah ini bagus? Aku mohon photo aku disini." pintaku setelah sampai di Shibuya crossing. Banyak pejalan kaki dan ini sangat menyenangkan.
"Baiklah istriku tercinta aku akan ambil photo." aku tersenyum dan dia mulai memotret ku.
Setelah banyak mengambil photo aku langsung menggandeng Arvan.
"Kita towaf disini ya?"
"Ada-ada aja, towaf tuh di mekah keliling ka'bah." ucap nya dan aku langsung malu.
"Kalau gitu kesempatan lain, kita umroh."
Dia langsung tertawa dan mengecup pipiku.
"Iiikh malah cium-cium." aku kesal karena dia mencium pipiku tiba-tiba.
"Engga apa-apa, lagipula kamu istriku dan ini jepang. Aku cium bibir kamu disini juga orang engga bakal perduli."
Aku langsung merasakan pipiku memerah, dan ini akibat ulah Arvan. Aku harus pergi, karena kalau diam saja aku pasti akan terus di jahili Arvan.
++++++++++++++++++++
Setelah selesai jalan-jalan aku dan Arvan kembali ke hotel.
"Kamu dulu atau aku dulu yang mandi?" tanyaku sambil membuka sepatu sneakers yang aku kenakan.
"Kita berdua aja ya, biar efektif." Arvan kembali memelukku dari belakang.
"Aaar, jangan mulai deh." tolakku lalu dia melepaskan pelukan nya dan memasang wajah cemberut.
"Ngambek?"
Dia diam dan terus memasang wajah cemberut padaku.
"Baiklah aku mandi duluan aja." ucapku dengan nada jahil.
"Silahkan!!" jawabnya dan aku berjalan menuju kamar mandi. Setelah hampir masuk aku berbalik dan dia masih memasang wajah kesal.
Aku langsung berjalan kearahnya dengan senyuman jahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Love {Arvan's Story}
Random[Life story from Arvan, New Generation] Arvandy Putra Syazwan, anak tiri dari Gibran Al-Malik Syazwan. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia memilih tinggal bersama nenek dari ayah kandungnya. Fiona Navarin, dokter cantik adik dari Efelyn yang...
