Author Pov
Fiona menatap sebuah selembar surat, beberapa kali dia membaca lalu mengambil pena dan dia urungkan lagi.
"Kenapa aku harus dipindahkan? Tapi jika aku tidak menerima kesempatanku bekerja di rumah sakit besar di ibu kota akan lenyap." kepala Fiona terasa berdenyut karena pusing.
"Aku senang kerja di klinik ini, hanya bekerja di rumah sakit besar itu tentu banyak pengalamannya." Fiona kembali mengambil surat persetujuan mutasi lalu menyimpannya lagi.
Lalu ponselnya berbunyi dan dia melihat nama kontak di layar 5.5" miliknya. Hati Fiona langsung panas bagaimana bisa? Karena nama itu yang membuat bingung perasaan dan sikap Fiona pada Arvan.
Lalu dengan berusaha tenang Fiona mengangkat telponnya, mencoba berfikir untuk berfikiran positive.
Fiona Pov
Rein duduk didepanku, dia terlihat kacau membuat aku menjadi kasihan.
"Kak Fiona sudah tau kan?" tanya nya membuat aku terkejut sendiri.
"Ta-tau apa maksud kamu?" taanyaku menciba setenang mungkin.
"Sudahlah, jangan pura-pura. Aku tau kak Fio menguping pembicaraan aku sama Deven kan?" aku hanya diam, karena aku juga bingung harus mengiyakan atau tetap menolak.
"Kalau kakak ada di posisiku, apa yang akan kakak lakukan?"
Aku bingung dengan ucapan Rein, tapi mau tak mau aku harus menjawab.
"Kakak akan mencoba menerima kalau orang yang kita sayangi lebih memilih orang lain." mendengar jawabanku dia tersenyum sinis.
"Sesederhana itu? Tapi aku tidak berfikir seprti itu kak." aku terkejut melihat respon dari Rein atas jawabanku.
"Kalau ucapan kak Fio itu berlaku di posisi kak Fio sekarang, apa bisa merealisasikan?" aku kembali diam, aku hanya bisa menahan emosiku tanpa bicara apapun.
"Diam?? Ternyata sulitkan? Dan itu yang aku rasakan sekarang. Kak Fio ingat, keluarga kak Fio bisa seperti ini karena jasa siapa? Aunty Eifel bisa sesukses sekarang atas dorongan siapa? Dan Fero? Dia bisa seperti itu karena sia,-"
"Cukup Rein, aku tau selama ini keluargamu memang sangat berjasa pada keluargaku. Tapi aku dan saudaraku berusaha untuk tidak mengecewakan kalian. Aku bisa mendapat gelar dokter karena aku berusaha mendapat beasiswa." aku tidak terima karena Rein membahas tentang jasa keluarganya.
"Tapi pada dasarnya kalian ada dukungan keluargaku. Aku tidak akan bahas masalah jasa keluargaku kalau kak Fio mau melepaskan kak Arvan buatku."
Deg
Aku terkejut bagaimana bisa Rein meminta seperti itu.
++++++++++++++++++++++++++++
Arvan Pov
Tepat seminggu aku belum bertemu lagi dengan Fio. Sebenarnya ada apa? Bahkan nenek tidak mau memberitahu aku.
Lalu telpon di ruanganku berbunyi.
"Hallo?"
"(…)"
"Biarkan dia masuk."
Rein datang kesini? Ya sudahlah lagipula selama dia ada disini Rein adalah tanggung jawabku.
Ceklek
"Kaaaaaaaaak."
Kebiasaan Rein, dia langsung berteriak lalu dia memelukku.
"Yaampuun Rein, jaga sikap kamu ini kantor." tegurku dan seketika dia langsung cemberut dan membuatku bersalah.
"Rein, maaf kamu harus bisa bedain mana di kantor dan di luar kantor." Ucapku memberi penjelasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Love {Arvan's Story}
Acak[Life story from Arvan, New Generation] Arvandy Putra Syazwan, anak tiri dari Gibran Al-Malik Syazwan. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia memilih tinggal bersama nenek dari ayah kandungnya. Fiona Navarin, dokter cantik adik dari Efelyn yang...
