Bab 3. 04

817 132 10
                                    

Ajeng menjulukinya, ajaib. Tak pernah merasakannya hingga sulit rasanya untuk dikendalikan. Senyumnya terus menerus mengembang hingga pipinya pegal, tapi tak serta merta membuatnya berhenti tersenyum. Karina dan Vitha yang siang itu mengunjunginya dibuat bingung sekaligus penasaran. Kabar baik apa yang telah diterimanya hingga membuat sahabat mereka yang satu ini bersinar seperti lampu neon. Terang.

"Lo kenapa deh, Jeng?" Vitha mengernyit heran. "Senyum-senyum. Kanker otak nggak bikin gila kan."

"Husss, Vitha." Karina yang sedang dalam mode normal, mengibaskan tangannya di depan wajah Vitha, mengingatkan. Vitha menutup mulutnya rapat menggunakan sebelah tangan.

Tapi, alih-alih tersinggung seperti yang Karina dan Vitha takutkan, Ajeng malah tertawa. Matanya bahkan membentuk bulan sabit.

"Udah nggak papa, nggak usah nggak enak gitu. Toh, itu kenyataan. Gue emang sakit kanker."

"Terus lo sebenernya kenapa, kayak yang lagi seneng gitu." Karina sedikit mencondongkan tubuhnya padanya.

"Gue juga nggak tahu. Rasanya ajaib gitu." Ajeng menggaruk kepalanya, cengiran khasnya terpatri.

"Ada hubungannya sama Yudha ya." tebak Vitha tepat sasaran. "Jeng lo tahu nggak, ada yang harus lo tahu soal Yudha sama Vanessa loh."

"Eh, Vitha. Kan kemarin..."

"Gue nggak percaya sama cewek itu. Kita harus kasih tahu Ajeng, ini juga demi kebaikannya."

"Ada apa sih?" sebenarnya apa yang sedang mereka sembunyikan. Lalu, apa maksudnya demi kebaikan Ajeng?

Vitha menatap Karina, meyakinkan bahwa semua akan baik saja. Kita tahu Ajeng nggak selemah itu. Begitulah kira-kira arti tatapan Vitha.

"Ajeng, gue ngomong gini bukan maksud mau bikin lo kenapa-kenapa, gue sama Karina peduli sama lo. Ok?"

"Vit, sebenernya ada apa sih? Kok kalian jadi gini. Nggak ada masalah serius kan di sekolah. Gue nggak dikeluarin kan!?" yah, mengingat Ajeng sudah tidak masuk sekolah sejak seminggu yang lalu, wajar gadis itu berpikir demikian.

"Nggak kok, bokap lo udah dateng ke sekolah dan jelasin kondisi lo. Lo dapet konpensasi dari sekolah sampai lo sembuh." Karina menjelaskan. Dia ingat saat lima hari yang lalu ayah Ajeng datang ke sekolah, berita tentang Ajeng menyebar dengan cepat. Tak sedikit yang mengungkapkan rasa prihatin mereka. Siapa yang sangka, Ajeng yang lebih sering sendirian dan menyepi ternyata banyak penggemar. Karina pikir Ajeng tak seterkenal itu, tapi ternyata.

"Terus, kenapa donk?"

"Ini soal Vanessa sama Yudha. Ada yang mereka sembunyiin dari lo."

"Eh," apa mereka juga tahu? "Kalian ngomong apa sih?" sekarang, Ajeng harus apa. Jika kemarin Dr. Brian, Ajeng masih bisa menghadapinya, karena ia termasuk orang luar. Tapi kali ini, Karina dan Vitha bukan orang lain, mereka sahabat Ajeng. Ajeng tahu seberapa besar rasa peduli mereka padanya. Vitha dan Karina pasti tidak akan menerima penjelasannya begitu saja.

"Mungkin ini bakal bikin lo kaget, Jeng. Jadi lo harus tenang dulu ya." Karina mengelus punggung tangan Ajeng, menenangkan. "Iya, jangan dibawa stress." Vitha juga melakukan hal yang sama. Ajeng hanya bisa tersenyum kaku.

"Jadi gini, Jeng. Kemarin gue sama Karina ngobrol sama Vanessa, dan dia bikin pengakuan gitu soal hubungannya sama Yudha, yang sebenernya."

Jadi, beneran udah tahu, ya.

"Dia bilang," sesaat Vitha menatap Karina, gadis hitam manis itu mengangguk sekilas, seakan memberinya keyakinan. "kalau dia sama Yudha itu, tunangan."

|| BOOK THREE : Yudjeng || Pasien No.25 (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang