Bab 4. 05

617 134 7
                                    

Pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat Ajeng terlonjak kaget. "Ajeng! Liat gue bawa apa buat lo." Karina melangkah riang seperti kelinci. "Lo ngagetin gue tahu." Ajeng menggerutu sesaat setelah Karina menghempaskan pantatnya di atas ranjangnya. "Hehe, maaf." Gadis itam manis itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya.

"Dia mana bisa kalau ngak ngagetin orang, Jeng." Vitha ikut duduk di atas ranjangnya, si modis satu itu mengunyah permen karet bebas gula dengan santai.

Ajeng bersyukur ranjang rumah sakitnya termasuk vvip. Kuat dan muat menampung berat tubuh mereka bertiga. "Kalian nggak pulang dulu ya?"

"Nggak, kita langsung ke sini. Ada yang mau Karina kasih buat lo katanya, dia langsung narik gue keluar kelas waktu satu detik setelah bel pulang bunyi. Gilanya bahkan guru belum keluar waktu itu, gue sampe kena plotannya Bu Manda, serem."

"Hehe, maaf. Abis gue pengen cepet-cepet kasih ini ke Ajeng." Karina mengangkat paperbag yang sedari tadi didekapnya.

"Emang itu apa?"

"Ini..." Karina dengan semangat mengambil hadiahnya untuk Ajeng. "Waktu gue pergi ke tempat tante gue, gue liat ini. tante gue emang pengusaha hiasan rumah gitu."

"Kristal, teratai."

Karina mengangguk semangat. "Iya. Lo pernah bilang kalau lo suka sama bunga teratai kan, waktu gue ngeliat ini gue langsung inget elo, terus gue ceritain lo ke tante, dia langsung ngasih kristal itu. Dia bilang, itu hadiah buat lo."

Ajeng tersenyum tipis, "makasih, Karina."

"Sama-sama. Gue selalu berdoa, semoga lo cepet sembuh, terus kita bisa sama-sama lagi di sekolah." Mata Karina mulai berkaca-kaca. "Sekolah nggak seru kalau nggak ada lo, Jeng. Kita ini kan bajaj, rodanya harus tiga, nggak bisa dua."

"Sumpah loh, Kar. Gue hampir aja terharu padahal. Kata-kata terakhir lo ngerusak abis." Vitha memutar matanya, menggeleng tak habis pikir.

"Nggak ngerusak tahu, itu perumpamaan paling bagus."

"Bagus dari mananya, oneng. Yakali lo nyamain gue sama bajaj, gue ini mobil ferarri."

"Idih, ferarri tu bodynya bagus, elo tepos."

"Gue tepos elo juga tepos."

"Kok lo nyebelin sih!"

"Lo juga nyebelin!"

Dan, sudah berapa lama Ajeng tidak melihat perdebatan konyol kedua sahabatnya ini. Ajeng hanya terkekeh melihatnya tidak beriat melerai sama sekali, toh percuma.

"Eh, Jeng. Itu apa?" entah mungkin lelah berdebat atau mungkin sudah bosan, Vitha mengalihkan perhatian, berikut juga dengan Karina.

"Oh, ini. ini puzzel." Ajeng duduk bersila, memang sebelum Karina dan Vitha datang dia sedang sibuk menyelesaikan puzzelnya. Tapi sampai sejauh ini, Ajeng hanya mampu menyelesaikan tidak sampai setengahnya.

"Oh. Ini nanti jadinya apa?" Karina mengangkat satu keping puzzel ke udara.

"Nggak tahu."

"Loh, bukannya biasanya puzzel gini ada petunjuk gambarnya ya?" Vitha mengernyitkan keningnya bingung.

"Iya, itu kalau puzzel biasa. Tapi ini beda." Ajeng bicara seperti bocah yang sedang memamerkan mainan barunya.

"Maksudnya?"

"Ini pemberian Yudha." Semburat merah muda yang tipis menyebar di pipi Ajeng.

"Ooohh, pantes." Karina dan Vitha berubah menjadi paduan suara. Lalu, senyum jahil mereka terbit.

|| BOOK THREE : Yudjeng || Pasien No.25 (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang