ANOTHER MATTER

79 2 0
                                        




Seminggu telah lewat saat aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi diperusahaan itu. Aku mengundurkan diri, dan untungnya Rose juga Wendy mengerti. Walaupun aku tidak jujur akan masalahku keluar, mereka piker itu semua karena Zayn yg marah besar padaku atas apa yg aku ucapkan mengenai dirinya saat meeting itu.

Masalah acara tunangan Wendy, aku datang. Tentu saja. Aku datang bersama Rose, kami berencana untuk datang lebih awal dan membantu Wendy menyiapkan semuanya. Dan aku bisa melihat kemenangan diraut wajah James. Dia terlalu bergembira dihari besarnya itu.

Aku juga melihat Zayn, ia datang. Yang membuatku aneh, Ia sendirian. Tanpa Gigi atau siapapun. Ia benar-benar datang sendirian. Mengucapkan selamat pada James dan Wendy. Dan aku melihatnya dari kejauhan, kantung matanya itu tebal sekali, seperti tidak tidur semalaman, ia mengenakan kemeja biru dongker, dimasukkan kedalam celana jeans hitamnya. Rambutnya disisir rapi kebelakang, dan kami sempat membuat eye contact beberapa detik saat acara pemasangan cincin, dia memandangku begitu sayu. Aku sendiri langsung mengabaikannya saat itu juga. Aku tidak ingin jatuh lagi kedalam dunianya yg kelam, ralat, aku tidak ingin ia masuk kedalam duniaku yg kelam. Tapi, dimana Gigi?

Back to my current life, aku mulai menjalani hidup kelamku lagi setelah akhirnya keluar. Aku menenangkan sejenak diriku di suatu taman. Taman paling sepi sekota busuk ini, duduk ditepi danau sembari meminum kopi hangat dari starbucks, tempat ini sepi sekali. Seperti hatiku saat ini.

"Pfft, kenapa aku tidak jadi air saja? Air itu tenang, jika tidak diganggu, jika tidak dilempar batu."  Aku bergumam sendiri.

Lalu aku mendapat suatu pesan dari nomor tak dikenal,

Talk to me, Angie. Please.

Oh astaga, dia dapat darimana nomor baruku? Akupun berpikir keras, sepertinya ini ulah James. Satu-satunya informasi yg ia akan dapatkan ya dari James, dan shit. Kenapa James malah membantunya menghubungiku? Kupikir ia benci pada hubungan kami.

Aku tidak membalas pesan itu. pfft, tentu saja. Aku harus berpaling.

-

Esok hari, aku langsung mengganti nomorku. Kubuang jauh-jauh nomor baruku yg sudah agak lama itu, dan untungnya aku mencatat nomor Rose dan Wendy terlebih dahulu. Jadi aku akan selalu hubungi mereka, dan kini aku telah diterima disuatu café kecil didekat apartemenku. Disanalah aku akan menghidupi diriku lagi, dan aku bertemu pria baik ini, namun aku masih trauma dekat dengan lawan jenis. Maka saat ia terlalu baik padaku, aku hanya merespon biasa saja padanya.

It's Ali. He's half Indian, half British. And he's a bit looking like Zayn consider Zayn is half Pakistan and British so they still look alike. I hate it. so much.

"Jadi, apa kau mau pulang denganku setelah ini?" Ujarnya. Ia tersenyum manis padaku.

"Oh aku bisa sendiri, terimakasih."

"Baiklah tak masalah, asal kau hati-hati." Ujar Ali, ia masih sangat ramah padaku. Oh sialnya, ia begitu manis jika sedang senyum.

Lalu aku membereskan barang-barangku dan segera pergi dari café itu sebelum si Ali memperkosaku tiba-tiba. Aku benar-benar trauma sekarang.

Namun, ditengah perjalanan pulang, aku dikejutkan oleh seseorang yg sudah lama tak kutemui. Ia menyapaku tiba-tiba dan hampir membuatku loncat dari posisiku sekarang.

"Angelina?"

Aku menoleh, "Harry!" Aku tersenyum lebar padanya kemudian memeluk erat pria berambut keriting itu.

"Astaga lama tak bertemu! Apa kabar!" Harry mengelus punggungku, ia sangatlah friendly.

"Yeah you know, never been better." Aku mengangguk lalu mengikutinya berjalan, entah kenapa.

Mistress // z.m [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang