Aku berkepribadian melankolis yang perfeksionis, sedangkan kamu seorang korelis yang antusias dan ekspresif. Aku ber-ideologi pada visi sementara kamu lebih kepada misi. Kita berbeda. Kamu menginginkanku, tapi tidak denganku.
--N...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tampan - Jantan - Setia --ERLANGGA ft. FERRO--
SELAMAT MEMBACA
*****
Jalanan sore ini cukup legang sehingga Erlangga dapat dengan leluasa menancap pedal mobilnya menuju rumah Nadilla.
Pria itu khawatir karena membiarkan Nadilla dan Daesy pulang naik taxi. Hal lain yang mengganggu pikirannya selama di perjalanan adalah maksud dari pesan yang dikirimkan Nadilla sebelum gadis itu pulang dari rumah ibu tiri. Ia akan mengklarifikasinya, spertinya gadis itu salah faham.
Erlangga memarkirkan mobilnya di samping mobil rush silver yang biasa Nadilla kendarai kalau ke kampus. Ia turun dari mobilnya, berharap gadis itu sudah sampai rumah dan mau menemuinya.
Erlangga mengetuk pintu berulang kali. Seorang pria bercelana pendek warna hijau membuka knop pintu. Setelah tahu tamunya adalah teman masa kecilnya, ia kemudian bersender di samping pintu memperhatikan Erlangga detil dari atas kepala sampai ujung kukunya yang tidak tertutup kaos kaki.
Pria itu tidak lain adalah Ferro, melipat tangannya dan menahan Erlangga saat pria itu menerobos masuk dan meminta izin untuk bertemu adiknya.
"Setelah lo bohongin gue, berani ya datang ke sini lagi." Ferro berdecak sinis.
Erlangga menatap pria itu heran. Terakhir bertemu Ferro, pria itu masih bersikap baik padanya dan kalau tidak salah ingat, malah Ferro setuju jika Erlangga mendekati adiknya.
"Ro gue mau ketemu Nadilla. Please penting."
"Tidak semudah itu cadel."
Erlangga terkejut mendengar panggilan itu. Panggilan kecilnya yang hanya dilontarkan oleh Ferro. "Lo udah tahu?"
Ferro mengangguk melirik pria di hadapannya. Anak cadel yang dulu susah mengucapkan huruf R dan sering meledeknya dengan sebutan kolor ijo.
Tanpa aba-aba dan ampun, Ferro melintir telinga Erlangga hingga pria itu meringis kesakitan sambil memegang telinganya. Ferro menggiringnya masuk ke ruang tamu dan menumpahkan sumpah serapahnya.
"Heh cadel! Lo nggak kangen sama gue apa? Ketemu gue bukan hormat malah nggak ngasih tahu kalau lo itu Elang. Kalau aja gue nggak pinter buat ngorek informasi dari mamih, pasti gue udah lo bohongin terus kan!"
Ferro melepaskan jewerannya dan menghempas Erlangga hingga terduduk di sofa.
"Heh kolor ijo. Sakit tauk!" Kesal Erlangga sambil mengelus telinga kanannya yang sudah berubah warna jadi merah.
"Siapa suruh bohongin gue cadel!" Sekarang Ferro malah menjitak kepala Erlangga.
"Gue nggak bohong. Lo aja yang nggak nyadar!" Bela Erlangga.