Bagian 12

1.9K 85 1
                                        

...
Didalam hidup ini, mungkin kau akan menemukan banyak cobaan dan rintangan. Tapi, ketahuilah bahwa Tuhanmu tak akan memberikan suatu cobaan diluar kemampuan hambanya.

Yah, mungkin bertemu dengan Ali adalah cobaan untukku dan percakapan malam ini adalah satu-satunya cara untuk 'melepaskan' cobaan itu. Ali merupakan yang pertama bagiku, pertama yang membuat aku merasakan 'jatuh cinta' dan pertama yang membuat aku merasakan 'sakit hati'.
...
Baru saja rasanya tadi aku terbangun dari tidurku, tetapi baru saja sejam berbincang dengannya sudah membuatku kantuk lagi. Yah, mungkin saja percakapan kami ini membuat pikiranku menjadi cepat lelah.

"Mmmmh..." kulihati secercah cahaya telah masuk dari selipan jendela kamar.
"Ah, sudah pagi...aduh" tiba-tiba kepalaku terasa nyeri.
Tunggu, aku merasakan sesuatu yang hangat melingkar di sekitar perutku seperti sedang dipeluk seseorang dari belakang. Ah, mungkin saja Lyla pikirku.
"Lyla, bangunlah sudah..(membalikkan badan).........."
Mataku seketika membulat, bagaimana bisa Lyla berubah menjadi Ali ? Ah, mungkin saja aku hanya salah lihat. Lalu kugosokkan kedua mataku, apa aku sudah gila ? Bagaimana bisa aku melihat Lyla sebagai Ali ?
Tapi... dia.... Ali !!
"Astaghfirullah !" Aku dengan cepat beranjak, kenapa bisa ada Ali disini ? Tunggu ? Pakaianku ? Tunggu ? Ali tidak ? Haaaaa tidak mungkin !!
Apa...aku..tidur..dengan...Ali.. tadi...malam...?

"Mmmh.. Yumna, kenapa kau ada disini ?"Ali bangun dari tidurnya

Aku dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuh dan kepalaku dan membalikkan badanku kebelakang.

Sekitar 10 menit kami berdua terdiam.
A :"Yumna, apa..kita ?"
Y :"Tidak,, tidak,, tolong jangan bertanya padaku, aku juga tidak tau"

Sungguh, aku tak tau apa yang telah kami lakukan. Seingatku tadi malam kami hanya berbicara kemudian ... kemudian ... ah, aku tidak tau lagi. Aku benar-benar tidak ingat apa yang kami lakukan setelah itu.
Tapi, situasi kami pagi ini ? Apa ini ?
Semua ini tidak mungkin bukan ? Tetapi kenapa ini nyata ? Aku ? Ali ? Bangun di ranjang yang sama tanpa pakaian, apa lagi yang dapat aku pikirkan selain ... kami ..?

Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari keluar kamar membawa pakaianku yang berserakan dilantai.
"Yumna ... tunggu !"
Teriakan Ali tak kuhiraukan, aku hanya berpikir untuk cepat keluar dari sini dan cepat pulang!
...
...
Selama perjalanan pulang, aku hanya terdiam membisu di mobil begitu pula dengan Ali, kami hanya mematung memikirkan betapa tak percayanya kami bisa melakukan sesuatu yang seperti itu. Baru saja tadi malam kami memutuskan untuk mengakhiri perasaan kami, tetapi setelahnya ? Bagaimana bisa kami seperti itu ?

Apakah karena perasaan yang tak tersalurkan itu, membuat kami jadi gila ? Dan melakukan hal keji untuk menyalurkan rasa satu sama lain ?
Tidak ! Bagaimana mungkin ? Dimana akal sehat kami ?

Aku tetap tak bergeming, sepertinya fungsi otakku sedang tak bekerja. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar untuk mengemasi barang-barangku. Kemudian aku berbaring di kasur, aku tidak mengantuk, tapi kenapa rasanya aku lelah sekali. Yah mungkin saja aku kelelahan dengan semua tragedi hidupku yang sekarang.

Tunggu.. tadi.. pagi ? Ah, tolong jangan diingat lagi Yumna.. tolong.. tolong.. otakku.. tolong.. jangan.. ingatkan.. aku..  Sesak, seketika aku merasakan sesak di dadaku, sakit... air mataku tak bisa kutahan lagi.

"Yumna, kau kenapa ?" Suara Ibu mengagetkanku
"Ibu... aku.. hiks hiks.." Aku tak dapat berkata-kata, melihat wajah Ibu rasanya membuat aku semakin sedih.

Bagaimana tidak ? Jika kedua orang tua ku tau ? Bagaimana reaksi mereka ? Anak mereka tidur dengan seorang pria nonmuslim ?
Tidak ! Tidak ! Aku tidak mau menghancurkan harapan mereka.

YUMNA [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang