...
Baru saja ia mengatakan akan melakukan segalanya untukku. Tapi ? Memintaku untuk menjadi kafir ?
Y :"Apa maksudmu Ali ? Kau tau bahwa aku tak muungkin melakukan itu !"
A :"Demi anak yang ada dikandunganmu Yumna."
Y :"Kenapa tidak kau saja yang menjadi muslim Ali ?"
A :"Yumna, kau tau bahwa aku dulunya muslim dan sekarang khatolik, bagaimana bisa aku muslim kembali ?"
Y :"Yah demi kandunganku dan bukankah kau bilang kau mencintaiku, hanya itu satu-satunya jalan agar kau bisa bertanggung jawab dan bersamaku."
A :"... Tapi aku sudah mencintai agamaku yang sekarang Yumna."
Y :"Dan aku juga begitu Ali, kau tau ayahku adalah seorang ustad bukan ? Bagaimana bisa anaknya menjadi kafir?"
A :"..."
Y :"Ali, aku tak mau mempunyai anak tanpa memiliki ayah. Aku tak mau status keluargaku tercoreng karena aku menjadi seorang kafir."
A :"Yumna, aku tak tau. Tapi kenapa sekarang kau menjadi egois seperti ini?"
Y :"Ali, apa maksudmu?"
Deg, aku terkejut mendengar perkataan Ali. Kemudian dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
...
...
Percakapan kami waktu itu sangat menganggu pikiranku. Egois ? Hah ? Kenapa harus aku yang egois ? Bukankah dia sudah tau posisiku ? Bagaimana bisa dia memintaku untuk menjadi kafir ? Dan mengatakan bahwa aku egois ? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Ali.
...
Hari ini, kepalaku pusing sekali. Ntahlah, memikirkan sikap Ali kemarin dan suasana rumah yang tak harmonis lagi. Aku benar-benar muak dengan situasi seperti ini, ini bukan salahku ! Tapi kenapa seperti aku yang disalahkan disini ?
I :"Yumna, kau kenapa nak ?"
Y :"Ah, tidak apa-apa bu. Hanya kepalaku terasa sedikit sakit."
I :"Yumna ! Nak ! (Ibu menangkapku) Astaghfirullah"
Gelap, sepertinya aku sudah tak dapat menahan rasa sakitnya dan membuat tubuhku tak sadarkan terjatuh.
...
D :"Apakah ada masalah dirumah ? Sepertinya anak ibu sedang banyak pikiran. Dia sangat kelelahan sehingga membuat dirinya pingsan."
I :"Sedang banyak masalah yang ia hadapi dokter."
D :"Maaf sebelumnya, tapi saran saya sebagai orangtua Ibu dan bapak seharusnya tetap berada disisinya dan mendukuungnya. Ibu yang sedang hamil tidak boleh stress, karena akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janinnya."
A:"Baiklah dokter, terima kasih atas sarannya."
D :"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
...
I :"Ibu tidak bisa melihat Yumna seperti ini, kasian anak kita, dia harus menanggung semuanya sendiri. Dia harus hamil sebelum menikah. Ibu tidak dapat membayangkan perasaannya sekarang."
Kemudian ibupun menangis, melihat itu Ayah langsung merangkul ibu dalam pelukannya. Ntah apa yang ada dipikiran ayah kemarin, ia marah tanpa memerdulikan perasaan anaknya sendiri. Merenungi wajah Yumna yang pucat sambil berbaring tak berdaya serta tangannya yang dipasangi infus, seketika tangisan ayah pecah bersama ibu.
...
Y :"Mmh, ayah ... ibu.. aku dimana ?"
Melihatku bangun, ayah dan ibu langsung beranjak memelukku. Sepertinya mereka berdua sedang menangis, pundakku terasa basah oleh air mata keduanya.
Y :"ayah .. ibu.. ada apa ?"
A :"Maafkan ayah nak, karena ayah begitu mencintaimu tak ada ekspresi lain yang dapat ayah berikan selain marah karena kecewa. Kenapa nasib anak ayah seperti ini. Kau adalah anak yang begitu baik Yumna. Maafkan ayah karena tak peka dengan hatimu."
Mendengar kata-kata ayah, sepertinya perasaanku tiba-tiba meluap. Sedih dan amarahku menjadi satu, memang aku akui bahwa aku merasa marah dengan sikap ayah akhir-akhir ini. Tapi, tak dapat kupungkiri bahwa kemarahan ayah merupakan kesedihan terberat bagiku.
Aku sangat dekat dengan ayahku, ia adalah seseorang yang menunjukkan jalan untukku, mengajarkan aku apa itu islam, menuntun aku dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan sari'atnya. Aku tumbuh menjadi seorang Yumna yang pintar karena ayahku, yah, Ayah adalah pahlawan bagiku, Ayah adalah panutan hidupku.
Aku takut ayahku marah kepadaku, aku takut ayahku kecewa kepadaku, karena aku sangat menyayangi ayahku.
Y :"Ayah !.... hiks ... hiks... maafkan Yumna Yah.. maafkan Yumna! Yumna sudah membuat ayah kecewa...! Maafkan Yumna Ayah ..."
Dan tangisanpun pecah diantara kami bertiga. Hampir 10 menit kami menangis meminta maaf dan memaafkan satu sama lain. Ini adalah situasi keharmonisan keluarga yang sudah aku rindu-rindukan.
A :"Yumna, jadi sekarang apa yang akan kau lakukan ?"
I :"Apakah kau sudah berbicara dengannya ?"
Y :"Iya, aku sudah berbicara kepadanya bu dan dia memintaku untuk masuk khatolik dan aku memintanya untuk masuk islam."
A :"Yumna, ayah tak keberatan jika kita memelihara bayi mu tanpa seorang ayah. Bayi ini hanyalah titipan kepada kita dari-Nya. Bukan berarti kau harus memalingkan dirimu dari-Nya hanya karena status yang kau inginkan."
I :"Benar Yumna, kita juga tidak berhak untuk memaksa Ali untuk seiman dengan kita. Dengan semua perjalanan hidup yang telah ia lakukan, kita tak bisa memaksakan hatinya."
Y :"Cobaan Yumna sangat berat ya yah ?"
A :"Berarti Tuhan sangat menyayangimu Yumna, sehingga kau diberikan cobaan yang berat. Mungkin Tuhan ingin mengujimu, seberapa besar cintamu pada-Nya..."
Deg, kata-kata ayah 'seberapa besar cintamu pada-Nya'?
"Allahuakbar...Allah..uakbar.."suara adzan
I :" Kamu bisa berdiri nak ? Ayo kita sholat berjamaah bertiga."
Y :"Bisa bu "
Sudah lama sekali rasanya kami tidak sholat berjamaah bersama seperti ini. "Allahuakbar" suara ayah begitu merdu, kami sholat dengan tenang dan khusuk. Sebelumnya, ketika sholat dengan pikiran yang kacau, aku selalu terbata-bata dengan doaku. Tapi tidak kali ini, sholat ini membuat hati ku damai.
"Allahuakbar" disujudku aku tergumam. Rindu yang sudah lama kurasa itu terasa begitu menyesakkan dadaku. Aku tak dapat menahan air mataku, aku menangis. Mengapa ? Mengapa aku menangis ?
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum..." setelah selesai sholat, kemudian kutadahkan kedua tanganku untuk berdoa.
Sudah lama rasanya aku tak berdoa setulus ini. Kemudian kukeluarkan semua unek-unek hatiku pada Rabbku.
Deg, aku merasakan seperti seseorang sedang menegurku. Air mataku tumpah lagi. Rinddu.. rinddu..
Yah, benar, aku rindu pada Rabbku. Aku rindu pada Tuhanku.
Aku menangis menjadi-jadi dengan tetap terus berdzikir didalam hati.
Selama mengenal Ali, aku sudah tersesat dalam jalanku. Tuhanku memberikan aku cobaan, untuk mengujiku, apakah aku akan tetap dalam jalan-Nya? Tetapi tidak, aku terlalu egois dengan perasaan cintaku pada Ali sehingga membuatku berani untuk menelusuri kehidupnya.
Aku sudah bersalah pada Tuhanku, aku terlalu terbuai dengan sesuatu yang tak kekal untukku. Tuhanku menghadirkan Ali, memberikan aku cobaan agar aku bisa tetap dalam jalan-Nya untuk diam dan berdoa, bukannya menelusuri kehidupannya.
Tuhanku maafkan aku, maafkanlah hambamu ini. Astaghfirullah, astaghfirullah. Allahuakbar Allahuakbar..
Dalam dzikirku aku menangis, merindukan keharmonisanku dengan Tuhanku.
....
...
Bersambung
...
....
***
Pagi ini aku begitu tenang, suasana rumah sudah kembali seperti semula. Ayah dan ibu memilih untuk berada di rumah seharian menemaniku.
"Selamat pagi,"
I :"Pagi (membuka pintu), kamu ?"
Ay :"Siapa bu?"
A :"Saya Ali ustad,"
Ay :"Masuklah nak Ali."
Ayah mempersilahkan Ali masuk dan duduk.
Ay :"Ibu, tolong panggilkan Yumna."
I :"Baiklah sayang."
...
Y :"Ali, kenapa kau ada disini?"
A :"Aku ingin bicara pada kedua orang tuamu."
Tegang, yah situasi begitu menegangkan. Ayah terlihat sedang menahan emosinya, sedangkan ibu duduk disebelahku merangkul tanganku. Sepertinya ibu sedang menahan amarahnya juga.
I :"Sudah lama sepertinya tidak bertemu nak Ali."
A :"Apakah ustad dan ibu masih mengenal saya ?"
Ay :"Tentu saja, walaupun ini baru pertama kali kita bertemu setelah semua tragedi yang menimpa kalian berdua."
A :"Maafkan saya ustad, saya benar-benar tidak menginginkan hal seperti ini terjadi."
Ay :"Yah, kami mengerti. Yumna sudah menceritakan semuanya kepada kami."
I :"Lalu, ada hal apa yang ingin kamu sampaikan pada kami?"
A :"Saya tetap ingin bertanggung jawab atas kehamilan Yumna."
Ay :"Tetapi saya lebih tidak mengijinkan Yumna untuk berpindah akidah !"
I :"Dan kami juga tidak memaksamu untuk masuk ke agama kami."
Y :"Kau tak perlu menikahiku Ali, aku akan merawat bayi ini. Kita tak perlu memaksakan ego kita masing-masing untuk itu."
A :"Tidak Yumna, aku juga harus menanggung kesalahanku. ... ."
Ay :" lalu apa yang akan kau lakukan nak ?"
A :"Aku akan masuk islam, ustad"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
YUMNA [COMPLETE]
Romance(Complete) Romance - Fiksi - Tragedi - Drama - Religion Ketika cinta disalah artikan. Kisah Seorang wanita bernama Yumna yang hidup dilingkup keluarga yang sangat islami. Taat akan ajaran agama, membuat Yumna tumbuh menjadi wanita lemah lembut dan p...
![YUMNA [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/148566558-64-k454889.jpg)