(( 20 ))

8.5K 1.2K 28
                                        


Chaca meneguk iced mochacino yang ia pesan tadi. Dia duduk diam disana. Entah kenapa dia sangat suka hawa cafe. Dia sangat suka aroma biji kopi di cafe. Dan dia sangat suka suasana cafe yang entah mengapa sangat indah. Ditambah alunan lagu klasik di cafe itu.

Kini, Chaca sedang berada di salah satu mall di jakarta. Dia sedang ingin jauh jauh dari kehidupannya yang ribet. Dia mengganti halaman novel yang baru saja dia beli tadi sambil mengunyah donat yang ia pesan juga.

"sendirian lagi?" seseorang tiba tiba menghampirinya dan duduk disampingnya.

"orang lain baca buku pelajaran kek. Ini lo nya malah baca novel ckckck" Chaca tau orang yang sedang menasehatinya ini pasti Baejin. Karena itu sudah ciri khas Baejin setiap melihat seseorang membaca novel.

Chaca mendongak menatap mata Baejin "lo ngapain disini?"

"nemenin Siyeon ke body shop. Mamanya gak bisa pergi bareng dia, jadinya gue deh yang nemenin" kata Baejin.

"terus lo ngapain di j.co? kasihan Siyeon disana" kata Chaca.

"gua kesini karena di suruh Siyeon ke sini" jelas Baejin.

Chaca hanya mengangguk kemudian mencoba menenggelamkan dirinya kembali ke dalam dunianovel yang sedang ia baca ini. Namun, mungkin karena hadirnya Baejin. Pikiran Chaca jadi kemana mana, banyak hal yang ingin Chaca bicarakan bersama Baejin. Namun,

"jin, lo suka sama Siyeon?" namun, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya atas perintah otaknya.

Jinyoung yang sedang memainkan handphonenya langsung mendongak menoleh ke Chaca. "iya, kenapa emang? Lo suka Siyeon ya?" Jinyoung tersenyum menggoda sahabatnya itu,

"idih, lo kira gua lesbi apa. Terus Siyeon suka sama lo?" tanya Chaca melanjutkan rasa penasarannya.

"mana gua tahu. Gua gak bisa nebak dia dari perilakunya. Kalem banget, sampai gak menonjol" kata Baejin.

Chaca setuju akan hal itu "kalau dia suka elo, gimana?" tanya Chaca.

Baejin terkekeh mendenganya. Kemudian dia mengacak rambut Chaca "gak tahu, gua mah ikut apa yang Tuhan berikan ke gua. Gua ngikut alur cerita Tuhan" ujar Baejin tersenyum kemudian meraih gelas iced mochacinno milik Chaca kemudian meminumnya.

"lo ada niat ga pacarin Siyeon?" tanya Chaca.

"ya kalau emang dia mau, gua mah ngikut"

"aelah elo jadi cowok gak teguh pendirian banget sih" kata Chaca memukul bahu Baejin.

"aduh, sakit gendutt" Kata Jinyoung malah cubitin pipi Chaca.

"anjing, woy gilaaa Jiny... jinyoung sakit" Chaca yang pipinya di cubitin sama Baejin hanya bisa memukul mukul tangan baejin.

Baejin melepaskan cubitannya dan tertawa. Mereka tertawa bersama. Namun tiba tiba ada yang menarik tangan Chaca. "ayo pergi" Chaca dan Jinyoung yang masih ketawa ketawa secara otomatis memberhentikan tawa mereka kemudian menoleh ke sumber suara.

Terlihat Jeno sedang menatap mereka berdua dan menggenggam tangan Chaca. Chaca terkejut dengan keberadaan Jeno yang tiba tiba kemudian menggenggam tangannya.

"ayo balik" kata Jeno.

"jen? Ngapain sih?" kata Chaca merasa awkward dengan suasana di sekitarnya.

"aku tunggu di parkiran biasa" kata jeno kemudian pergi.

___

Chaca tidak tahu ada apa dengan Jeno sekarang. Nsmun, terlihat dari raut wajah jeno yang tidak enak, sudah bisa di tebak kalau Jeno sekarang sedang badmood banget. Jadi Chaca hanya diam.

"gila ya kamu, bisa bisanya romantisan gitu sama Baejin di sana. Ketika kamu harusnya tahu disana juga ada Siyeon" kata Jeno memecah keheningan malam.

Chaca terdiam. Ia masih mencerna apa yang di maksud Jeno. "maksud kamu apaan?" tanya Chaca.

"Siyeon ngelihat semua hal romantis yang lo buat sama Baejin" jelas Jeno.

"ya terus kenapa kalau dia lihat? Lagi pula mereka kan hanya sekedar teman" kata Chaca merasa belum bersalah bahkan mungkin belum peka dengan apa yang di maksud oleh Jeno.

"ck, bisa gak sih kamu jauh jauh aja dari baejin?" Permintaan Jeno kali ini mampu membuat Chaca cengo gak percaya. Bisa bisanya seorang jeno menyuruhnya menjauhi Baejin yang notabenenya sahabatnya sejak kecil bahkan teman sesquad nya.

"maksud kamu apa sih Jen?"

"Kamu kan udah punya pacar, ga usah deketin cowok lain lagi"

Chaca terdiam. Dia kembali mencerna apa yang dilakukan oleh Jeno sekarang.

"apaan sih? Orang aku cuman kayak gitu sama Baejin. Gak lebih. Gak usah sok tahu deh kamu. Mana bisa aku suka sama orang yang kayak gitu" kata Chaca yang emosinya mulai membara.

"tapi kan gak harus sedekat itu juga kan? Kamu tuh hargai aku gak sih?! Nganggep aku pacar kamu ga sih???" tanya Jeno.

"nganggep lah"

"ya kalau nganggep ngapain sok sok romantis gitu sama Baejin?!" Jeno membentak.

Chaca gak tau apa yang harus dia lakukan. Dan apa yang sebenarnya terjadi.

"kamu gak seharusnya lakuin itu. Kamu tahu? Siyeon nangis ngelihatin kalian!"

Sekarang chaca ngerti, ini semua tentang Siyeon.

"jadi semuanya tentang Siyeon?" Chaca ngangguk paham. "kenapa enggak lo hibur aja? Kenapa malah narik gua pergi hah?" Chaca meraih handbag nya kemudian turun dari mobil Jeno dan pergi meninggalkan Jeno disana sendirian.

























"aku lupa, kalau ini semua memang tentangmu dan tentang Siyeon" Ujar Chaca.

C o f f e e ; JENOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang