"Ayo turun, sayang. Kita udah sampe."
Rio yg sudah selesai memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah segera mematikan mesin mobilnya. Melepas seatbelt yg dikenakannya lalu turun. Sementara Kiara masih diam di dalam mobilnya. Tangannya meremas seatbeltnya sedikit kuat. Matanya menatap sebuah rumah di depannya dengan sedikit waspada. Rumah yg dikelilingi dengan tembok-tembok tinggi bak istana. Indah dan megah, namum saat melihatnya lebih detail semua mata pasti kaget. Bahkan Kiara sekarang pun ingin segera meninggalkan tempat ini. Kenapa Rio membawanya kesini kalau mereka ingin ngedate?
"Hei, kok bengong sih? Ayo turun," kata Rio yg kini tengah menunggu di depan pintu mobil yg terbuka.
"Ah, iya. Sebentar, yo."
Kiara membuka seatbeltnya lalu langsung masuk mengikuti Rio. Mereka memasuki sebuah rumah besar dan mewah. Rumah itu besar dan luas. Di sampingnya ada sebuah kolam ikan lengkap dengab patung-patungnya. Namun sayangnya rumah itu sepi. Aura yg berhembus di sekitarnya juga sanggup membangunkan bulu kuduk hanya dengan sekali tiup.Hanya ada para penjaga dan beberapa orang temannya Rio. Itu pun cowok semua.
Perlahan kegelisahan tiba-tiba menjalari hati Kiara. Wajahnya berubah pucat. Tangannya mengeratkan pegangannya pada tangan Rio ketika mereka melewati cowok-cowok yg tengah bersama gadis-gadis mereka di ruang tengah.
"Yo, katanya kita mau dinner kok malah kesini?" tanya Kiara dengan mata yg terfokus mengamati sekelilingnya.
Rio tersenyum manis. "Iya kita disini dinnernya sayang."
Tubuh Rio menepi. Melebarkan sesuatu yg berada di belakangnya yg membuat Kiara hampir memekik kegirangan namun berhasil dikuasainya. Kini dihadapannya terhampar sebuah kolam renang yg penuh dengan lilin-lilin berbentuk bunga teratai. Di tepi kolam renang terdapat sebuah jalan setapak yg menjurus ke arah tempat di tengah dengan sebuah meja makan untuk dua orang disana.
Kiara tidak bisa berkata apa pun. Suasana indah yg terhampar di depan matanya membuat kebahagiaannya membuncah. Hatinya begitu gembira. Ternyata pikiran jeleknya tadi tidak terbukti sama sekali. Semua orang terlebih Calvin salah menduga bahwa Rio -pacarnya adalah seorang yg romantis dan perhatian. Bukan seorang yg brengsek seperti yg dibilang oleh cowok itu. Calvin salah besar.
"Ini kamu sendiri yg bikin, yo?" tanya Kiara dengan mata yg masih memandang sekelilingnya takjub.
"Iya. Kamu suka?" tanyanya sambil menggandeng tangan Kiara dan mengajaknya menuju meja makan.
Kiara mengangguk. Pipinya merona. "Suka banget, yo."
Rio tersenyum manis lalu menarik salah satu kursi untuk Kiara. "Silakan duduk, princess."
"Terima kasih, pangeran." Kiara terkekeh lalu duduk.
Begitu mereka duduk, beberapa pelayan yg sudah disiapkan sebelumnya oleh Rio, datang lalu menyiapkan hidangan di depan Kiara dan Rio. Tak lama kemudian musik lembut mengalun dari salah satu sudut yg membuat Kiara langsung kembali tersenyum. Ia kembali memperhatikan sekelilingnya yg sangat indah. Ternyata cowok yg terlihat slengean seperti Rio, mau bersusah payah menyiapkan ini semua hanya untuk dinner dengannya.
"Ayo dimakan, sayang. Ini semua khusus aku buat untuk kamu."
Perkataan Rio yg begitu lembut membuyarkan lamunan Kiara. Ia tersenyum lembut lalu menatap steak yg tersedia di piringnya.
"Aku makan ya," ujar Kiara yg langsung mendapat anggukan kepala dari Rio.
Tangan Kiara dengan lihai memotong steaknya lalu memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya. "Ini enak banget, yo!" serunya tak tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Always Been You
Teen FictionKita ketemu tanpa sepotong rasa yg berarti. Sama-sama tidak peduli pada masing-masing hati. Hingga semua terjadi dan membuat aku tidak bisa memungkiri bahwa aku telah jatuh hati. Padamu yg (mungkin) takkan bisa terganti...
