"Hatchihh..."
Kiara mengusap hidungnya dengan tissue saat dirinya kembali bersin. Mengusapnya beberapa kali lalu melempar tissue itu ke tempat sampah yg berada di sebelahnya dengan sedikit kesal. Ia kini tengah berbaring di kamarnya dengan berbalut selimut tebal yg menutupi tubuhnya hingga ke dada. Suhu tubuhnya naik. Sekujur tubuhnya panas namun juga menggigil. Hidungnya merah dan kepalanya sedikit pening. Bahkan.bibirnya memucat karena semalam hampir sejam lamanya ia berdiri di bawah guyuran hujan yg begitu deras. Namun aneh kenapa ia bisa langsung sakit seperti ini keesokan harinya. Mungkin ia lelah karena kemarin siang latihan habis-habisan. Udah gitu malemnya diajak ribut dua kali, jadi ya gak salah kalo sekarang dia tepar kayak gini.
"Hatchihhh..."
Kiara bersin lagi. Kali ini dengan sedikit keras. Kembali ia mengusap hidungnya dengan tissue lalu melemparnya ke tong sampah. Bibirnya cemberut menahan sebal. Ini semua gara-gara semalam! Coba aja kalo si mayat hidup itu enggak mancing emosi, terus enggak ngajak berantem di luar pasti Kiara enggak akan sakit seperti sekarang ini. Harusnya tuh ia tengah berada di tempat latihan kick boxingnya yg biasa bukannya berleha-leha seperti pemalas di kamarnya.
Klek!
Pintu kamarnya terbuka dan memunculkan Reza yg tengah membawa sebuah nampan berisi makanan dan obat. Reza berjalan mendekat lalu meletakkan nampan itu diatas meja sebelah tempat tidur Kiara. Ia duduk di sebelah sepupunya itu lalu menempelkan sebelah tangannya pada dahi Kiara.
"Lumayan panasnya udah turun." Reza menarik tangannya kembali kemudian memandang Kiara lekat. "Lo kenapa bisa sakit? Tumben amat."
"Maksud lo? Gue gak bisa sakit gitu?" tembak Kiara langsung. Ia langsung cemberut mendengar kata-kata Reza yg barusan. Semua orang bisa sakit kali, za!
"Iyalah. Lo kan preman masa sakit? Gak seru amat," balasnya santai. Ia terkekeh sejenak.
"Preman juga manusia woy!" seru Kiara dengan suara serak karena tenggorokannya juga terasa gatal.
Kiara langsung menonjok lengan Reza sekuat tenaga. Namun sayangnya tenaganya terhalang karena pening di kepalanya. Bahkan ia langsung lemas setelah menegakkan badannya sekali. Sumpah! Sakit itu bener-bener enggak enak.
"Kan, kan. Pusing kan? Mangkanya kalo lagi sakit itu sikap premannya ditahan dulu dong." Reza membantu Kiara meletakkan kepalanya dengan benar pada bantal.
"Lo sih!" sungut Kiara sambil memejamkan matanya. Mencoba meredam rasa pusingnya.
"Yaudah makan dulu. Gue bawain bubur ayam kesukaan lo nih. Abis itu minum obat terus lo boleh tidur."
Reza mengambil semangkok bubur ayam pada nampan lalu menyerahkannya kepada Kiara. Ia membantu sepupunya itu duduk sambil bersender ke bantal. Ia memandang Kiara yg hanya memperhatikan bubur ayam itu sambil cemberut.
"Kenapa gak dimakan?" tanyanya.
Kiara menegakkan wajahnya yg terlihat pucat itu. Ia memanyunkan bibirnya ke depan. "Suapin, za," pintanya manja.
"Ck!" Reza berdecak sebal mendengarnya. Ia lupa kalau sepupunya ini sedang sakit jadi kadar manjanya bisa melebihi batas normal. "Manja."
Kiara tetap memanyunkan bibirnya ke depan menunggu reaksi Reza. Akhirnya Reza menghela nafas lalu mengambil mangkok itu dari tangan Kiara dengan cepat. Melihat itu bibir Kiara berubah tersenyum. Ia sedikit menegakkan badannya dan bersiap untuk makan.
"Ngennggg... Ayo buka mulutnya pesawatnya udah datang... Aakk..."
Bak gaya ibu-ibu profesional yg sedang menyuapi anaknya, Reza memainkam sendok yg berisi bubur itu di udara lalu langsung menyodorkannya kepada mulut Kiara. Kiara menerima makanan itu dengan senang hati. Perlakuan Reza yg barusan sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Always Been You
Teen FictionKita ketemu tanpa sepotong rasa yg berarti. Sama-sama tidak peduli pada masing-masing hati. Hingga semua terjadi dan membuat aku tidak bisa memungkiri bahwa aku telah jatuh hati. Padamu yg (mungkin) takkan bisa terganti...
