Hari ini semua nampak normal kembali. Sekolah dan pelajaran berjalan seperti biasa. Calvin pun sudah kembali masuk ke kelasnya dan melanjutkan kegiatannya. Bahkan cowok itu dengan cekatan mengerjakan seluruh tugas dan pr yg sempat tertunda saat ia membolos selama seminggu.
Semuanya memang kembali. Kecuali keakraban Dina dan Kiara yg sepertinya belum juga kembali. Kiara hanya bisa berdiam diri saat masuk kelas meski dirinya sendiri masih berbunga-bunga karena tadi pagi Calvin menjemputnya di rumah dan pergi bersamanya ke sekolah. Meski ia tau, itu adalah salah satu akal Kak Bima untuk menjaga keselamatannya karena ia menolak memakai bodyguard. Jadilah kakaknya itu meminta Calvin untuk menjaganya. Perlakuan cowok itu yg sekarang jauh lebih manis meski masih sering memancing emosinya, benar-benar membuat Kiara kelimpungan setengah mati. Mungkin benar ia telah jatuh cinta.
Kiara memandangi I-phonenya dengan beribu ekspresi wajah yg campur aduk di kelasnya. Tangannya menekan tuts-tuts di layar I-phonenya dengan gemas. Chatnya dengan mayat hidup itu benar-benar menguras emosi. Terlihat beberapa kali Kiara menggertakkan gigi karena gemas dengan balasan cowok itu yg selalu saja memancing emosinya.
"Hai, ra..."
Sebuah suara menyapanya dengan nada sedikit canggung membuat Kiara menoleh. Ia mendapati Dina kini sudah duduk di sebelahnya.
"Hhmm..."
Jawaban singkat dari Kiara membuat Dina kembali menelan ludah. Ia tau sahabatnya ini pasti masih marah tentang kemarin. Ia tau, Kiara memang buka tipe orang yg bisa marah dengan orang di dekatnya begitu lama, tapi jika sudah menyangkut kebohongan Kiara pasti tidak akan memberikan toleransi. Dan itu sudah terbukti. Hingga sekarang saja Kiara belum mengobrol sama sekali dengannya.
"Ra..." panggil Dina lagi.
"Hmm.."
Namun jawaban yg diterima masih sama. Sahabatnya itu masih saja sibuk menatap layar I-phonenya dengan ekspresi yg berubah-ubah. Dan semua ini membuat Dina frustasi.
Dina menarik nafas dalam-dalam lalu menatap Kiara. Ia harus tetap menjelaskan semuanya meski sahabatnya ini mungkin tidak mau mendengarnya.
"Ra, gue tau gue salah. Tapi sumpah kemaren gue gak maksud bohongin lo. Itu semua gue lakuin karena Calvin sendiri yg minta."
Dina memulai kata-katanya dengan perlahan. Matanya menatap Kiara dengan pandangan memelas. Namun tetap saja sahabatnya itu masih asik dengan I-phonenya seakan tidak mendengar apa-apa.
"Duh ra, sumpah deh gue beneran ga tau apa-apa," Ia menghela nafas panjang. "Calvin sendiri yg minta supaya kita semua gak kasih tau lo yg sebenernya. Gue sebenernya juga mau protes tapi lo tau sendiri kan Calvin orangnya kayak apa? Jadinya gue sama yg laen nurut sama dia. Tapi sumpah gue beneran gak ada maksud bohongin lo."
Mata Dina tetap memandang Kiara yg tidak bergeming. Matanya menatap lurus layar I-phonenya.
"Ra, lo dengerin gue gak sih?" tanya Dina dengan nada yg mulai sebal karena terus dicuekin. "Ra, gue serius nih..."
Dina memberanikan diri menarik lengan seragam sahabatnya itu. Namun tetap saja Kiara masih asik dengan I-phonenya.
"Kiara! Dengerin gue kek..." kata Dina dengan sedikit kencang sambil menarik lengan seragam sahabatnya itu.
"Argh! Apaan sih, din," geram Kiara kesal. Kesenangannya terganggu sudah. "Ganggu aja lo elah!" Ia berkomentar sebentar lalu kembali pada I-phonenya.
Dina mengerucutkan bibirnya ke depan. "Kiara! Gue lagi ngomong sama lo!" teriaknya lagi. Kali ini tepat di samping telinga Kiara hingga membuatnya berjengit kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Always Been You
Novela JuvenilKita ketemu tanpa sepotong rasa yg berarti. Sama-sama tidak peduli pada masing-masing hati. Hingga semua terjadi dan membuat aku tidak bisa memungkiri bahwa aku telah jatuh hati. Padamu yg (mungkin) takkan bisa terganti...
