#Problem 20

116 2 0
                                        

Kiara hanya bisa terdiam menatap Calvin yg tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yg lumayan mencengangkan. Entah kemana Calvin akan membawanya karena sampai sekarang pun Calvin tidak juga menggubris pertanyaannya. Cowok itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan tatapan yg menjurus lurus ke jalanan. Kiara bisa melihat dadanya naik turun beberapa kali seperti sedang meneralkan emosi.

Kiara melirik sebucket bunga yg berada di samping cowok itu. Bunga mawar putih yg dibungkus rapi. Beberapa saat yg lalu memang mereka sempat mampir ke sebuah toko bunga, namun tetap saja Calvin tidak mengatakan apa pun saat ia kembali dengan sebuah bucket mawar putih di dalam genggamannya. Hal itu justru membuat Kiara khawatir. Apa Calvin akan mengajaknya bertemu dengan seorang wanita yg special sampai-sampai harus membeli bunga dahulu jika ingin bertemu? Apa jangan-jangan hubungan tidak baik antara Calvin dengan Rio terjadi karena Rio merebut wanita ini dari Calvin? Perasaan Kiara berubah sesak memikirkannya. Apa benar seperti itu?

Tak lama Calvin memelankan mobilnya saat memasuki sebuah kawasan pemakaman di bilangan Jakarta. Ia menghentikan mobilnya kemudian membeli bunga tabur pada salah satu kios penjual bunga yg berada disana. Melihat itu sontak Kiara langsung terkejut. Pikirannya bercampur menjadi satu. Ia tidak mengerti mengapa Calvin membawanya kesini? Apa hubungannya pemakaman ini dengan Rio?

Kiara yg masih berkutat dengan pikirannya sendiri langsung tersentak saat mobil yg ditumpanginya tiba-tiba berhenti di salah satu blok pemakaman. Dengan cepat Kiara membuka seatbeltnya saat melihat Calvin turun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia turun dan mengikuti langkah kaki Calvin dari belakang dalam diam. Sebenarnya ngapain Calvin membawanya kesini?

Sedang Calvin hanya bisa terdiam dengan kedua tangan menenteng bunga. Kakinya menapaki jalan yg sudah dihapalnya di luar kepala. Ia membiarkan Kiara mengikutinya dari belakang. Mungkin gadis itu masih berkutat dengan pikirannya sendiri karena bingung kenapa ia membawanya kesini.

Kiara berjalan dengan sedikit menunduk. Panas matahari yg lumayan menyengat membuat wajahnya serasa terbakar. Ia tidak memperhatikan langkahnya sehingga kepalanya menabrak punggung Calvin yg sudah berhenti sejak tadi.

"Cal, kalo mau berenti bilang-bilang dong!" ketus Kiara sambil mengusap-usap jidatnya.

Ia ingin berbicara lagi, namun niatnya itu diurungkannya saat melihat Calvin berdiri diam sambil memandangi sebuah makam yg berada di hadapannya. Anggita Maharani. Meninggal 17 Maret 2011. Kiara membaca nama yg tertulis di nissan itu beserta tanggalnya yg langsung mendapat kerutan di dahinya. Ia mendongak menatap Calvin dengan penuh tanda tanya.

"Cal, ini si--"

"Ini nyokap gue."

Jawaban Calvin yg barusan membuat Kiara terbelalak. "Enggak mungkin," Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukannya nyokap lo masih ada. Gue liat kemaren dia belanja bareng bo --"

"Itu nyokapnya, Rio." Ia menghembuskan nafas panjang saat mengatakannya.

Kiara beralih ke sisi Calvin. Matanya menatap cowok di hadapannya ini dengan bingung. "Nyokapnya Rio? Maksudnya apa sih? Gue gak ngerti," keluhnya. Dahinya berkerut meminta penjelasan.

"Nyokap gue meninggal 3 tahun yg lalu. Dibunuh sama Rio dan juga nyokapnya." Calvin mengambil jeda sesaat. Hatinya masih belum siap membuka luka dalam yg melubangi hatinya tiga tahun yg lalu.

"Cerita aja. Gue gak bakal nyela," kata Kiara sambil tersenyum tulus yg membuat luka di hati Calvin seakan berkurang denyutan perihnya.

Lagi-lagi Calvin mengambil nafas panjang. Ia mendongakkan kepalanya keatas untuk menahan tangisnya. Matanya sudah sedikit berkaca-kaca namun ditahannya. Ia harus kuat. Ia harus kuat untuk membuat Rio dan Mamanya mendekam di penjara. Harus.

It's Always Been YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang