#Problem 11

147 3 0
                                        

Kiara menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kepalanya masih pening meski demamnya sudah sedikit turun. Sebenarnya hari ini Reza sudah menyuruhnya untuk bolos. Bahkan sepupunya itu berjanji tidak akan terjadi apa-apa kalau ia bolos. Terang saja, Reza, Calvin, dan Aldi kan anak donatur terbesar sekolah jadi bisa bebas melakukan apa pun sesuka mereka karena tidak akan ada yg berani membantah. Sebenarnya Kiara juga salah satu anak donatur terbesar itu, namun tetap saja ia tidak bisa bolos seenaknya. Kenapa? Ya kenapa lagi kalau bukan karena Kak Bima? Ia lebih takut pada kakaknya itu dibanding dengan monster sekali pun.

Sebenarnya sih Kak Bima tidak sekejam itu. Malah kakaknya itu menyuruhnya istirahat di rumah plus kakaknya itu akan menjaganya. Itu artinya Kak Bima enggak akan ke kantor dan rela membatalkan semua meeting penting hanya untuk menjaganya di rumah. Namun tetap saja Kiara menolak. Bukan karena tidak bersyukur, namun karena hati ini ia akan menghadapi dua ulangan sekaligus. Dan yg terakhir adalah ulangan musik. Maka dari itu ia menolak untuk beristirahat di rumah.

"Lo masih sakit?" Dina memegang sejenak tangan Kiara yg masih terasa sedikit panas. "Kan udah dibilang jangan masuk sayang. Reza lagi latihan futsal. Kalo lo pingsan gimana?" kata Dina khawatir. Ia memijat-mijat punggung Kiara perlahan.

"Gue gak apa-apa, din. Cuma sedikit pusing aja." Suara Kiara terdengar serak.

Dina menggeleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya yg satu ini. Keras kepala. Bahkan mungkin bisa di bilang kepala batu. Udah tau sakit malah masuk. Cuma ulangan musik sama fisika doang kan? Dia bisa nyusul. Lagian Kiara itu pinter jadi gak masalah mau ulangan sendiri juga.

"Gue tau lo maksa masuk gara-gara ada ulangan musik kan? Ayolah, ra. Darah lo itu udah mengalir darah seorang pemusik jadi kenapa sih harus takut gak bakal dapet nilai bagus? Semua siswa disini juga tau kalo lo itu berbakat. Lo itu 'perfect' di bidang itu," cerocos Dina panjang lebar. Kadang-kadang ia jengah dengan sikap keras kepalanya ini.

"Sekarang ikut gue," Dina menarik tangan Kiara agar berdiri.

"Mau kemana?" tanya Kiara parau.

"Ke UKS. Dan gak pake ngebantah! Ulangan musik masih jam terakhir jadi lo harus istirahat. Atau gue bakal anterin lo pulang?" desis Dina tidak terbantahkan.

"UKS aja," ucap Kiara pasrah. Ia tidak bisa membantah perkataan Dina yg barusan karena Dina pasti tidak akan segan-segan melakukannya.

"Bagus. Ayo gue bantu."

Dina membantu Kiara berdiri. Ia baru sadar ternyata tubuh sahabatnya ini begitu ringan. Pantas saja jago melarikan diri sewaktu dikejar-kejar preman. Tapi anehnya pukulan serta tendangan Kiara begitu kuat. Jagoan taekwondo sekolah aja dibikin sujud-sujud di depan dia gara-gara meremehkannya. Sebenernya ngidam apaan sih emaknya dulu? Ckck.

Dina memeluk pinggang Kiara yg setengah menyandarkan diri pada badannya. Wajah Kiara pucat. Kepalanya semakin pening. Wajahnya dipenuhi keringat dingin. Jujur ia tidak tahan lagi. Kondisi badannya benar-benar tidak bisa diajak kompromi sekarang.

BRUK!

"Astaga Kiara!"

Tubuh Kiara yg lemah tiba-tiba jatuh ke lantai. Dina yg terkejut sontak langsung ikutan jatuh menahan badan Kiara agar tidak membentur lantai.

"Ra, bangun dong, ra! Jangan buat gue panik gini!"

Dina menepuk-nepuk sebelah pipi Kiara yg tidak sadarkan diri. Ia panik. Sementara itu sudah banyak siswa yg mengelilinginya. Mereka penasaran dengan apa yg tengah terjadi.

"Woy! Bantuin kenapa jangan pada diem doang! Emang lo kira ini pertunjukan wayang apa?!" bentak Dina tidak sabar pada orang-orang yg mengerumuninya. Tapi tetap saja tidak ada satu pun yg menolongnya. Mereka bukan tidak ingin menolong tapi bingung harus berbuat apa.

It's Always Been YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang