#Problem 19

123 3 0
                                        

Sudah tiga hari berlalu semenjak kejadian tidak bermoral yg dilakukan Rio terhadap Kiara. Namun sampai sekarang juga Kiara belum tau bahwa yg menolongnya waktu itu sebenarnya adalah Calvin. Semua ini karena janji Dina dan yg lainnya pada Calvin agar tidak membongkar semuanya di depan Kiara. Dina menepati janji itu dan Calvin pun demikian. Ia kembali ke rumah dan masuk sekolah seperti biasa. Meski saat istirahat ia lebih sering pergi ke atap sekolah untuk menghindar bertemu dengan Kiara. Dan sampai saat ini semuanya masih aman-aman saja.

"Sampe kapan kita mau gini terus?"

Dina membuka percakapan diantara mereka. Sekarang ia tengah duduk di kantin sekolahnya bersama dengan Reza, Aldi, Revan dan Dion. Revan dan Dion memang sengaja membolos dari sekolahnya masing-masing hari ini khusus untuk membicarakan masalah Kiara dan Calvin.

"Ya selamanya. Kan itu yg lo denger dari Calvin," jawab Reza sekenanya. Ia mengusap rambutnya sejenak.

"Tapi cepet atau lambat Kiara pasti bakalan tau semua ini, za!" sentak Dina tidak sabar. "Lo semua gak liat apa ekspresinya tiga hari belakangan ini? Dia ngarepin Calvin yg nolong dia waktu itu! Kalian ngerti gak sih?!"

Dina memukul meja hingga membuat beberapa mangkok makanan dan minuman bergetar. Wajahnya memerah menahan emosi.

"Kita juga tau itu, din. Tapi janji tetep janji. Kita gak bisa apa-apa," balas Revan parau. Sebenarnya ia juga ingin memberi tahu Kiara yg sebenarnya, namun karena janji itu ia mengurungkan niatnya.

"Lama-lama gue gak ngerti deh sama jalan pikirannya dia. Dia tuh cinta, tapi kenapa masih aja kayak gini!" semburnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ya, lo kayak gatau si bos aja, din. Kalo keras kepalanya kumat pasti ya gini." Kali ini Dion yg menjawab.

"Gue tau. Tapi kita semua gak bisa gini terus. Kasian Kiara."

Reza hanya bisa menghela nafas panjang. Ia menumpukan dahinya dengan sebelah tangan. "Terus, lo mau kasih tau Kiara? Gue sih fine-fine aja tapi kalo Calvin ngomel gimana?" tanyanya dengan nada lirih.

Tangan Dina mengepal di atas roknya. "Gue bakal coba bujuk dia. Dan kalo gak berhasil gue tetep ngasih tau Kiara kalo sebenernya yg nolongin dia dari Rio itu Calvin!" tandasnya cepat.

"Apa? Lo ngomong apa barusan, din?"

Suara sedikit serak dan parau membuat mereka menoleh. Dina dan yg lainnya langsung berdiri seketika. Jantung mereka berdegup kencang dengan wajah gelisah saat melihat siapa barusan berbicara. Kiara.

Kiara hanya bisa berdiri mematung di depan mereka. Tadi niatnya ia ingin mengajak Reza dan yg lain ngeband bareng untuk sekedar mengurangi rasa betenya hari ini, namun yg didengarnya justru hal yg begitu mencengangkan. Calvin yg menolongnya dari Rio? Tapi kenapa? Kenapa cowok itu enggak ada di kamarnya kemarin? Kenapa cowok itu meninggalkannya begitu saja setelah menolongnya?

Pikiran Kiara berkecamuk menjadi satu. Matanya masih menatap teman-teman di depannya dengan tatapan tidak percaya. Ia menyelidik kedua bola mata mereka satu per satu mencari sinar kebohongan di dalam sana. Tapi nyatanya yg ditemukan Kiara adalah pandangan kebenaran dan juga perasaan bersalah.

"Kenapa? Kenapa kalian bohongin gue?" tanya Kiara perlahan. Suaranya susah keluar seakan tercekat di tenggorokannya.

Dina yg melihat Kiara seperti itu langsung menghampiri sahabatnya. Ia hendak menyentuh tangan Kiara, namun ditahannya. Tatapan sahabatnya itu sendu bercampur amarah. Matanya menatap lurus kearah Dina bercampur tanda tanya.

"Gue bisa jelasin, ra," katanya berusaha menyentuh lengan Kiara namun langsung ditepis olehnya.

"Dimana Calvin? Dimana cowok itu?" tanya Kiara pelan namun terdengar tajam bagai sebilah pedang.

It's Always Been YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang