Mobil yg dikendarai Calvin melaju lalu berhenti tepat di depan pagar rumah Kiara. Calvin menoleh menatap Kiara yg masih terisak di sebelahnya. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan gadis itu sejak ia meninggalkan rumah milik sodara tiri brengseknya itu beberapa saat yg lalu. Ia bisa merasakan Kiara membalas genggaman tangannya dengan kuat bercampur gemetar. Kedua matanya tertutup meski airmata terus mengalir deras disana.
Ia menghela nafas lega saat melihat Kiara sudah tertidur. Keringatnya serta rambut dan dandanannya yg berantakan membuat hatinya sakit. Kenapa harus Kiara yg menanggung semuanya. Kenapa harus gadis ini yg kena? Untung saja para informan yg disewanya bekerja dengan sangat baik sehingga ia tiba di tempat kejadian tepat waktu sebelum Rio merenggut kepemilikan Kiara untuk selamanya. Karena jika mereka telat sedikit saja, mungkin mereka adalah orang kedua yg bakal tewas di tangannya setelah Rio.
Tanpa sadar sebelah tangan Calvin yg bebas mencengkram stir mobilnya kuat-kuat hingga menampakkan buku-buku tangannya memutih. Memejamkan matanya kuat-kuat saat ia mengingat apa yg dilakukan Rio pada Kiara beberapa saat yg lalu. Ia ingin menghajar cowok brengsek itu habis-habisan. Atau kalau perlu hingga cowok itu mati sehingga tidak bisa mengganggunya hidupnya lagi kalau saja ia tidak mengingat bahwa Kiara lebih membutuhkannya saat ini.
Lag-lagi Calvin menoleh kearah Kiara yg sedang tidur. Meski kedua matanya menutup namun Calvin bisa mengetahui bahwa tidur gadis itu tidak sepenuhnya tenang. Terlihat gadis itu mengekerutkan dahinya dengan ekspresi wajah yg terlihat seperti orang kesakitan. Genggaman tangannya yg berubah-ubah membuat Calvin yakin bahwa gadis ini masih memikirkan kejadian tadi atau kejadian tadi kembali mengganggunya dalam mimpi.
Calvin memalingkan wajahnya lalu bersender pada jok mobilnya. Matanya ikut terpejam. Nafasnya berhembus teratur meski masih sedikit tersengal karena terbentur emosi. Berani-beraninya Rio menyentuh Kiara hingga seperti ini. Tangan Rio mengepal di atas pahanya. Bibirnya gemeletuk menahan marah. Ah, sudahlah masalah Rio biar diurus nanti saja. Yg penting adalah bagaimana caranya bercerita pada Kak Bima dan juga teman-temannya yg lain tentang hal ini.
"Lepas... Lepasin gue, yo! Lepass..."
Teriakan Kiara disertai isakannya membuat Calvin terkejut. Ia membuka matanya kemudian langsung menatap Kiara yg kini tengah memberontak dalam tidurnya. Tubuhnya menegang. Tangannya meronta-ronta meminta dilepaskan.
Dengan cepat Calvin memajukan badannya lalu memeluk Kiara. "Sshh, tenang. Lo aman sekarang. Rio gak bakal nyakitin lo lagi," bisiknya perlahan tepat di samping telinga Kiara.
Perlahan Calvin merasakan tubuh Kiara yg tadinya menegang berubah menjadi tenang kembali dalam pelukannya.
"Jangan takut lagi. Ada gue disini. Gue bakal jagain lo. Gue janji."
Calvin mengeratkan dekapannya pada Kiara. Ia menghela nafas lega saat didapatinya Kiara sudah tertidur dengan tenang dalam dekapannya. Ia menyandarkan dagunya pada bahu gadis itu dan melihat sebuah bekas memerah pada leher gadis itu. Dan di kedua tangannya terdapat garis merah karena ikatan tali yg begitu kencang tadi. Perlahan emosi Calvin mulai kembali tersulut. Ia meremas tangannya kuat-kuat. Menutup matanya lalu berteriak di dalam hatinya.
Demi apa pun Rio, kalo lo sampe nyentuh Kiara lagi meski sedikit aja, gue pastiin tangan gue sendiri yg bakal ngirim lo ke neraka !
*****
Keesokan harinya Kiara terbangun di kamarnya. Sinar matahari yg menerobos dari balik gorden transparan membuat matanya mengernyit silau. Ia menggeliat, mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut, namun yg keluar justru ringisan.Ia merasakan badannya remuk dimana-mana dan rasa sakit di kedua tangan dan kakinya.
Kiara menoleh dan mendapati Dina tengah tertidur nyenyak di sebelahnya. Sementara Kak Bima berada di sisi lainnya sambil menggenggam sebelah tangannya. Kiara sedikit mengangkat kepalanya dan melihat Reza tengah tertidur di sofa dengan kedua tangan di depan dada. Sementara Aldi, Revan dan Dion tidur di bawahnya dengan menggunakan kasur tidur. Kiara mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa mereka semua ada disini? Emang sejak kapan ia mengadakan acara nginep masal? Pake acara ngajak Dion dan Revan pula.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Always Been You
Ficção AdolescenteKita ketemu tanpa sepotong rasa yg berarti. Sama-sama tidak peduli pada masing-masing hati. Hingga semua terjadi dan membuat aku tidak bisa memungkiri bahwa aku telah jatuh hati. Padamu yg (mungkin) takkan bisa terganti...
