Setelah pembicaraan yang dilakukan Risma dan Shena pagi tadi, dan berakhir dengan Shena yang menyetujui usulan mertuanya untuk periksa ke dokter kandungan besok. sekarang dia sudah berada di Cafe salah satu mall ternama dekat tempat kerja sahabatnya, Arini. Waktu menunjukkan pukul 12:30 pm, saat dirinya tiba. Shena mengedarkan pandangannya ke penjuru Cafe mencari tempat yang kosong, Keadaan Cafe yang padat pengunjung padahal bukan hari libur membuat Shena kesusahan mendapatkan tempat duduk .
Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya dia mendapatkan meja kosong dengan dua kursi di dekat pintu masuk. Arini juga belum datang padahal sudah lebih 30 menit dari waktu yang dijanjikan. Shena duduk di salah satu kursi yang menghadap pintu masuk, agar bisa langsung melihat saat sahabatnya datang.
"Hai, maaf telat," sesal Arini. Dia menarik kursi kemudian duduk tepat di hadapan sahabatnya.
Shena yang sedang melamun pun kaget saat mendengar sapaan sahabatnya, "Eh,,hai," jawab Shena dengan senyum yang dipaksakan
"Kamu lagi ngelamunin apaan sih?" tanya Arini sedikit mengernyitkan alisnya.
"Ar, bagaimana jika aku tidak bisa punya anak?" dengan raut wajah lesu Shena bertanya pada sahabatnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Arini sedikit kaget. "Apa terjadi sesuatu dengan dirimu?"
"Aku hanya sedang berpikir, Kami menikah sudah setahun lebih Ar, tapi sampai saat ini aku belum juga hamil, padahal aku tidak meminum pil untuk penundaan," jawab Shena. "Bahkan tanda-tanda hamil sampai saat ini pun belum terlihat."
"Apa Alfa menuntutmu untuk segera mempunyai anak?"
Shena menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Arini.
"Apa mertuamu?" lagi-lagi Shena hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu, kenapa kamu jadi lesu kaya gini, bukan kaya Shena yang aku kenal ceria dan banyak senyum." kata Arini.
Suasana hening sejenak, Arini sibuk membolak-balik buku menu. Sedangkan Shena, masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia sebenarnya tidak semangat keluar hari ini, tapi teringat janjinya pada Arini kemarin jadi terpaksa dia pun keluar rumah. Mungkin menemui sahabatnya bisa sedikit mengurangi beban pikirannya.
"Besok, Bunda ngajak aku buat periksa kandungan ke dokter." ucap Shena tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.
"Ya bagus dong, jadi bisa tahu kandungan kamu sehat apa tidak, kamu juga bisa konsultasi ke dokter biar bisa cepet hamil, terus aku dapat keponakan," seru Arini antusias.
"Terus, bagaimana kalau ternyata hasilnya aku tidak sehat?" Shena berkata dengan suara serak menahan tangisnya.
Shena benar-benar dilanda rasa takut. Bagaimana nasibnya kalau ternyata dia tidak sehat, apakah mertua dan suaminya masih akan mempertahankannya? banyak pikiran buruk yang melintas di benaknya, pemikiran yang belum tentu berakhir buruk, tapi Shena sudah ketakutan terlebih dahulu.
"Sekarang jangan pikirkan apapun dulu,ketakutan yang ada dipikiranmu itu belum tentu akan terjadi," hibur Arini. Lebih baik sekarang kita makan, setelah itu kita keliling Mall, "Kamu habiskan uang Alfa," ucap Arini sambil terkekeh.
Arini mengangkat sebelah tangan memanggil pelayan. Pelayan datang.
"Satu porsi ayam kecap dan nasi putih, minumnya es teh lemon, Kamu pesan apa?" Arini menyebutkan pesanannya kemudian bertanya pada Shena.
"Satu porsi udang asam manis dan nasi merah, minumnya es teh lemon juga."
Pelayan dengan sigap mencatat pesanan mereka.
"Satu porsi ayam kecap dan nasi putih, satu porsi udang asam manis dan nasi merah, minumnya dua gelas es teh lemon, ada lagi?" kata pelayan Cafe menyebutkan pesanan mereka.
"Tidak, terima kasih," ucap mereka berdua serempak.
Pelayan Pun pergi meninggal kan meja mereka untuk menyerahkan pesanan mereka kepada Chef di dapur restoran.
"Kamu tahu kan, aku selalu ada buat kamu, kesedihanmu kesedihanku juga, jadi kalau ada apapun jangan dipendam sendiri, kamu harus berbagi denganku, kita bisa cari solusinya sama-sama." Arini menggenggam tangan Shena yang berada diatas meja.
***
Shena dan Arini, mereka telah selesai makan siang. Sekarang mereka sedang berada di toko sepatu. Rencananya hari ini Arini ingin membeli sepatu sport untuk olahraga keliling komplek di tempat kostnya setiap minggu pagi.
Mereka jalan beriringan, sambil sesekali bercanda dan tertawa bersama. Arini merasa sedikit lega sahabatnya bisa sejenak melupakan kegundahan hatinya.
Walau sebenarnya tanpa Arini ketahui, Shena masih tetap merasa takut, namun ia menunjukan sikap seolah dirinya baik-baik saja agar sahabatnya tidak khawatir.
Ketika mereka melewati toko baju, tanpa sengaja Shena melihat pria yang mirip suaminya. Namun ia tidak sendiri, ada wanita dilihat sekilas seumuran dengan Shena.
Shena yang sedikit penasaran pun berhenti untuk memastikan benarkah itu suaminya, atau hanya dia yang salah lihat. Mata Shena membulat saat yakin itu adalah suaminya, dan wanita di sampingnya sedang bergelayut manja di lengan Alfa.
Shena diam terpaku di tempatnya menyaksikan kejadian di depanya. Pandangannya tak lepas pada objek yang sedikit di depan, kakinya lemas, jantungnya seakan ditusuk ribuan jarum, hatinya terluka, dadanya sesak menahan tangis.
Arini yang merasa sahabatnya tidak ada di sampingnya pun berhenti dan berbalik, ternyata Shena tertinggal di belakang.
Arini menatap sahabatnya yang diam tak bergerak dengan pandangan lurus kedepan di toko baju. Arini pun mengikuti arah pandang mata Shena. Dirinya terkejut, tangannya terkepal, rasanya ia hampir meledak menghampiri Alfa, mewakili sahabatnya menanyakan apa maksudnya keluar dengan wanita lain yang seperti Koala menempel di lengannya.
Arini hampir melangkah namun urung saat tanganya di tarik oleh Shena.
"Kita pulang,Ar." ajak Shena dengan air mata yang sudah mengalir di pipi nya.
"Tapi, kita harus menanyakan ke Alfa dulu, apa maksudnya ini, apa dia bermaksud selingkuh di belakangmu," geram Arini.
"Mungkin hanya rekan kerjanya, nanti di rumah aku tanyakan ke mas Alfa, kita pulang saja, maaf kita tidak jadi jalan-jalan."
"Tidak apa, ayo kita pulang kalau itu mau mu," Arini mendengus kasar. "Tapi lihat saja, aku bakal bikin perhitungan sama Alfa kalau ternyata wanita itu adalah selingkuhanya."
"Jangan," mohon Shena.
"Astaga, hatimu terbuat dari apa Shena, kamu masih membela Alfa disaat seperti ini," geram Arini sambil menarik tangan Shena untuk pergi dari mall, "Ayo kita pulang."
"Ingat ya, begitu Alfa sampai di rumah, kamu tanyakan siapa wanita tadi," Arini mengingatkan Shena. "Setelah itu kamu telpon aku, ceritakan semuanya padaku, jika benar wanita itu adalah selingkuhan Alfa, maka aku akan menghabisinya."
Keluar dari mall, mereka memberhentikan taksi, dan pulang kerumah orang tua Alfa.
Di sepanjang perjalanan Shena hanya diam, namun air matanya sesekali masih membasahi pipi. Arini yang tahu sahabatnya butuh sendiri, ia pun tidak mengganggunya, hanya sesekali memperhatikan dari samping sambil menghela nafas mendengus kasar.
Ia tahu sahabatnya terluka, karena ia pun merasakan luka saat melihat sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara tersakiti. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali selalu ada disampingnya memberi semangat.
#bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
BADAI PERNIKAHAN (End)
RomanceJika takdir berkata kita tak bisa lagi bersama, maka aku berharap digariskan pada takdir yang indah. (Shena) *Keseluruhan isi cerita belum di edit.
