"Masih banyak lelaki lajang di luar sana. Kenapa harus duda beranak yang dipilih, Ranti? Lamaran dari keluarga Pak Tumiyo, juragan kopi yang ingin menjadikan menantu untuk anak bungsunya pun kamu tolak. Apa kurangnya Dery? Dia gagah, tampan, anak orang kaya. Hidupmu pasti terjamin. Kamu malah buat Pakde kecewa dengan menolaknya!" Amarah Pakde Larso kakak tertua Mak masih terngiang jelas di ingatanku.
"Bang Dery nggak ada kekurangannya, Pakde. Hanya saja Ranti sudah nyaman sama Mas Nugroho. Biarpun Mas tidak sekaya keluarga Pakde Tumiyo, tetapi dia punya kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki oleh Bang Dery. Maafin Nduk, ya, Pakde."
"Kamu itu anak perempuan satu-satunya di keluarga ini. Pakde bukan ingin mengekang pilihanmu. Tidak seperti ketiga Masmu yang Pakde biarkan memilih pendamping hidupnya sendiri. Pakde cuma mau yang terbaik untuk kehidupanmu, Nduk. Paling tidak kalau Pakde dan Makmu dipanggil sama Gusti Allah, kami bisa pergi dengan tenang. Wes nurut ya, Nduk, nikah sama Dery!"
"Ranti nggak mau, Pakde. Dulu, Mak dan Pakde yang selalu mengajarkan Ranti untuk jangan menilai orang lain dari hartanya. Tetapi kenapa sekarang malah Pakde yang memandang seseorang dengan harta!"
"Pakde nggak bandingkan harta keluarga Dery dan Nugroho. Pakde hanya mau kamu menikah dengan lelaki lajang itu saja, Ranti. Apa mau seumur hidupmu dihabiskan dengan mengasuh anak dari mantan istri Nugroho?"
"Kalau Mas Nugroho dan keluarganya saja mau menerima kekurangan Ranti, maka dengan ikhlas, Ranti pun rela kalau harus menghabiskan seumur hidup untuk merawat anaknya. Apa keluarga Bang Dery mau menerima kalau mereka tahu siapa Ranti sesungguhnya? Untuk keluarga terpandang seperti mereka, Ranti rasa, tidak akan sudi bermenantukan seseorang yang tak jelas asal usulnya. Tetapi keluarga Mas Nugroho mau menerima Ranti dengan tangan terbuka, Pakde."
......
**
Yang ini sesuai dengan karakter Ranti 1.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yang ini sesuai sama judulnya 2.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Adakah kira-kira yang mau bantu pilih sampul buat cerita baru saya?