Saat ini aku sedang duduk santai di kantin usai mata kuliah pertama selesai. Aku memesan bakso Mang Imam kegemaran setiap mahasiswa-mahasiswi di kampus ini. Tak cuma itu, dosen beserta pegawai kampus pun sering terlihat nongkrong di kantin ini.
Aku mendengar banyak suara di kantin ini yang menganggungku. Bukan hanya suara pikiran manusia, tapi juga ada makhluk tak kasat mata yang sudah menyadari keberadaanku yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Aku terus berusaha menghindari dari tatapan mata mereka yang memerhatikanku sedari tadi. Ini sungguh sangat menyusahkanku.
“Bunda. Kumohon bantu aku di sini,” bisikku yang memanggil Bunda untuk menolongku. Aku berharap, suara bisikanku tak ada yang mendengarnya.
Tak lama, aku mencium aroma khas Bunda menghampiri diriku dengan aura panas yang menyesakkan dadaku. Seketika, semua makhluk itu menyurut dan energiku seperti kembali pada tubuhku. Tak ada satu pun lagi dari mereka mendekatiku atau berbicara padaku lagi. Setiap makhluk halus pasti tahu mana yang bisa melihat dan berinteraksi dengan mereka, dan mana yang tidak bisa menyerap energi mereka. Dan saat ini, mereka tahu bahwa aku bisa melihat serta berinteraksi dengan mereka.
“Terima kasih, Bunda,” bisikku lagi dan memberi sebuah senyuman terima kasihku untuknya.
Bunda pergi meninggalkanku begitu saja. Dan sebuah kilasan menghampiri diriku. Ternyata ada dua orang sedang memperhatikanku. Keduanya melihat aku sedang berbicara sendiri. Saat ini, yang satunya sangat curiga padaku, tapi yang satunya lagi seperti … hm … ia sepertinya sudah menebak aku siapa dan ia semakin yakin dengan tebakannya? Ya! Yang satunya lagi memandangku dengan senyuman kepuasan. Yang menatapku curiga, ia sedang sangat penasaran denganku. Aku tahu siapa mereka. Langsung aku bangkit dari dudukku dan keluar dari kantin. Kerisihan mulai menghampiri diriku. Aku tidak suka diperhatikan ataupun ada yang penasaran terhadapku. Itu sungguh tidak sopan.
Sebelum benar-benar keluar dari kantin, aku melihat ke arah meja yang tak terlalu jauh dari meja yang kutempati tadi. Seorang pria sedang celingak-celinguk mencari keberadaanku, dan yang satunya lagi entah ke mana gerangannya. Itulah kilasan yang menghampiriku tadi. Kalian tahu siapa dia? Dia adalah Faeyza. Si ketua BEM FK yang waktu itu menolongku dan orang itu baru saja siap siding jam 10.33 WIB. Dari mana aku tahu? Ah, sudah kukatakan aku tahu segalanya!
Aku ingin melangkahkan kakiku pergi dari tempat berdiriku. Sebentar lagi jam mata kuliah kedua untuk hari ini akan segera dimulai. Tapi, langkahanku tertahan oleh sebuah tubuh kekar yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapanku.
“Perhatiin siapa? Atau … lagi cari aku yang tiba-tiba hilang dari dekat Faeyza?”
Ah, ini dia si pria yang menatap puas tadi. Tahukah kalian siapa? Dia adalah pria yang disebut Maudy sering memperhatikanku di mana pun dan kapan pun padahal aku tidak merasakannya. Aku tersenyum kecil padanya dan sedikit geli dengan ucapannya tadi. Dia sangat kepedean. Aku sama sekali tidak mencarinya.
“Hai, Kak,” sapaku dengan senyuman kecil masih menancap di bibirku.
“Mau ke mana?”
“Masuk kelas, Kak.”
“Kamu … indigo, ya?”
Aku masih tersenyum kecil. “Kakak selalu perhatiin aku, ya? Hm … ketahuan,” ujarku yang kini membalas ledekannya yang tadi menuduh aku mencari dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zenia [Terbit]
FanfictionKenapa sulit sekali untukku melihat masa depanku? Aku bisa melihat masa depan orang lain yang berputaran dengan rizeki, jodoh, bahkan kematian. Lalu, kenapa aku tidak mengetahui hal yang bersangkutan dengan diriku? Bahkan, kehadirannya saja aku tida...
![Zenia [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/155042581-64-k710956.jpg)