“Ze. Bangun!!!”
Aku merasakan tubuhku digoyang-goyang oleh seseorang dengan namaku yang terus saja disebut oleh orang itu.
“Ze!!!”
Lagi! Aku kembali merasakan tubuhku digoyang dan namaku dipanggil berulang kali.
“Zenia!”
Akhirnya aku membukakan mataku dan sedikit demi sedikit tubuhku kembali normal dan menghangat. Aku melihat sekeliling ruangan ini, dan kusadari bahwa kejadian tadi bukanlah mimpi belaka. Mataku tertuju pada Faeyza yang sedang duduk tepat di depanku dengan raut wajah menampakkan kekhawatiran. Wajah itu membuat aku luluh dan kasihan padanya. Dia mengkhawatirkan diriku yang menolak kehadirannya.
Aku kembali melihat sekeliling ruangan ini. Ini bukan lagi ruangan yang tadi sebelum aku tidak sadarkan diri. Ini ruangan yang amat kuhindari sepanjang masa. Aku tahu suasana tempat ini. Tidak perlu kutanyakan padanya aku sedang di mana karena ini rumah sakit mamaku. Kulihat jarum infus tertancap degan indah di tangan kananku. Kulihat ke arah Faeyza yang terus saja memberikan tatapan khawatir kepadaku. Kenapa dia bisa bersikap seperti itu sedangkan aku selalu menjauhinya? Tidak ada yang special dari kehidupan kami sebelumnya yang bisa dijadikan alasan untuk ia terus mengusik hidupku.
“Maaf!”
Hanya itu yang bisa kukatakan. Faeyza menghadiahkanku sebuah senyuman yang membuat hatiku semakin luluh. Setelah kejadian ini, apakah aku masih bisa menolaknya dari kehidupanku?
Aku bangkit dari tidurku yang dibantu oleh Faeyza. Ia memberiku segelas air mineral yang langsung kuterima dan kuteguk hingga tandas membuat Faeyza terkekeh geli. “Kenapa?” tanyaku sedikit judes dan bingung sembari memberi gelas kosong itu pada Faeyza.
“Haus banget, Neng?” tanya Faeyza dengan tampang gelinya dan aku hanya memasang tampang bodoh amat. Memang aku harus sekali. Setelah kejadian tadi … tubuhku melemah. Aku lapar dan haus.
“Aduh!! MK Pak Bonar sudah lewat, nih!!!” pekikku saat melihat jam tanganku menunjukkan pukul 10.30 WIB, yang tandanya mata kuliah jam pertama di hari ini sudah selesai 10 menit yang lalu. Pandanganku kembali tertuju pada Faeyza yang dari tadi sibuk memandangku dan gerak-gerikku. Seketika, aku merasa pipiku ini memanas. Faeyza tersenyum semakin lebar di depanku membuat aku jengkel setengah mati.
“Apa lihat-lihat?” tanyaku dengan tatapan sinis nan judes. Tapi Faeyza lagi-lagi hanya tersenyum merespon kejudesanku.
“Cantik!” jawabnya yang terus memandangku. Hal itu membuatku semakin malu.
“Memang!” jawabku mencoba seperti biasa saja dan pede menjawab perkataan Faeyza sampai menimbulkan gelak tawa miliknya yang tidak ingin kupedulikan.
“Ze!” panggil Faeyza setelah tawanya mereda. Tatapannya yang serius tertuju padaku. Aku tidak menjawabnya. Diriku malah melihat saja ke arahnya dan mencondongkan kepalaku ke depan pertanda aku menanya ‘ada apa’. Untungnya Faeyza mengerti gerak-gerikku. Kalau dia tidak mengerti, berarti dia enggak pandai. Sebuah kilasan menghampiri membuat aku tahu apa yang akan dikatakan dan dibicarakan oleh Faeyza.
“Kamu sebenarnya tadi kenapa?” tanya Faeyza dengan kelembutan yang sedari tadi ia berikan padaku. Ia semakin mendekatku membuat aku sedikit menjadi salah tingkah. Gadis dengan tingkat kepedean yang tinggi pasti juga akan salah tingkah jika diperlakukan manis oleh pria mana pun jika kita mengetahui isi hati orang tersebut — yang nggak tahu isi hati orang saja bisa salting apa lagi aku yang tahu isi hati dia. Apa lagi aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Hal itu jelas membuat aku risih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zenia [Terbit]
Hayran KurguKenapa sulit sekali untukku melihat masa depanku? Aku bisa melihat masa depan orang lain yang berputaran dengan rizeki, jodoh, bahkan kematian. Lalu, kenapa aku tidak mengetahui hal yang bersangkutan dengan diriku? Bahkan, kehadirannya saja aku tida...
![Zenia [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/155042581-64-k710956.jpg)