Pukul 3 sore waktu Singapura aku dan Maudy keluar apartemen dan menaiki MRT menuju ke Gardens by The Bay. Awalnya aku tidak mau ke sana di jam segini karena aku ingin ke Taman Merlion melihat patung air mancur setengah ikan dan setengahnya lagi singa. Namun, Maudy memaksa sehingga aku tidak tega menolaknya.
Saat tiba di dalam Garden by The Bay, Maudy yang memang terbiasa dengan kamera langsung memindahkan kameranya ke tanganku memintaku memotretnya. Dengan terpaksa, aku memotret Maudy dengan banyak gaya yang membingungkanku. Sedangkanku, aku hanya mengabadikan beberapa gambar saja di iPhoneku yang tentunya tidak ada tubuhku di dalam sana.
Sedang asik aku melihat-lihat, seseorang wanita yang mungkin seumuran denganku mendekatiku dan menegurku dengan baik. “Excuse me, Miss. Sorry I disturbed your comfort. Hm, is that your real eye?” tanya orang itu yang menunjuk ke arah mataku. Aku tertegun karena melupakan sesuatu. Hampir sebulan di Singapura dan hanya berkunjung ke rumah sakit membuat aku lupa kalau aku keluar saat ini tidak menggunakan soflen. Dengan canggung, aku menganggukkan kepalaku.
“Wow! Awesome! May I take a picture with you?”
Aku melirik bingung ke arah Maudy. Hei! Yang artis ataupun anak artis bukanlah diriku. Tapi sahabatku itu yang sedang asik berjalan di depankulah yang seorang artis. Kenapa aku yang diajak foto?
Akhirnya, dengan canggung aku menjawab, “Ah, ya! Please!”
Ia memberi ponselnya pada temannya dan kini dirinya berdiri di sampingku. Dengan canggung aku tersenyum dan mulai dipotret oleh orang lain. Seperti inikah rasanya ketidaknyamanan dalam berwisata? Hahaha, aku rasanya ingin tertawa sendiri. Di sini, aku tidak dianggap aneh melainkan mengagumkan. Sedangkan di tempatku tinggal, aku sangat dianggap aneh. Tapi, aku tidak tahu bagaimana kalau aku tidak pakai soflen ke kampus. Apakah dianggap aneh, atau unik! Sepertinya, aku harus mencobanya!
“Thank you very much. Happy traveling,” ucap wanita itu yang menjabat tanganku dan kubalas dengan anggukan.
“Wow! Artis lo hari ini,” ujar Maudy sambil terkekeh melihat kebingunganku. Sedangkan aku, hanya bisa mengedikkan bahu saja dan mulai melangkah lagi.
Usai dari Garden by The Bay, kami naik MRT lagi Taman Merlion seperti yang kuharapkan tadi. Tiba di sana, aku sangat senang karena akhirnya aku memijakkan kaki di sini. Aku memang terlahir dari keluarga yang berlimpah hartanya, tapi untuk ke luar negeri atau keluar dari Jakarta Pusat, inilah kali pertamanya. Aku tidak pernah liburan sekali pun. Dan jelas saja aku akan tampak senorak ini begitu aku dan Maudy tiba di Taman Merlion. Sedangkan Maudy, ia terlihat seperti sudah terbiasa. Terlihat dari dirinya yang mengerti harus naik MRT mana untuk hendak ke sini.
Kami sempat ber-selfie ria beberapa kali. Bukan hanya itu, dengan tidak malunya Maudy yang tampak ingin menyenangkanku meminta bantuan orang yang berlalu-lalang mengfotokan kami. Aku sangat suka berada di dekat Maudy karena ia sangat tahu bagaimana diriku.
“Setelah ini, kita mau ke mana lagi?” tanya Maudy saat kami duduk di bangku taman yang sedang kosong.
“Singapura Flyer mau?”
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
“Kenapa?”
“Kejauhan dari apartemen. Kita ke mall aja, yuk!”
“Lah! Ngapain?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Zenia [Terbit]
FanfictionKenapa sulit sekali untukku melihat masa depanku? Aku bisa melihat masa depan orang lain yang berputaran dengan rizeki, jodoh, bahkan kematian. Lalu, kenapa aku tidak mengetahui hal yang bersangkutan dengan diriku? Bahkan, kehadirannya saja aku tida...
![Zenia [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/155042581-64-k710956.jpg)