Entah sudah berapa kali ponsel itu berbunyi aku pun tidak hitung lagi. Isinya tetap sama dan akan terus sama kalau aku belum membalasnya. Entah kenapa, orang itu sangat gemar spam chat membuat aku kesal sendiri. Karena kesal mendengar banyak pesan masuk, aku meraih ponselku dan tidak membuka pesan itu melainkan langsung menelepon orang yang sedari tadi mengirimku banyak pesan.
“Kenapa sih Kak ribut amat?” tanyaku yang kesal namun masih kucoba dengan suara lembut begitu panggilan itu dijawabnya. Aku mendengar ia terkekeh mendengar tawanya di seberang sana.
Sebuah getaran terasa dan kulihat layar ponselku yang tadinya menunjukkan sedang teleponan berubah menjadi mode video call. Aku menggeserkan bentuk telepon berwarna hijau lalu menyenderkan ponselku pada gulingan. “Kenapa sih, Kak?” tanyaku yang kini sedikit mengeram karena semakin kesal dengan sikapnya hari ini.
“Jam berapa ke bandaranya?”
Tanpa melihat pada orang yang memberi pertanyaan, aku menjawab, “Satu jam lagi!”
“Maaf ya aku enggak bisa temanin kamu di sana. Tapi kamu harus janji, tetap di samping Tante Dara dan cari semangat kamu bagaimana pun caranya.”
Aku melirik Faeyza yang ada di balik layar ponselku dan tersenyum hangat. Dia selalu perhatian padaku. Lalu, kenapa aku selalu kesal dulunya sama itu orang? Ah, mungkin karena saat itu aku belum mau menerima takdir ini dan hanya memikirkan bahwa aku ingin hidup bebas saja. Tanpa niat mencari tahu siapa jodohku. Tapi dia yang tidak kuharap kehadirannya, datang menghampiriku begitu saja. Takdir memang tidak ada yang bisa menebaknya. Aku menganggukkan kepalaku atas permintaannya.
Entah kapan mulanya kami akrab seperti ini aku pun tidak mengerti. Kemarin, saat ia mengantarku, kami hanya bersikap layaknya teman biasa. Tidak ada special di antara kami. Tapi pagi ini, perkataannya tampak special untukku. Dia sungguh perhatian padaku bahkan selalu perhatian. Tapi entah kenapa pula, mata ini baru terbuka di detik ini.
Aku kembali menyibukkan diri membereskan barang bawaanku. Kami sama-sama diam dan aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Faeyza. Namun, gerakanku terhenti dengan sebuah kata yang dikeluarkan pria itu. Aku tidak tahu harus berkata apa dan harus bersikap bagaimana.
“Aku suka kamu, Ze!”
Mendengar kalimat itu, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Rasa aneh pada diriku membuat aku semakin menegang. Jantungku berdegup sangat kencang melebihi dari biasanya. Padahal, aku memang bisa melihat jelas bahwa Faeyza menyukaiku. Tapi saat ia mengatakannya langsung, rasanya sangat aneh. Perutku melilit dan rasanya ingin muntahkan semua isi yang kumasukkan ke perutku tadi saat sarapan. Bukan hanya itu, aku ingin tersenyum. Senyuman itu tidak bisa kusembunyikan dari wajahku tapi aku berusaha menyembunyikannya di depan Faeyza. Aku melirik layar ponselku, tapi tak menampakkan lagi sosok Faeyza melainkan layar yang mati.
Tuhan, apakah ini mimpi?
Benarkah tadinya Faeyza mengatakan bahwa ia suka padaku?
Senyum semakin mengembang di bibirku. Sikap manisnya memang telah meluluhlantahkan egoku yang dulunya menolak sosok Faeyza di sisiku. Dan, inikah rasanya jatuh cinta? Sungguh indah rasa ini, Tuhan!
※※※
Sebuah pesan masuk di ponselku saat aku baru memasuki pesawat. Sebuah pesan yang membuat aku ketar-ketir dan tersenyum-senyum sendiri. Sejak kapan Faeyza berlaku semakin manis walaupun kami tidak bertemu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Zenia [Terbit]
FanfictionKenapa sulit sekali untukku melihat masa depanku? Aku bisa melihat masa depan orang lain yang berputaran dengan rizeki, jodoh, bahkan kematian. Lalu, kenapa aku tidak mengetahui hal yang bersangkutan dengan diriku? Bahkan, kehadirannya saja aku tida...
![Zenia [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/155042581-64-k710956.jpg)