That Was Actually He Is

61 7 0
                                    

Sebuah makanan ringan besar terus dijumput Taehyung sedikit demi sedikit. Ia terus menancapkan matanya pada televisi dengan panjang hampir satu meter itu. Sepak bola. Acara itu tidak membuat Taehyung menggebu-gebu. Wajahnya lempeng sambil mengunyah. Ia akhirnya menaruh makanan ringan dari pangkuannya ke samping tubuhnya sambil mengambil soda dan mematikan TV. Taehyung meminum soda kalengan itu sambil melihat jam tangannya. Pukul 12 malam. Ia memutuskan untuk berjalan sambil menjilati jari tangan karena bumbu kuning yang lekat mewarnai jarinya. Tak lupa ia juga membawa sodanya. Hingga sampai di belakang teleskop, ia mulai mengintip melalui lensa teleskop itu. Bukan bulan, namun pemandangan roof top sebuah rumah.

Di sana duduk seorang wanita berambut panjang yang tergerai sedang duduk bersila sambil memandang bulan yang bersinar terang. Seperi biasa, beberapa buku mengelilinginya. Taehyung langsung melihat wanita itu dengan mata telanjang sambil meminum sodanya.

"Dia sangat bekerja keras. Tapi kenapa pikirannya selalu tidak fokus. Kau memikirkan apa?" Ucap Taehyung yang mulai beranjak dari tempatnya berdiri.

"Bulan..." Bisik suara seseorang yang menghentikan langkah Taehyung, hingga pria tinggi yang memegang soda itu kembali berbalik melihat wanita yang memandang langit. "... Kenapa aku harus seperti ini? Kau tahu, semenjak aku bertemu dengan Oppa itu, aku jadi selalu ingin melindunginya. Bagaimana aku bisa melakukan itu? Bagaimana aku bisa menemukannya jika ice cream kemarin adalah yang terakhir."

Kenapa kau memikirkan Hyung itu? Pekik batin Taehyung melihat serius ke arah Raein yang mulai memejamkan matanya.

"Setiap malam aku selalu di sini. Memandang bulan, sambil melupakan buku-bukuku. Aku selalu memikirkan Oppa itu..." Ucap batin Raein kembali membuka mata. "...karena dia menggetarkan hatiku."

Suara bisikan hati yang terus terdengar oleh Taehyung dan itu membuat Taehyung meremas kaleng sodanya yang telah kosong. Hal itu membuat awan-awan menutupi bulan secara penuh. Spontan Raein terkejut akan hal itu.

"Astaga! Bibi pernah melarangku untuk berbicara pada bulan. Apa kau cemburu aku suka dengan Oppa itu?" Ucap Raein sambil membelalakkan matanya ke langit.

Di sisi lain Taehyung menahan amarahnya. Ia menghela nafas sambil memandang Raein. Sontak hal itu membuat angin meminggirkan awan hingga bulan kembali bersinar.

"Aku tahu, aku tak akan curhat lagi padamu! Mengerti?!" Ucap Raein kesal pada bulan lalu ia merapikan semua buku-bukunya. Raein langsung memasuki rumah setelah itu.

"Jangan! Haish! Kenapa alam sangat peka dengan perasaanku. Yash!!!" Ucap Taehyung kesal lalu membuang kaleng itu keluar jendela.

Setelah menutup pintu, Raein mendengar suara kaleng terlempar di roof-top-nya. Sontak membuat Raein langsung kembali ke roof top untuk melihat apa yang terjadi. Ia melihat kaleng soda yang telah peyok. Raein langsung memungutnya dan melihat gedung di sekitar rumahnya. Terlihat gedung yang lebih tinggi dari roof top rumah Raein sangat jauh. Selepas itu hanya atap-atap rumah warga. Tanpa memikirkan lebih jauh, Raein langsung membuang kaleng itu ke tempat sampah. Dari kejauhan Taehyung mengintip kejadian itu lewat gordennya.

***

Soonah terlihat terus mencuri pandangan Jin. Tampak Jin tengah fokus dalam meneliti berkas-berkas yang harus ia tanda tangani. Tak lama kemudian, Jin melihat ke arah Soonah tepat saat Soonah melihat Jin. Hal itu membuat Soonah salah tingkah.

"Emmm... Tuan. Apakah kau menikmati ice cream kemarin?" Ucap Soonah mulai mencairkan hatinya.

Jin langsung melempar pandangannya pada berkas. "Tentu. Itu sangat enak."

Let 'Her' GO [COMPLETE✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang