Chapter 18

7.7K 730 115
                                        

.

.

.

Musim panas akhirnya berakhir digantikan oleh musim gugur yang mulai terasa dingin tetapi indah. Lihat saja apa yang dilakukan ketiga anak termuda keluarga Kim di taman belakang rumah sepulang sekolah. Taehyung dan Jungkook sedang saling melempar daun kering satu sama lain, sedangkan Jimin tengah duduk manis di kursi taman dengan Yeontan di dekapannya. Mereka tertawa bersama sore itu.

"Jimin hyung! Jadi siapa menurutmu yang lebih tampan? Aku atau Taehyung hyung?" tanya Jungkook pada Jimin setelah beradu argument tentang 'siapa yang lebih tampan' dengan sang kakak.

"Kau pasti akan memilihku kan, Jim?" tanya Taehyung dengan nada ancaman.

Jimin hanya tertawa di tempatnya dengan tangan yang mengelus-elus Yeontan. Walau wajahnya tampak pucat, Jimin tak pernah memudarkan senyumnya melihat tingkah bodoh kedua saudaranya itu.

"Aku yang paling tampan!" sambar Seokjin yang datang dari dalam rumah. Ia pun mendudukan dirinya di sebelah Jimin yang menatapnya bahagia.

"Kami tak mengajakmu, hyung!" protes Taehyung.

"Udara mulai dingin, masuklah! Aku yakin kalian berdua belum mandi sepulang sekolah. Aku tidak mau makan malamku terganggu dengan bau kalian."

"Enak saja! Kami tidak bau, hyung!" kini giliran Jungkook yang protes.

"Sudah, masuklah! Jimin juga harus masuk. Tae, bawa peliharanmu ini!"

Taehyung, walaupun dengan wajah kesal, mengambil Yeontan dari pangkuan Jimin.

"Mau hyung gendong, Jim?" tanya Seokjin kala mereka hendak beranjak masuk.

"Tak apa, hyung. Aku masih bisa berjalan," jawabnya dengan senyum.

Seokjin pun membantu Jimin untuk berdiri dan menggandeng tubuhnya, bersiap jika tubuh itu tiba-tiba limbung dan terjatuh. Ia merasa sedih ketika merasakan tubuh ringkih itu semakin kurus. Keadaan Jimin memang tidak bisa dikatakan baik. Walaupun saat ini ia terlihat biasa saja, tetapi tak ada yang bisa memprediksi keadaannya satu jam ke depan. Tubuh itu semakin lemah karena penyakitnya.

"Yang lain sudah pulang, hyung?" tanya Jimin di sela napasnya yang memberat.

"Namjoon masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Yoongi dan Hoseok sepertinya melakukan project bersama. Keduanya masih di studio."

Jimin nampak mengangguk-angguk menanggapi jawaban Seokjin.

"Mau menjemput mereka?"

"Bolehkah?" tanya Jimin riang.

"Tentu, setelah makan malam."

"Call!"

.
.
.

"Bisa kau copy berkas tadi dan simpan di mejaku?"

Suara Namjoon yang keras terdengar sampai ke dalam ruangannya, tempat di mana ke-empat saudaranya berkumpul. Jadi ketika pria jangkung berjas itu memasuki ruangannya, ia dikejutkan oleh kehadiran mereka yang mendadak.

"Namjoonie hyung!" panggilan Jimin mengawali.

"Oh? Ada apa kalian di sini?" walaupun terkejut, ia tak bisa menyembunyikan raut bahagianya melihat saudara-saudaranya setelah hari yang melelahkan.

"Jimin hyung ingin menjemputmu. Setelah ini kita juga harus menjemput Yoongi hyung dan Hoseok hyung."

Namjoon berjalan ke arah meja kerjanya dengan ragu. "Tapi aku masih ..."

FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang