Karena nyatanya... sebagai seseorang yang ingin disebut sahabat yang baik untuk Hana ia tidak mempunyai keberanian lebih untuk mendekapnya.
***
Hana sudah sampai di sekolah pukul enam lebih lima belas. Ia langsung memasuki kelasnya dan menenggelamkan kepalanya. Satu persatu teman sekelasnya mulai berdatangan. Beberapa mungkin menatapnya aneh, sebab Hana yang biasanya datang langsung membaca buku sekarang terlihat menenggelamkan kepalanya tak bersemangat. Ia tidak peduli dengan pikiran orang lain terhadapnya, tidak pernah peduli, dan tak pernah mau peduli.
Hana yang dalam posisi itu bisa merasakan bahwa kursi di sampingnya sudah terisi. Itu artinya Kara sudah datang.
"Lo sakit?" itu pertanyaan pertama yang Kara lontarkan padanya.
Masih pada posisinya Hana menggeleng.
"Jangan bohong." desak Kara. Meletakkan tangannya pada punggung Hana sedikit menggungcangnya.
"Gue gak bohong."
Secara fisik Hana memang tidak sakit, ia tidak berbohong. Hatinyalah yang sedang sakit sekarang. Sangat sakit. Kebenaran tentang penyebab kedua orang tuannya berpisah itu menampar dirinya. Demi apapun, ia sangat sakit sekali.
"Kalau lo sakit bilang aja sama gue." Kara mendekatkan jaraknya dengan Hana. Agak membungkuk untuk melihat wajah Hana. Kara lalu berbisik di samping telinga gadis itu. "Gue dengan senang hati anter lo ke UKS. Sumpah gue lagi males belajar matematika hari ini." keluhnya.
Hana mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak lama bel tanda pelajaran pertama dimulai berbunyi. Bisik-bisik mulai lenyap bersamaan dengan suara derap langkah kaki memasuki kelas. Pelajaran bertama dimulai. Namun, Hana masih bertahan di posisinya sebelumnya. Membuat Kara menatapnya keheranan tak terkecuali dengan yang lainnya.
Entahlah, rasanya hari ini Hana tidak berminat melakukan apapun. Iamencoba bercermin pada dirinya sendiri. Namun yang dilihatnya adalah ia yang semakin merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
"Yahh... matematika." keluh Kara detik berikutnya terdengar suara gedebuk tumpukan buku di atas meja yang disimpan dengan asal oleh pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Kara.
Waktu begitu cepat, Hana tidak menyangka bahwa sudah satu jam pelajaran ia seperti ini.
"Dia kenapa sih, lagi nyari perhatian atau apa." telinga Hana cukup tajam untuk mendengar bisikan teman yang berada di belakangnya.
Hana tiba-tiba menegakan tubuhnya. Tidak peduli dengan matanya yang sembab dilihat oleh Kara dan teman-temannya. "Ke UKS."
***
Kara yang kaget karena Hana yang tiba-tiba bangun hanya terdiam. Sebelumnya Kara bersikap seolah tidak penasaran walaupun sebenarnya ia sangat penasaran kenapa teman sebangkunya sedikit aneh hari ini. Tapi, Kara menelan bulat-bulat pertanyaannya. Meyakini bahwa Hana yang sering terlihat tak memiliki emosi itu pasti akan tersandung masalah juga. Sama halnya dengan setiap seseorang yang memiliki sesuatu yang tak bisa diceritakan pada orang lain. Begitupun dengan masalah. Semua manusia memiliki masalahnya masing-masing.
"Anter ke UKS." ulang Hana.
Sesaat Kara sempat terdiam mendengar apa yang Hana katakan padanya.
Setelah itu Kara pun meminta izin kepada guru matematika yang sedang menulis di papan tulis dan mengizinkannya.
Sekarang Kara dan Hana sudah berada di UKS. Kara tersenyum masam menatap punggung Hana yang sedang berbaring memunggunginya. Merasa berterimakasih sekali pada teman sebangkunya itu karena selalu mengerti dirinya di segala cuaca. Menghindarkannya dari pelajaran matematika yang membosankan, memuakan, dan memusingkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Teen Fiction"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
