Pagi, ketemu lagi sama hari Senin yang mengesalkan wkwk
Jangan lupa vote sama komen ya ;)
"Seenggaknya dia harus tahu diri, tahu posisi. Disini, di kelas ini, ada elo. Pacarnya Kai. Pacar sepupunya."
***
"Kenapa muka adek gue tiba-tiba murung kayak gini?"
Arbani yang sedang mengepel lantai melempar begitu saja alat pel begitu mendapati Fay pulang dengan wajah ditekuk. Arbani menghampiri Fay yang sedang melepaskan sepatunya.
"Gak kenapa-napa." jawab Fay lesu. Berjalan melewati abangnya dan menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tamu dan menyalakan televisi.
Ikatan batin antara kakak adik itu cukup kuat. Arbani tahu ada sesuatu yang membuat adeknya yang keras kepala dan pemberontak ini terlihat murung.
Pemuda 24 tahun itu melepaskan celemek hello kitty yang dipakainya, melemparnya ke sembarang arah. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di samping adik perempuannya.
Mata Arbani memicing. Menatap penuh selidik adik perempuannya layaknya seorang detektif yang sedang menyelidiki tempat kejadian perkara.
"Lo putus kan sama pacar lo yang garang itu."
"Pacar? Garang?"
"Pacar lo yang mukanya mirip preman yang sering nganter lo pulang itu. Yang barusan juga nganter lo pulang."
"Alvin bukan pacar gue, bang!!!"
"Oh jadi namanya Alvin." Arbani mengangguk-angguk.
Arbani tersenyum senang karena sudah berhasil mengetahui siapa nama cowok yang sering mengantar pulang adiknya ini. Cowok bermuka sangar yang mengendarai motor CB. Cowok yang kata mamanya sangat sopan itu.
"Alvin bukan pacar gue, bang!" tegas Fay lagi.
Heran juga kenapa mamanya dan abangnya mengira bahwa Alvin pacarnya. Padahal bukan Alvin.
"Kalau bukan pacar kenapa kok dia sering banget anter lo pulang?"
"Emang kalau bukan pacar gak boleh nganter pulang." ucap Fay sewot.
"Pacar aku sahabatnya Alvin!!"
"Yang mana? Kok gue gak pernah lihat." Arbani seperti terkejut.
"Lo gak lagi ngarang bebas kan? Orang yang selalu nganter lo pulang cuma dia. Ngaku aja lo!" desak Arbani.
"Bukan, Bang!!! Bukan!!! Dibilangin bukan juga!!!" Fay ngegas.
Emosinya sejak pulang sekolah sudah down dan ditambah interogasi dan abangnya membuat Fay semakin kesal.
"Gapapa kali ngaku dia pacar lo, orang mama sama gue udah tahu sama dia. Lo juga udah gede, papa sama mama gak bakalan marah tahu lo punya pacar."
Fay berdecak. "Bukan dia, Bang. Bukan Alvin!!"
"Terus siapa kalau bukan dia?" tanya Arbani yang masih belum puas membuat Fay kesal.
Fay mengerang. Mengacak-ngacak rambutnya sendiri sampai berantakan saking frustasinya menghadapi interogasi abangnya yang memiliki tingkat kekepoan hampir menyerupai Alvin dan memiliki tingkap kekepoan mirip dengan Dora.
Dengan kasar Fay membuka tas dan mengeluarkan ponselnya. Beberapa saat kemudian dia menunjukan foto Kai dan dirinya dalam frame yang sama dengan background café yang biasa mereka datangi berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Novela Juvenil"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
