Bismillah
Pagi, ketemu lagi sama penulis alay ini wkwk
Jangan lupa vote sama komentarnya ya guys
"Lo segalanya buat gue. Jangan sampai orang gak jelas ini nantinya nyakitin lo."
***
Fay sangat terkejut saat ia dan Vero hampir bertabrakan di pintu kelas. Tidak seperti biasa, cowok itu bersikap gentle meminggirkan tubuhnya supaya Fay bisa lewat. Fay keheranan sendiri dengan perubahan Vero. Cowok ini tidak lagi mengusilinya. Bahkan akhir-akhir ini irit bicara di kelas. Yang lebih aneh saat pelajaran matematika tadi Vero maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Jelas bukan Vero sekali.
Apa yang sebenarnya terjadi pada cowok ini?
"Kalian lagi ngapain main tatap-tatapan kayak gitu?" jika saja Aruna tidak datang menginterupsi mungkin ia dan Vero akan terus saling diam seperti itu.
Tanpa menjawab Vero yang sebelumnya meminggirkan tubuhnya supaya Fay bisa lewat malah masuk ke dalam kelas lebih dulu. Sempat menabrak bahu Fay. Ia menoleh sekali lagi pada Vero yang berjalan tenang menuju bangkunya.
"Lo pasti heran kan kenapa Vero berubah?" bisik Aruna sesaat sebelum ia melewatinya dan menghampiri grup Tina yang sedang bergosip.
Tidak cukup dengan sikap Vero yang mendadak berubah, pertanyaan Aruna barusan menjadi semakin membuat dia penasaran.
Dan entah kenapa memikirkannya membuat ia merasakan rasa bersalah yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
***
~Kamu tahu apa bedanya Cinta sama pelajaran Bahasa Indonesia?
Kalau pelajaran Bahasa Indonesia itu jelas apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, dan kenapanya? Karena punya kaidah 5W + 1H
Kalau cinta, kita gak tahu apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, dan kenapa kita jatuh cinta. Karena cinta bukan datang atas alasan kaidah, tapi datangnya dari Tuhan langsung ke hati.
Sebab itu cinta selalu menjadi misteri.~
Hana menyimpan kembali ponselnya dengan sedikit kesal ke atas meja.
Melihat apa yang sahabatnya lakukan, Kara yang penasaran penyebab Hana terlihat kesal pun mengambil ponsel Hana. Pasti ada hubungannya dengan notifikasi yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Polanya lo ganti?" gumam Kara setelah mencoba beberapa kali pola yang sama namun tidak berhasil membuka kunci ponsel sahabatnya.
"Hm"
"Buka dong." Kara menunjukan senyum termanisnya sambil menyerahkan ponsel di tangannya pada pemiliknya.
"Mau ngapain sih?" tanya Hana jengkel. "Kalau mau selfie kan HP lo lebih bagus dari punya gue."
Kara mencebikan bibirnya. "Siapa juga sih yang mau numpang selfie. Gue penasaran sama penyebab lo kelihatan kesel kayak gitu."
Hana meletakan novelnya lalu menatap Kara. Menunggu penjelasan dari sahabatnya kenapa ia harus memberitahu Kara pola ponselnya.
"Biasanya ada notif dari siapapun lo bales, tapi barusan lo bukannya bales malah simpen HP lo ke kolong meja dengan muka yang..." Kara memicing. "Lo gak dapet ancaman atau apapun dari fans gue kan?"
Mulai ngarang dia. Kelewat narsis sih. Fans apaan?
"Bener kan? Lo gak jawab berarti bener fans gue jahatin lo gara-gara lo deket sama gue."

KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Novela Juvenil"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...