Hai, tiga bulan Unfairness hibernasi, akhirnya gue punya mood buat ngenext ini
Tiba-tiba aja ada ilham buat lanjutin ini
Happy reading!!
***
"Lo gila ya! Gila!!"
Arbani mencoba untuk fokus menyetir sambil menghindari pukulan membabi-buta dari adiknya yang ngamuk-ngamuk sejak keluar dari gerbang sekolah.
"Mati aja lo! mati!" Fay melepaskan sepatunya dan memukulkannya pada bahu Bang Arbani.
Arbani mencoba menghindar. "Kalau lo terus-terusan kayak gini bukan cuma gue yang mati, lo juga bakalan mati, bego!"
Fay sempat menghentikan tindakan kekerasan yang dilakukannya. Terdiam seperti sedang merenungkan apa yang abangnya katakan. Namun lima detik kemudian tampang bengisnya kembali terlihat.
"Masa bodo!" teriaknya sambil melempar sepatunya pada wajah Arbani.
"Sakit bego!" Arbani memegangi dahinya. "Lo kenapa sih!? Gak waras!" teriak Arbani yang tak terima perlakukan adik perempuannya. Pria 24 tahun ini melempar sepatu Fay yang ada di pangkuannya ke luar mobil tanpa peduli dengan pemiliknya yang akan histeris.
Dan benar saja, tak sampai satu detik Fay kembali menyerang abangnya lebih brutal dari sebelumnya.
"Sepatu gue! Sepatu gue! Pungut gak!" Fay memukuli Arbani dengan tasnya yang berisi banyak buku itu.
Menerima penyiksaan yang lebih mematikan dari Fay dan karena memikirkan keselamatan mereka berdua, Arbani meminggirkan mobilnya.
"Stop kriminal! Gue belum mau mati!" teriak Arbani. Suaranya menggelegar di dalam ruang kecil ini.
Fay menghentikan sejenak penyiksaannya, menatap abangnya dengan tatapan penuh permusuhan. Dadanya naik turun. Menyiksa orang juga menguras energi dan membuat capek ternyata.
"Lo kenapa sih?"
"Kenapa?!" Fay rasanya ingin menyembur muka abangnya dengan air untuk menyadarkannya. "Lo mau gue putus sama pacar gue ha?!"
"Oh, jadi yang tadi itu pacar lo." Arbani mengangguk-angguk dengan tampang menyebalkan. "Pantesan mirip sama foto yang pernah lo lihatin ke gue."
"Jadi lo..?"
Fay tidak percaya ini. Kalau tadi abangnya yang terkutuk ini pura-pura saja tidak melihat Kai. Mengatakan Alvin pacarnya di depan Kai pun dengan sengaja. Si anak kesayangan mama ini merencanakannya. Fay jadi bertanya-tanya apakah mungkin abangnya ini lahir dari rahim mamanya? Melihat dari sikapnya yang licik membuat Fay berpikir bahwa dia terlahir dari rahim nenek sihir atau nenek lampir.
"Gak pernah dateng ke rumah sih jadinya agak asing." ucap Arbani dengan santainya seolah tidak sadar dengan badai yang baru saja dia timbulkan.
"Tapi kok, gue makin ngerasa kalau halusinasi lo makin hari makin menjadi-jadi deh." Gumam Arbani, menggosok-gosok bawah dagunya. "Kok cowok kayak dia mau sih sama cewek jelek kayak lo?"
"Jangan salahin gue kalau album BTS lo nanti hangus." desis Fay tajam.
"Yah... padahal tadinya gue mau lurusin apa yang udah gue lakuin sama pacar lo. Tapi yaudah kalau gak mau. Gapapa, album itu palsu kok, nanti gue tinggal merengek sama mama buat beli yang asli."
"Lo!!" Fay kehabisan kata-kata.
Kenapa ia selalu kalah kalau berdebat dengan makhluk ini? Sungguh tidak bisa dimengerti. Fay melipat kedua tangannya di depan dada dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela dengan keadaan yang masih sangat kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Teen Fiction"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
