"Kalau akhirnya gue bakalan terjebak sama perasaan ini. Lebih baik gue gak pernah memulai."
***
"Nih." Kara menyodorkan sekotak coklat dengan pita pink ke hadapan cewe yang sedang membaca buku di salah satu sudut taman sekolah.
Hana mendongak.
"Jangan GR dulu. Itu bukan dari gue." Kara meletakan coklat itu di atas pangkuan Hana sambil bersikap acuh tak acuh.
Hana tersenyum tipis menatap coklat itu dan menyimpan bukunya. Membuka kotak coklat itu dengan antusias. Kalau bukan dari Kara pasti dari..."Bilang makasih ya sama mama lo."
"Gue ngerasa dianaktirikan tahu gak sama mama. Padahal gue yang anaknya, tapi perhatiannya sama lo ngalahin sama anaknya sendiri. Kemarin mama ke Paris dua minggu dan apa, dia gak bawa oleh-oleh sama sekali buat gue. Dia bilang lupa lah. Kebangetan emang jadi mama." Keluh Kara.
Hana hanya tersenyum melihat ekspresi Kara yang selalu seperti itu setiap kali menceritakan tentang perhatian Andini—mamanya Kara—untuk Hana.
"Kayaknya mama emang udah nempatin lo sebagai calon menantu buat dia. Padahal gue udah bilang sama mama kalau gue suka sama cewe lain malah gue lihatin foto Aruna sama mama. Tapi dia masih keukeuh aja bilang kalau lo lebih cantik dari Aruna." Kara menghadapkan tubuhnya pada Hana, menatap Hana dengan mata menyipit penuh curiga. "Jangan-jangan bener dugaan gue selama ini kalau lo pake pelet. Gak mungkin mama gue ngebet banget lo jadi menantunya."
"Pake pelet apaan sih." Hana menyuapkan satu butir coklat ke mulur Kara. "Ngaco!"
Kara mengunyah coklat itu. "Ngaco apanya, Hana! Buktinya kenapa dari SMP mama keukeuh banget maksa gue pacaran sama lo. Padahal gue udah bilang sama mama kalau gue sama lo gak bakalan pernah pacaran apapun alasannya. Dia kayak tersihir gitu kalau lagi ngomongin lo. Licik banget yah, lo pelet dulu mama gue. Tahu banget kelemahan gue ada sama mama gue."
"Bener yah apa kata orang. Deketin dulu keluarganya." Hana tertawa lalu memasukan coklat ke dalam mulutnya. Bibirnya otomatis tertarik membuahkan senyuman. Suka dengan rasa manis pada coklat dalam mulutnya.
"Tuh kan!"
"Tuh kan apa, Kara?"
"Lo pasti pake pelet sama mama gue. Dasar yah."
Hana menghembuskan napas. "Lo kayaknya harus diruqyah sesegera mungkin. Kepercayaan lo terhadap sesuatu yang gaib-gaib terlalu berlebihan."
"Wah...wah... lo..." Kara benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Mendengar kata ruqyah membuat Kara sedikit merinding. Tiba-tiba saja ia membayangkan salah satu adegan dalam film Ruqyah dimana pemeran utama wanita memanjat-manjat dinding dengan tangan kosong sampai ke langit-langit kamar.
Kara bergidik. Membayangkan ia diruqyah sampai melakukan hal itu sungguh mengerikan.
"Tenang aja gue gak bakalan pernah suka sama lo, apalagi jatuh cinta sama lo. Janji gue buat jaga kesucian persahabatan kita dari hal-hal berbau cinta akan gue jaga." Hana menatap Kara. "Lo gak lupa kan janji gue pas SMP waktu itu."
Kara mendengus lalu menampakan wajah jengkel. "Inget. Inget banget janji lo setelah gue bilang kalau gue suka sama lo waktu itu." Kara mencuri satu butir coklat dan memakannya. "Bodoh yah gue pernah suka sama cewe kayak lo. Dan di tolak dalam waktu kurang dari lima detik."
Mendengar hal itu membuat Hana tersenyum getir.
Salahnya Kara menganggap dirinya bodoh padahal yang bodoh disini adalah Hana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Ficção Adolescente"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
