Hari Kamis, aku lelah banget guys
Lelah yang gak tahu penyebabnya. Dunia emang melelahkan
Selamat membaca!!
Jangan lupa vote sama komentarnya, bantu share juga ya kalau kalian suka sama cerita ini biar tambah rame
***
Kecewa, tidak berguna, gagal, itu yang Kara rasakan saat ini. Hana tidak memberitahunya tentang perceraian orang tuanya pada dirinya. Hana anggap apa Kara selama ini. Apa arti Kara untuk Hana selama ini kalau menceritakan tentang hal tersebut saja tidak bisa.
Mungkin selama ini hanya Kara sendiri yang menganggap persahabatan mereka istimewa. Menganggap bahwa Hana akan terbuka padanya. Ternyata tidak.
Kalau di pikir-pikir Hana bahkan jarang mengatakan isi hatinya, berbeda dengan dirinya yang setiap hari selalu menceritakan tentang apa yang dirasakannya.
Saat Hana berada di titik tergelap di hidupnya, saat Hana mengalami tragedi yang mana bagai kiamat bagi setiap anak, Kara justru tidak ada untuknya. Bahkan tidak tahu sama sekali. Dan mungkin saat kejadian tersebut menimpa Hana, ia malah asyik menceritakan tentang keluarganya, tentanga dirinya, membanggakan apa yang dimilikinya. Tanpa tahu bahwa apa yang dikatakannya mungkin saja membuat Hana semakin terluka.
Kenapa Hana harus seperti ini padanya?
Kara merasa gagal sebagai seorang sahabat. Sehingga untuk menatap Hana lama-lama sekarang rasanya sulit.
"Kara!" seru panik Aruna yang baru masuk ke kamar dimana mamanya di rawat.
Kebanyakan melamun Kara sampai tidak sadar bahwa air putih yang dituangkannya sudah penuh. Tumpah membasahi sebagian besar meja.
Aruna berlari menghampiri Kara, mengambil lap dan melap bagian meja yang basah. Sementara Kara diam berdiri, lagi-lagi melamun sambil memegang segelas air putih.
"Ada apa?" Fanya terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ribut.
"Gak ada ma." Jawab Aruna tepat saat dirinya sudah selesai mengelap meja.
Fanya tidak memperpanjang, kembali memejamkan matanya.
"Kenapa sih?"
Tidak menjawab, Kara meletakan segelas air putih di atas meja kemudian melenggang keluar dengan tatapan mata yang tak berubah. Kosong.
Aruna mengikutinya dari belakang. Kara membuka pintu yang mengarah ke tangga darurat dan duduk di anak tangga teratasnya. Aruna duduk di sampingnya.
"Mau putus gak sama gue?" tanya Aruna.
Pertanyaan darinya itu membuat Kara seketika menatapnya dengan ekspresi terkejut yang terlihat samar.
Kenapa samar? Karena emosi lain yang dirasakannya lebih besar.
Sudut bibir Aruna terangkat. "Bahkan kata putus aja gak buat lo kaget banget." Ucapnya sambil tertawa kecil. "Karena Hana lagi?"
Kara menunduk. Bibirnya tersenyum miris. "Selama ini gue dianggap apa sama Hana. Gue gak tahu dia anggap gue apa selama ini. Kita udah sahabatan dari SMP. Gue pikir dengan bersahabat dia mau terbuka, gue gak ngambil pusing waktu dia nolak gue dengan bilang gak mau hubungan lebih sahabat karena itu pasti gak nyaman buat dia. Oke, gue gak masalah. Toh, sebagai sahabat gue bisa lebih deket sama dia daripada sebagai pacar."
Kara menatap Aruna, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Gue ngerasa egois tahu gak?"
Aruna hanya mengangkat sebeah alis, sebagai pertanda bahwa Kara bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Roman pour Adolescents"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...