Hai, ketemu lagi sama gue
Kabarnya baik kan?
Kegagalannya itu yang buat dia susah buat jatuh cinta dan berakhir dengan menyakiti banyak hati.
***
"Fay!"
Seseorang menepuk pundaknya cukup keras. Namun itu tak cukup untuk membuat Fay merasa terkejut. Seharusnya ia memang merasa terkejut saat pria yang sudah berpindah ke hadapannya dan menatapnya khawatir. Akan tetapi, sepertinya otak dan hatinya tidak membiarkan dirinya untuk tidak merasakan perasaan lain selain rasa sakit dan remuk.
Mendengar bahwa Aruna mencintai Kai sekian lama ini membuat hatinya terasa hancur. Ia merasa marah namun tidak merasa tidak bisa berbuat apapun. Ia bukan Aruna yang bisa dengan mudahnya menjauhkan Hana dan Kara. Fay tidak akan bisa melakukannya.
Meskipun ia cemburu dan tidak suka setiap kali melihat Kai lebih mengutakan Aruna daripada dirinya. Bukan karena egois menginginkan Kai hanya memperhatikannya, semua orang pun tahu karena cemburu itu tidak melihat siapa dia adiknya, temannya, atau sepupunya.
Dia ternyata sudah cukup sabar selama ini menghadapi situasi semacam itu. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Kai setiap pria itu beranjak pergi karena Aruna. Selalu seperti itu setiap kali mereka bersama.
Fay menyadari hal ini sejak lama.
Bahwa Aruna memang sengaja membuat kebersamaannya dengan Kai tidak terasa. Cewek itu pasti sengaja untuk menjauhkan Kai darinya. Bukan ia berburuk sangka pada teman sekelasnya itu. Tapi, memang seperti itulah keadaannya yang bisa ia tangkap setelah percakapannya dengan Aruna.
"Fay...Fay...Lo gak apa-apa?"
Cowok yang tadi berusaha mengagetkannya mengibas-ngibaskan tangan di udara berusaha untuk mendapat perhatian darinya.
Namun Fay tidak bergeming.
"Alvin." Panggil Fay parau.
Kening Alvin mengernyit. "Kai gak nyakitin lo kan?"
Walaupun penampilan Alvin terbungkus tampang sangar dan terkesan tidak bersahabat. Alvin lah orang yang selalu menyemangatinya untuk tetap bersama Kai. Cowok ini yang selalu peduli padanya.
Fay menggeleng pelan.
Bukan Kai yang menyakitinya. Fay yakin cowok itu tidak akan pernah melakukannya. Tapi kenyataan lah yang menyakitinya.
"Terus kenapa lo bermuram durja kayak gini?"
"Gak ada."
"Dusta!" dengus Alvin tak percaya.
Hening.
Alvin sangat yakin ada sesuatu yang terjadi pada pacar sahabatnya ini. Fay yang terlihat ceria dan kadang receh tidak mungkin mendadak bersikap seperti ini. Terlihat sedih dan marah dalam waktu yang bersamaan.
"Anter gue pulang."
"Eh?"
"Please, anter gue pulang, Vin." ulang Fay.
"Tapi, Kai udah nunggu lo..."
Belum selesai Alvin mengatakan bahwa Kai sudah menunggu cewek ini diparkiran untuk pulang bersama Fay sudah lebih dulu menarik tangannya menuju parkiran motor yang letaknya berbeda arah dengan parkiran mobil. Jika menuju parkiran mobil dari gerbang sekolah belok ke kanan, parkiran motor belok ke arah yang satunya.
Tak sampai berapa lama, mereka berdua sudah tiba di samping motor CB Alvin.
Alvin yang sudah menaiki motornya menatap Fay yang sedang mengenakan helm yang dia ambil sendiri dari belakang motornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Ficção Adolescente"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
