"Seorang teman bisa datang karena banyak sebab. Dan aku bisa berteman denganmu karena kita berbagi luka yang sama."
***
Nyatanya semua yang terlihat itu tidak menggambarkan keseluruhan. Sama halnya hati. Wajah yang ceria dan seolah tak memiliki masalah tidak menjamin bahwa hati pun merasakannya. Layaknya sebuah kotak kado, kita tidak tahu apakah di dalamnya benda spesial atau justru jebakan. Siapa yang tahu.
Sama halnya dengan yang Fay rasakan. Sebelumnya keluarganya baik-baik saja. bahkan ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling beruntung karena memiliki keluarga yang sempurna. Ketahuilah bahwa kesempurnaan tidak akan selamanya dirasakan. Masalah pasti selalu ada.
Sama seperti pagi ini. Saat sarapan pagi. Papanya tidak ikut serta. Ia juga melihat ada sesuatu berbentuk bulat keunguan di sekitar rahang mamanya.
"Papa kemana?" tanya Fay sambil berusaha mengabaikan memar di wajah mamanya itu.
Fay mengamati mamanya yang secara perlahan menutupi memarnya dengan menaikan kerah bajunya.
"Papa udah berangkat tadi pagi. Katanya ada urusan di luar kota." jawab mamanya kemudian meletakkan nasi goreng di hadapannya dan Kak Arbani.
"Mama sama papa,..."
Fay hendak menanyakan apakah mama dan papanya bertengkar namun Kak Arbani sudah lebih dulu menyikut rusuknya. Fay menoleh menatap kakanya memprotes. Kak Arbani mengisyaratkan sesuatu padanya. Ia mengerti bahwa sebaiknya ia berpura-pura tidak tahu saja. Sama seperti kakaknya yang sama-sama tahu tapi memilih diam saja. Seolah semuanya baik-baik saja.
Kak Arbani benar. Lebih baik ia diam saja.
Jika hal itu bisa membuat keadaan lebih baik.
***
"Hana." Panggil Fay saat ia melihat Hana sedang berjalan kaki beberapa meter di depannya.
Hana berhenti dan menoleh. "Apa?" tanyanya dengan tampang datar.
"Mau ke sekolah?" tanya Fay terdengar bodoh setelah ia berhasil menyenyajarkan langkah kakinya dengan Hana. "Gue bareng boleh."
"Tumben lo nyapa gue." sindir Hana.
Fay meringis. Sebelumnya ia tidak pernah berusaha untuk menyapa apalagi berbicara dengan Hana karena menurutnya Hana gadis aneh, unsocial, misterius, menyeramkan, dingin, dan tak bisa bersahabat. Bahkan Fay tidak pernah memiliki niat untuk melakukan hal itu, berteman dengan Hana. Menyapa Hana saat ini rasanya pun sangat canggung. Namun ia berusaha untuk menutupi kecanggungannya.
"Kenapa? Lo lagi butuh temen?" tanya Hana. Langsung tepat sasaran.
Jujur saja Fay yang tidak memiliki teman yang bisa dipercaya itu sangat membutuhkan teman saat ini. Hana mengatakan hal yang benar-benar sangat ia inginkan.
"Lo bener. Sebenernya gue pengen cerita sesuatu sama seseorang tapi gue gak tahu sama siapa. Gue gak tahu siapa yang harus gue percaya."
"Dari apa yang lo bilang barusan lo kayak mau cerita sama gue." Hana menghentikan langkahnya. "Lo percaya sama gue?"
"Lo kelihatannya emang kayak orang yang gak mau berurusan sama urusan orang lain. Tapi, gak tahu kenapa gue ngerasa kalau lo bisa gue percaya. Ada baiknya gue cerita tentang ini ke seseorang yang gak deket sama gue. Mereka yang deket terkadang berkhianat."
"Gak punya temen yang bisa dipercaya kesepian yah?"
Fay mengangguk. Karena memang itu yang ia rasakan. Ia mempunyai banyak teman tetapi ia tidak pernah merasa kesepian seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Novela Juvenil"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
