Hai, selamat malam
Apa kabar? Sehat kan?
Tiba-tiba aja pengen ngepost lanjutan Unfairness
Selamat membaca
Jangan lupa vote sama komentarnyaaa
***
Selepas makan Fay membantu mamanya mencuci piring. Sesuatu langka yang membuat Arbani mencibir.
"Pencitraan banget ada pacarnya." Cibirnya.
Namun, Fay menghiraukannya. Mendelik sebal padanya.
Suka-suka gue.
Mencuci piring memang jarang ia lakukan, bukan karena tidak ingin tapi karena biasanya Arbani si anak yang suka cari perhatian kedua orang tua itu selalu nyerobot lebih dulu. Seharusnya Fay yang mengatakan hal seperti itu pada Arbani.
Apa salahnya sih, ingin terlihat baik di depan pacar sendiri. Ia yakin kalau Arbani pasti melakukan hal yang lebih darinya untuk terlihat baik di depan pacarnya. Eh, sayangnya Arbani abangnya si tukang cari perhatian itu sudah jomblo sejak empat tahun lalu. Terkakhir pacarnya yang main ke rumah itu Kak Ranty yang sekarang menjadi selebgram dan di kabarkan dekat dengan salah satu aktor baru yang sedang naik daun. Kasihan sekali abangnya, ditinggalkan oleh perempuan yang punya selera tinggi seperti itu.
Mama mengambil mangkuk cukup besar yang sedang Fay cuci. Menaruhnya kembali di bak cuci. Menarik tali belakang celemeknya sambil berkata, "Udah, biar mama yang selesaikan. Kamu temuin Kai aja."
Fay tidak memprotes. Bahkan saat mamanya meloloskan celemek itu melalui kepalanya kemudian menggantungnya di salah satu sudut dapur, dicelah antara lemari es dan kabinet.
"Udah sana." Mama mendorong punggungnya pelan.
Fay menatap mamanya lagi.
"Udah." Mama mengangguk. "Lagian tinggal bilas beberapa lagi."
Fay kemudian menurut. Berjalan ke ruang tamu namun tak menemukan Kai disana. Ke depan juga tak menemukan, hanya ada papanya yang sedang duduk-duduk menatap jalanan kompleks yang lenggang dengan secangkir kopi di sampingnya. Ia kembali masuk ke rumah, ke kolam dan menemukan Kai sedang bersama dengan abangnya. Wajah Kai tampak tegang walaupun senyum tipis terukir di wajahnya.
Percakapan kedua pria itu terhenti begitu Kai menyadari Fay berdiri di depan pintu kaca geser yang mengarah ke kolam. Arbani ikut menoleh dan tersenyum padanya.
Arbani sempat menepuk pundak Kai beberapa kali, lalu dia beranjak dari sana.
Fay menghadang jalan masuk. Menatap abangnya penasaran, meminta Arbani mengatakan apa yang dia bicarakan dengan Kai.
Arbani tidak menjawab. Malah mendorong tubuh Fay dari jalan. "Jangan berdiri di pintu, kata orang sunda jaman dulu, pamali bisi nongtot jodo."
Fay menatap sebal Arbani yang melenggang begitu saja.
Ya sudahlah. Abangnya memang seperti itu kan, menyebalkan. Maka dari itu Fay menghampiri Kai yang beberapa detik lalu duduk di ayunan tempat dimana ia biasa duduk melamun, melambaikan tangan padanya menyuruh Fay mendekat.
Fay duduk di sebelah Kai, menepuk pundak Kai lalu menengadahkan tangannya meminta pria itu memberikan ponselnya.
Namun bukannya ponsel, Kai malah memberinya uang recehan 500 rupiah.
Fay memukul bahunya. Memprotes. Ia mempraktekan seseorang sedang bermain HP.
Kai tertawa keras. Pria ini tahu apa yang ia minta tadi tapi malah memberinya recehan.
Rese.
"Buat apa sih?" tanya Kai masih dengan tawa yang bertahan.
"Sini shh." Menyesal Fay sudah membuka mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfairness (SELESAI)
Novela Juvenil"Gue suka sama lo." Fay menatap datar pria yang saat ini berdiri di samping bangkunya. "Gue suka sama lo." ucap Kai untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Membuat perhatian teman sekelas Fay langsung tertuju padanya...
