7

4.5K 550 22
                                        


"Tiga satu."

Andi melengos malas. "Curang!"

"Abang nggak curang."

"Masa dari tadi menang terus?"

Leo mengulum senyum. Bermain PS dengan Andi memang membosankan. Adiknya itu selalu kalah darinya. Kalau soal main game memang Leo ahlinya. Tapi jangan tanyakan dalam hal olahraga. Leo persis seperti Mala. Dia benci harus berkeringat. Berbeda dengan Andi yang menyukai olahraga.

Selagi dua kakak beradik itu duduk berselonjor didepan televisi yang menyala dan saling menggenggam Joystick. Sesekali rutukan Andi terdengar, dan tidak jarang kekehan menyebalkan Leo yang mendominasi.

"Ini siapa yang delivery Pizza?"

Mereka berdua serentak menoleh keasal suara. Raka berdiri tidak jauh dari mereka sambil menenteng dua kotak Pizza ukuran besar.

Andi langsung meletakkan Josticknya diatas karpet dan menatap Raka dengan gestur resah. "I-itu abang yang pesan, Pa."

Raka melirik Leo yang dibalas putranya dengan cara yang sama. Menghela napas, Raka menghampiri mereka. Tadi saat sebelum masuk dia menjumpai seorang pekerja ojek online yang datang untuk mengantarkan dua kotak Pizza itu kerumahnya.

"Fasfood lagi?" tanya Raka saat menyerahkan dua kotak Pizza itu pada Leo.

Leo hanya mengangkat bahunya ringan sebagai jawaban lalu membuka kotak Pizza dan menatapnya dengan mata yang terlihat berkilat lapar. Raka menoleh pada Andi yang masih diam menatapnya ragu.

Raka mengerti tatapan Andi. Amel jarang sekali membiarkan Andi mengkonsumsi Fastfood. Kalaupun mau Andi pasti memakannya diluar rumah, tidak pernah berani makan didalam rumah. Maka itu Raka heran saat ada yang mengantarkan Pizza kerumahnya.

"Gak papa, makan gih. Papa ganti baju dulu."

Ketika Raka memasuki kamarnya, Andi langsung menyambar sepotong Pizza sambil terkekeh-kekeh. "Bang, tumben loh Papa mau ngomong sama Andi. Biasanya cuma ngangguk sekali terus langsung ngeluyur kekamar."

"Hm." Gumam Leo seolah tidak peduli. "Lanjut main."

"Nanti deh, bang. Laper nih. Lagian abang udah menang terus, masih aja maruk mau ngalahin aku lagi."

Leo berdecak. Apa lagi saat Andi sudah mengambil potongan ketiga. Padahal Leo saja belum menghabiskan potongan pertamanya. "Laper sih laper. Tapi jangan kamu makan semuanya dong."

"Apaan, baru juga tiga."

"Abang baru satu." Leo menjauhkan kotak Pizza yang belum terbuka dari Andi.

Andi melotot tidak terima. "Kok dijauhin?"

"Nanti kamu abisin!"

"Tapi kan bukan punya abang. Papa yang bayar juga. Berarti milik bersama!"

"Nggak ada. Itu punya kamu, ini punya abang."

"Curang..."

Leo tersenyum menyebalkan sambil membuka kotak Pizza yang telah dia klaim menjadi miliknya.

"Kenapa sih ini ribut-ribut?" tegur Raka saat kembali menghampiri anak-anaknya. Dia sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya.

"Ini nih, Pa," Andi mengadu dengan bibir mengerucut. "Masa kotak yang ini kita makannya sama-sama, tapi kotak yang itu jadi punya abang."

Raka menatap kemana arah telunjuk Andi berlabuh. Leo tampak santai menikmati Pizza miliknya.

"Memangnya abang udah makan berapa di kotak yang ini?"

The Chosen (Sebagian Part Sudah Di Hapus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang