Siang ini langit tampak tidak baik baik saja. Langitnya menangis. Air hujan yang bertabrakan dengan permukaan tanah dan bangunan membuat suara gemericik khas dan aroma tanah basah.
Sejujurnya, aku tidak terlalu suka hujan. Kenapa ya? Kenapa rasanya aku begitu benci hujan? Sampai sekarang aku juga belum tahu alasan di balik semua itu. Hanya merasa benci setiap langit menangis dan menghasilkan air hujan.
Masih tiga jam lagi sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Sementara sekarang aku berada di kelas sendirian. Melamun kan kelanjutan hidupku. Dan tentunya-Hyunjin.
Harim sudah ke kantin duluan tadi. Aku sengaja tidak ikut karena sedang ingin sendirian. Tenang dan damai. Dengan suara gemericik air hujan yang menjadi musik alami.
Aku masih memikirkan perkataan Cheonsa kemarin. Rubby Cafe. Kalau di ingat lagi, tempat itulah yang pertama kali mempertemukan kami. Juga yang mengawali tidak normalnya hidupku.
Cklek...
Pintu kelasku terbuka pelan. Awalnya aku tidak perduli siapa yang masuk ke kelas. Tapi saat mendadak ia memanggil namaku, alisku bertaut heran mengetahui siapa yang masuk ke kelas.
"Lucy, bisa bicara sebentar?" Aku mengangguk singkat, di susul dengan Xiaojun sunbae yang duduk di hadapanku.
"Jadi, ada apa sunbae sampai kemari?"
"Kau 'kan pengurus osis, aku bisa minta tolong padamu?" tanyanya yang ku balas dengan anggukan.
"Kalau aku bisa akan ku bantu."
"Nah, jadi begini. Berkaitan dengan acara festival tahunan sekolah, aku di tugaskan untuk mengawasi pelaksanaan dan persiapannya. Kau mau membantuku 'kan?"
"Tentu saja. Aku akan membantu sunbae," jawabku pasti.
Xiaojun sunbae tersenyum padaku. Dan tiba tiba saja tangan kanannya sudah mendarat di puncak kepalaku, mengelusnya pelan sebelum ia bangkit dari duduknya.
"Geureom, gomawoyo. Mari berteman saja, aku rasa kau cukup menyenangkan untuk di ajak berteman," katanya.
Aku mengangguk kecil, "Ne sunbae."
Kemudian Xiaojun sunbae berlalu keluar kelas setelah berpamitan singkat padaku. Tepat saat itu juga Harim masuk ke kelas dan langsung menyerbuku dengan berbagai pertanyaan seperti 'sedang apa kau bersama Xiaojun sunbae?' dan berbagai pertanyaan lainnya.
"Nanti kau ada kelas khusus matematika?" tanyanya setelah duduk dengan sempurna di sampingku.
"Eung, nanti kau pulang duluan saja. Aku tidak bisa bolos karena sudah banyak absen kemarin kemarin."
Memang sepulang sekolah nanti seharusnya aku ada kelas khusus matematika. Seperti ekstra kurikuler.
"Yah, siapa juga yang mau menunggu si pintar ini berlama lama di sekolah," kata Harim lalu terkekeh di akhir kalimatnya.
"Aku tahu itu." Aku mendengus lalu kembali ke kesibukanku seperti biasa, berfangirl ria dengan bias ku lewat ponsel. Sedangkan Harim sudah bergabung bersama teman teman se-pergosipannya.
Tiga jam mendadak terasa seperti tiga detik jika aku sudah asyik sendiri dengan aktifitas ku. Tiba tiba saja bel pulang sudah berbunyi nyaring di susul sorakan senang dari anak anak kelasku.
Senangnya mereka bisa langsung pulang ke rumah tanpa harus ber pusing pusing lagi dengan matematika sepertiku. Sebenarnya aku juga tidak ingin ikut ekstra ini, tapi aku bisa apa kalau eomma sudah memerintah.
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Awake | H.Hyunjin
Mystery / Thriller"αωαĸe, αnd мeeт нιм every мιdnιgнт." Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Lucy mendadak dapat undangan ke sebuah tempat, sekaligus undangan yang akan merubah hidupnya dan hidup satu orang lagi-teman sekelasnya, Hwang Hyunjin. ©sugarl...
