"Terimakasih karena sudah memanggil iblis ke hadapanmu."
Seketika itu tubuhku meremang. Diam diam aku merutuk dalam hati atas kebodohanku mengunci segala jalan keluar dari kamarku.
Mencoba berpikir realistis ternyata tidak selamanya benar. Aku melupakan kalau makhluk seperti iblis, hantu, dan semacamnya itu juga nyata.
Iblis itu mendekat ke hadapanku. Semakin memojokkanku pada tembok. Rasanya dadaku sesak sekali. Untuk mengambil nafas saja aku kesulitan. Badanku gemetar tak tertahan dan mulutku nyaris mengeluarkan isakan.
"Sekarang tentu saja kau harus bertanggung jawab, honey. Berani sekali kau—mengambil dan memainkan barang yang bukan milikmu humm?"
Sial sial sial.
Badanku membeku saat tangannya turun perlahan ke pipiku. Suara nya masih mengalun dengan penuh intimidasi ke dalam gendang telingaku.
Aku memberanikan diri menatap matanya. Dari yang ku dengar, iblis tidak akan kuat kalau kita menatap tepat ke dalam matanya.
Dua manik mata yang sebelumnya terlihat indah, kini mulai menjadi hitam pekat. Semakin menambah kesan seram di wajahnya.
"Ayo ikut aku ke neraka."
"EOMMAAAAA!" Aku berteriak sekeras mungkin setelah ia berbisik di telingaku. Bahkan tangannya dengan mudah menghempas ku menuju ke sisi tembok lainnya.
Aku yakin setelah ini badanku akan remuk.
"Gadis nakal sepertimu, cocok sekali jadi temanku di sana." Lagi lagi ia menyeringai seram.
Ya tuhan, aku mohon tolong aku.
Brak!
Pintu kamarku terbuka dengan kasar, menampilkan sosok perempuan dengan nafas terengah engah di sana.
Park Cheonsa.
Cheonsa menatap tajam pada iblis itu. Kemudian dalam hitungan detik, makhluk itu sudah menghilang menjadi asap hitam.
"Yah, neon gwaencanha?" Cheonsa menghampiriku dengan segala ke khawatiran yang tampak di wajahnya.
Bersamaan dengan itu juga listrik di rumahku kembali menyala terang seperti semula.
Aku tidak ada niatan untuk bertanya kenapa ia bisa ada di sini. Atau bagaimana cara ia masuk ke sini dan pertanyaan semacamnya. Bagaimana aku sempat memikirkan hal itu sementara otakku masih berada di ambang kekacauan.
Cheonsa membantuku berdiri dan duduk di atas kasurku. Mengusap pelan punggungku demi membantuku mendapat ketenangan. Setidaknya meski hanya dengan hal sekecil itu, aku masih bisa yakin kalau aku punya seseorang yang akan selalu ada di sampingku.
Park Cheonsa.
"Kenapa sampai memanggil makhluk itu? Kau dapat darimana lonceng itu?"
Sejujurnya aku juga bingung mau menjawab apa. Jadi aku hanya diam tanpa memberi jawaban pada Cheonsa.
Helaan nafas terdengar dari mulut Cheonsa, "Berikan padaku."
"Apa?"
"Loncengnya. Berikan padaku."
Aku masih stagnan di tempat. Tidak berniat untuk mengambil lonceng yang tadi terlempar hingga ke dekat meja riasku. Jujur saja, aku masih takut dengan benda itu. Siapa yang tahu kalau iblis tadi akan muncul kembali dari dalamnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Awake | H.Hyunjin
Misterio / Suspenso"αωαĸe, αnd мeeт нιм every мιdnιgнт." Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Lucy mendadak dapat undangan ke sebuah tempat, sekaligus undangan yang akan merubah hidupnya dan hidup satu orang lagi-teman sekelasnya, Hwang Hyunjin. ©sugarl...
