Aku masih sedikit belum percaya tentang semalam. Sebenarnya, sedikit takut juga pada arwah Hyunjin. Seingatku, dulu mama pernah bilang kalau iblis bisa menyamar dengan arwah seseorang. Jadi bagaimana kalau yang ku temui semalam adalah iblis?
"Hey! Jangan melamun nanti kerasukan loh." Aku sedikit berjengit kaget saat Harim menepuk keras bahuku. Kemudian kesadaranku kembali dan aku memberi tatapan sebal pada Harim yang malah cengengesan di bangkunya sambil membuat tanda peace.
"Ck. Kau tidak tahu orang sedang banyak pikiran atau apa huh?!"
Harim lagi lagi hanya menyengir kuda. Aku juga tidak bisa marah padanya karena nyatanya, yang ia katakan itu benar. Seharusnya aku tidak banyak melamun seperti sekarang.
Ini semua gara gara Hwang Hyunjin.
Tiba tiba aku terpikir tentang si lelaki Hwang yang semalam secara mendadak mendatangiku. Menanyakan tentangnya pada si biang gosip bernama Yoon Harim sepertinya bukan ide yang buruk.
"Harim-a. Soal kecelakaan yang menimpa Hyunjin itu-" aku sedikit ragu saat hendak melanjutkan, "Kau tahu apa saja?"
Harim memicingkan matanya padaku, menatapku penuh selidik. Yang bisa ku duga adalah, gadis ini pasti akan berpikir macam macam tentangku.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kau menanyakan tentangnya. Meski sejujurnya aku penasaran-"
"-tapi setahuku, anak itu kecelakaan motor saat pulang sekolah. Lalu sekarang koma di Hansung Hospital."
Aku hanya ber-oh ria lalu mengatakan pada Harim untuk tidak bilang pada siapa siapa. Masalahnya, anak itu biang gosip sekolah. Kalau besok besok ada berita aku suka pada Hyunjin dan sejenisnya, jelas aku tidak mau.
"Eh? Ke kantin yuk! Lagipula setelah ini sudah istirahat." Tanpa menunggu persetujuanku, Harim sudah menarik tanganku, membawaku menuju kantin yang masih terbilang sepi karena belum masuk jam istirahat.
Belum sampai kaki kami melangkah di kawasan kantin, atensiku sudah beralih pada sosok gadis misterius yang kutemui tempo hari. Bersandar pada dinding koridor dengan sekotak susu di tangan kanannya dan headset yang menjuntai dari telinga ke ponsel di tangan kirinya.
"Harim, kau ke kantin duluan saja. Aku ada urusan sebentar," kataku pada Harim lalu langsung meninggalkannya sebelum mendapat persetujuan.
"Hai!" Aku memberi sapaan ringan pada gadis itu, mencoba mengalihkan atensinya.
"Oh, hai!" Gadis itu berusaha bersikap ramah padaku, senyumannya ia keluarkan. Kali ini, aku sedikit tidak takut padanya.
"Bisa bicara sebentar?"
Si gadis mengangguk lantas mengisyaratkan padaku agar ikut dengannya.
Aku tidak tahu pasti kemana kakiku di bawa melangkah. Hanya pasrah karena aku mendadak yakin kalau gadis yang bersamaku sekarang ini tidak mungkin menyakitiku. Lagipula aku juga yang mengajaknya bicara. Jadi aku menurut saja saat ia membawa langkahku menaiki satu persatu anak tangga menuju tempat yang sebelumnya tidak pernah ku datangi.
Rooftop.
Rooftop luas dengan pemandangan atas kota yang membentang di depannya. Itulah yang kini bisa di tangkap dari pengelihatan ku. Semilir angin menerpa rambut ku hingga sedikit berantakan. Terik sinar matahari juga sedikit menyilaukan pandanganku. Tapi suasana di sini terasa begitu menenangkan.
Ah, sekarang aku tahu kenapa rooftop jadi tempat favorit di drama drama.
"Nah, sekarang bicaralah." Suara lembut gadis tadi adalah sesuatu yang menyadarkanku dari lamunan singkat tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Awake | H.Hyunjin
Misterio / Suspenso"αωαĸe, αnd мeeт нιм every мιdnιgнт." Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Lucy mendadak dapat undangan ke sebuah tempat, sekaligus undangan yang akan merubah hidupnya dan hidup satu orang lagi-teman sekelasnya, Hwang Hyunjin. ©sugarl...
