10. Bell.

52 12 0
                                        

Kali ini aku sampai di rumah lebih sore dari biasanya saat tidak ada ekstra kurikuler. Salahkan saja jalanan yang mendadak jadi super macet. Entah apa gunanya aku punya saudara seperti Renjun. Bukannya mengantarku pulang dengan selamat, ia malah pulang duluan bersama teman temannya.

Jadi aku berakhir tiba di rumah sekitar jam lima, dengan wajah super kacau dan rambut yang acak acakan. Serta raga yang merengek ingin di istirahatkan.

"Noona baru pulang?" Justin menyapaku saat aku memasuki ruang tengah.

Malas menjawab panjang, aku hanya membalas pertanyaan ya dengan deheman, lalu mengistirahatkan sebentar badanku di samping nya.

"Noona, kau kenapa?"

Aku membuka mataku yang semula terpejam, lalu menatapnya dengan pandangan bertanya, "Kenapa apanya?"

"Kau seperti.... Seperti ada aura hitam yang mengelilingi mu," katanya tampak kurang yakin.

"Aura hitam bagaimana? Kau bicara apa sih?"

Justin berdecak sebal, "Molla. Pokoknya ada sesuatu yang menyeramkan. Aku melihat bayangan hitam di sekelilingmu."

Aku merotasikan bola mata lalu beranjak pergi ke kamarku. Si bocah Huang itu menakut nakutiku saja. Lagipula memang ada apa denganku? Apa karena Hyunjin ada di dekatku makannya Justin bilang aku punya aura seram? Tapi biasanya dia tidak bilang begitu.

Sekarang aku penasaran. Sebenarnya Hyunjin selama ini selalu ada di dekatku, atau kadang pergi ke tempat lain? Jangan jangan kalau aku tidur juga dia di dekatku? Lalu saat mandi, dia tidak mungkin—mengintip 'kan?

Ck, awas saja kalau sampai itu terjadi.

Badanku ku lempar ke atas kasur. Sementara tas ku juga ku lempar sembarangan ke sofa dekat kasur. Tidak ada pikiran untuk setidaknya mencopot seragamku atau meletakkan tas ku di tempat yang benar. Yang ada di kepalaku saat ini hanya tidur. Aku butuh tidur karena aku lelah.

Jadi tanpa persetujuan dua kali, mataku sudah terpejam dan siap membawaku menuju alam mimpi yang masih sedikit membingungkan hingga sekarang.

Aku bangun jam tujuh malam karena teriakan eomma yang menggelegar ke seluruh penjuru kamar. Sebenarnya aku juga tidak kaget lagi kalau eomma mengomel panjang lebar karena aku tidur tanpa membersihkan diri.

Tapi lagipula siapa yang perduli. Selama aku bisa mengistirahatkan jiwa dan ragaku, kenapa aku harus merasa salah? Sekarang ini aku sangat sulit tidur di malam hari.

Alasannya? Tentu saja Hwang Hyunjin.

Aku turun ke ruang tengah setelah selesai membereskan diriku sendiri. Mendapati semua orang sudah rapih seperti ingin pergi ke suatu tempat.

"Kalian mau kemana?" tanyaku setelah selesai memijak di anak tangga terakhir.

"Eomma dan appa ada urusan bisnis ke luar kota sampai besok," eomma menyahut sementara dua tangannya masih sibuk membereskan berkas berkas kantornya.

Aku mengangguk singkat, lantas menunjuk Renjun dan Justin dengan daguku. "Kalian?"

Renjun hanya melirik sekilas seperti tidak ada niatan menjawab. Sedangkan Justin menyengir, " Kami mau main ke rumah Jisung," katanya.

"Ck. Ya sudah jangan lama lama."

Eomma dan appa berpamitan pada kami. Kami juga mengantar mereka sampai pintu luar. Setidaknya aku mau melihat mereka sebelum mereka menghilang di balik pintu mobil hitam milik appa.

✓ Awake | H.HyunjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang