Sebenarnya pelajaran sains bukan termasuk ke dalam list pelajaran yang ku benci. Sebaliknya, aku akan sangat senang dan antusias dengan pelajaran itu.
Tapi hari ini semuanya jadi berbeda. Sepanjang pelajaran berlangsung aku hanya melamun. Memikirkan perkataan Hendery sunbae yang bilang ingin mempelajari tentang iblis.
Kenapa ya? Kenapa kali ini aku takut dengan hal seperti itu? Biasanya aku hanya akan menganggap mereka sebagai makhluk tidak nyata. Jadi aku tidak terlalu takut. Meski Justin bisa melihat hantu sekalipun, aku tetap berusaha tidak mempercayai nya.
Tapi kali ini aku tidak bisa bersikap masa bodoh seperti biasanya. Entah ini karena aku memang sudah melihat hantu dalam wujud nyata atau bagaimana, yang jelas aku jadi takut.
Apalagi soal iblis. Makhluk jahat yang aku tahu selalu ingin menyesatkan manusia ke jalan yang salah. Tidak banyak yang ku tahu tentang mereka karena aku juga tidak tertarik. Hanya dari beberapa yang ku dengar, mereka punya wujud yang bisa menipu daya manusia.
Yang jelas mungkin mereka lebih buruk dari hantu. Dan mereka sudah pasti musuh dari Cheonsa dan sebangsanya.
"Hey! Kau kenapa sih?! Sejak tadi terus saja melamun." Harim menepuk pundakku keras, membuatku terlonjak kaget dan nyaris berteriak.
Mungkin aku harus beruntung karena guru kami sudah selesai mengajar dan keluar kelas. Jadi kalaupun aku berteriak tidak akan di hukum.
"Jujur padaku! Kali ini harus jujur! Kau kenapa?"
Akan sulit mengelak kalau Harim sudah mulai keras kepala seperti ini. Mau tidak mau, siap tidak siap, aku tetap harus menjawabnya dengan jujur. Sensor kepekaan nya itu tidak bisa di anggap remeh. Seharusnya dia sudah jadi psikiater dengan kemampuan seperti itu.
"Emm, soal itu sebenarnya aku-"
"Lucy!" Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, lagi lagi sudah ada seseorang yang memotongnya. Ku lihat di pintu kelas ada Alice yang berdiri bersama Adora.
Alice itu juga salah satu temanku. Kami satu kelas saat kelas satu, jadi wajar kalau kami dekat. Bahkan Harim juga mengenalnya.
"Sebentar ya aku keluar dulu."
Aku juga baru ingat tentang buku yang waktu itu di minta oleh Adora belum ku berikan padanya. Jadi setelah mengambil barang tersebut di laci, aku segera keluar menemui mereka.
"Kau mau mengambil bukumu 'kan? Ini," kataku sambil menyodorkan buku pada Adora.
Adora tersenyum tipis tapi gerak matanya tampak gelisah. Beberapa kali aku menangkap mulutnya hampir terbuka seperti akan mengatakan suatu kalimat.
"Gomawoyo Lucy-a. Tapi ada hal lain yang ingin kami bicarakan." Kali ini yang bicara bukan Adora tapi Alice.
Aku menautkan alis, "Wae? Bicara saja."
Alice menggeleng, "Jangan di sini. Aku tahu tempat yang aman untuk kita bicara. Ttarawa."
Alice menggandeng tanganku menuju tempat yang sama seperti yang pernah ku tuju bersama Cheonsa.
Rooftop.
Tempat paling sempurna untuk membicarakan hal hal rahasia, sepertinya.
"Jadi?"
Adora tampak cemas, sementara Alice seperti bersiap untuk menjelaskan sesuatu yang besar padaku.
"Jadi, apa saja yang kau tahu soal kecelakaan Hyunjin?" Alice memulai pembicaraan.
Aku benar benar di serang kepanikan saat itu juga. Ingatanku masih bagus dan aku jelas masih ingat apa kata Cheonsa waktu itu. Jangan sampai ada pihak keluarga yang tahu. Sedangkan Adora salah satu keluarga Hyunjin. Meski aku tahu dia juga bukan keluarga kandung, tapi tetap saja aku sedikit was was karena ini menyangkut soal nyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Awake | H.Hyunjin
Mystery / Thriller"αωαĸe, αnd мeeт нιм every мιdnιgнт." Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Lucy mendadak dapat undangan ke sebuah tempat, sekaligus undangan yang akan merubah hidupnya dan hidup satu orang lagi-teman sekelasnya, Hwang Hyunjin. ©sugarl...
