19. Between Us.

43 9 0
                                        

"Lucy-a."

Siang itu, aku sedang tiduran di kamar sambil renungkan masalahku dengan Hyunjin waktu eomma tiba-tiba longokkan tubuh dari balik pintu sambil memanggilku. 

Aku cuma menoleh sekilas. Rasanya jadi malas menghadapi eomma kalau ingat kejadian tadi pagi. Sebenarnya kenapa aku tidak boleh tahu, sih? Kenapa harus sampai menyembunyikan sesuatu dariku?

"Eomma mau bicara padamu." Eomma kini sudah ada di ujung kasurku, duduk di sana sambil tatap mataku penuh harap.

Aku menyerah pada air muka eomma yang putus asa. Aku juga tidak boleh jadi kurangajar begini. Lagipula, aku juga butuh informasi dari eomma. "Kenapa?"

Eomma hela napas panjang sebelum mulai bicara, "Eomma akan cerita semuanya padamu, tentang foto itu."

Aku otomatis bangun dari posisi tidurku dan duduk menghadap eomma. Pikiranku langsung dipenuhi rasa penasaran yang kelewat besar selepas eomma bicara begitu. "Ada apa, eomma?"

"Dulu, waktu kau masih kecil, kau pernah sakit-sakitan. Itu penyakit aneh dan langka yang bahkan dokter menyerah mengobatimu." Aku bisa tengok air muka eomma jadi teramat sedih waktu bilang begitu. "Eomma dan appa sempat menyerah mengobatimu. Sampai akhirnya kami pakai opsi terakhir kami, membawamu ke cenayang. Mereka bilang, kami harus membawamu ke desa supaya kau bisa sembuh. Kami menurut dan membawamu ke desa. Ternyata cenayang itu betul, kondisimu makin membaik makin hari." Eomma tersenyum tipis setelah bicara begitu. "Saat itulah kamu bertemu dengan bocah lelaki itu, Lucy. Waktu itu kamu senang sekali. Senyuman bahagia yang sudah lama tidak kami lihat akhirnya muncul lagi di wajahmu." Raut wajah eomma berubah sedih. "Tapi itu tidak bertahan lama. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ada kejadian aneh dan kamu akhirnya harus kembali ke kota."

Aku tertegun. "Memang aku kenapa, eomma?"

"Eomma juga tidak tahu sebenarnya kenapa denganmu waktu itu. Eomma hanya berpikir buat cepat-cepat menyembunyikanmu seperti yang diperintahkan seseorang."

Seseorang? Siapa lagi itu? "Siapa orang itu?"

Eomma menggeleng. "Eomma tidak tahu, Lucy-a."

Klang.

"Oh, sudah datang?" Suara Cheonsa jadi yang pertama menyapa runguku waktu aku memasuki cafe itu.

Iya, aku kembali datang ke The Shelter cuma buat temui Cheonsa dan minta pencerahan darinya. Aku rasa, eomma tidak punya informasi sebanyak yang aku perlukan. Jadi, satu-satunya alternatifku cuma Cheonsa dan apa-apa yang mungkin ia ketahui.

Aku duduk di salah satu kursi. "Aku butuh informasi darimu. Kau pasti tahu tentang apa yang terjadi waktu aku dan Hyunjin masih anak-anak 'kan?"

Cheonsa dudukkan badannya di depanku. Bibirnya tersenyum miring waktu dengar ucapanku. "Aku tahu," katanya, "tapi aku tidak yakin kau sanggup tahu kebenarannya."

Keningku mengernyi heran. "Kenapa begitu?"

Cheonsa tumpu wajahnya dengan sebelah tangan. "Lucy, ada beberapa hal yang lebih baik tidak diketahui karena amat menyakitkan."

Menyakitkan? Memangnya apa yang tidak begitu di antara aku dan Hyunjin? Aku bahkan sudah tidak perduli kalau kenangan itu amat menyakitkan. Nyawaku dan Hyunjin dipertaruhkan di sini. "Katakan saja. Aku siap dengar semuanya."

Selepas aku bilang begitu, jaraknya cuma sepersekian sekon saja sebelum Cheonsa menatapku tajam, kemudian raih tanganku untuk digenggam erat. "Bersiaplah, aku bakal buka kembali ingatan lamamu."

✓ Awake | H.HyunjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang